
Happy Reading....
Mentari sudah bersiap untuk menjemput Luke ke sekolahnya, dan saat dia keluar dari restoran tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang. Wanita itu pun langsung membalikkan badannya, dan seketika mata Mentari membulat saat melihat seseorang yang kini tengah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
''Mbak Tina!'' kaget Mentari.
Dia tidak menyangka, jika Tina berada di sana. Sementara itu, Tina hanya menganggukkan kepalanya. ''Kamu ada di sini? Kamu kerja di sini?'' tanya Tina kepada Mentari dan wanita itu langsung mengangguk.
''Iya Mbak, kebetulan saya kerja di sini. Ya sudah, kalau begitu saya duluan ya Mbak, soalnya saya harus menjemput Luke, permisi.'' Mentari berjalan meninggalkan Tina, karena dia mencoba untuk menghindari wanita itu.
Entah kenapa, setiap melihat wajah Tina hati Mentari merasa sakit. Sebab walau bagaimanapun, wanita itu yang sudah mengambil kekasihnya, ayah dari putranya. Dan setiap melihat wajah Tina, Mentari selalu merasakan sesak di dadanya, sebab dia selalu ingat Luke lahir bahkan tidak ditemani oleh Ardi.
''Mentari, tunggu!'' Tina menghentikan langkah wanita itu.
''Biar aku antar ya! Kebetulan aku juga mau pulang.'' Tina mencoba menawarkan diri untuk mengantar Mentari, tapi wanita itu segera menggeleng. ''Tidak usah, Mbak. Tidak apa-apa, saya naik taksi saja,'' tolak Mentari.
''Aku mohon, untuk kali ini aja kamu jangan menolak!'' pinta Tina dengan wajah memohon. Mentari yang melihat itu pun akhirnya menganggukan kepalanya, lalu mereka berjalan ke arah mobil Tina dan pergi meninggalkan restoran itu.
Untuk beberapa saat tidak ada obrolan antara mereka, keduanya sama-sama canggung, begitu pun dengan Tina. Entah dia harus memulai dari mana.
Sejujurnya Tina ingin sekali menanyakan soal anak kecil itu, karena wajahnya begitu mirip dengan Ardi. Akan tetapi, dia takut hika Mentari akan tersinggung dengan ucapannya, tapi rasa penasaran di dalam hatinya begitu besar, sehingga Tina harus menyingkirkan dulu perasaan itu.
''Oh iya, Mentari. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?'' tanya Tina membuka pembicaraan dan Mentari hanya menganggukkan kepalanya. ''Tentu saja, Mbak. Apa yang ingin Mabak, tanyakan?'' Mentari menatap ke arah Tina.
''Di mana suamimu? Kenapa dia tidak menjemputmu?'' tanya Tina dengan alis bertaut heran.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tina, Mentari tentu saja sangat kaget. Dia terdiam untuk beberapa saat, tidak tahu apa yang harus dia jawab. Sebab Mentari sama sekali belum menikah dan mempunyai suami, akan tetapi dia tidak mau membuat Tina berpikir jika Luke lahir tanpa seorang ayah.
Walaupun sebenarnya, Ardilah ayah dari Luke, suami Tina. Namun Mentari tidak ingin membuat rumah tangga seseorang hancur, walaupun dia masih memendam perasaan yang begitu dalam kepada pria itu. Karena dia juga seorang wanita dan paham perasaan Tina.
''Suami saya sudah meninggal Mbak, saat Luke dilahirkan,'' jawab Mentari dengan gugup. Karena itu adalah kebohongan yang besar bagi dirinya.
Tina kaget saat mendengar ucapan Mentari, dia tidak menyangka jika wanita itu telah ditinggalkan oleh suaminya. ''Maafkan aku ya! Aku benar-benar tidak tahu jika suamimu telah pergi. Maaf jika aku telah membuka luka lama mu.''
Tina merasa bersalah karena sudah membuat Mentari sedih. Namun wanita yang berada di sebelahnya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum, dia tidak tahu jika sebenarnya suami Mentari tidak pernah ada.
Maafkan aku ya Allah, karena aku telah berbohong, tapi ini **s**emua kulakukan agar Mbak Tina tidak berpikir yang macam-macam. Karena walau bagaimanapun, aku ini adalah masa lalunya Kak Ardi. batin Mentari.
Sebenarnya jawaban seperti itu sudah biasa Mentari lontarkan saat Luke selalu menanyakan keberadaan ayahnya. Hingga tidak terasa mobil pun sampai di sekolahan, lalu dan Mentari langsung menghampiri putranya.
''Maafkan Mama ya sayang, jika telat. Kamu sudah lama menunggu?'' tanya Mentari sambil mencium kening Luke.
Tina berdiri tak jauh dari Mentari, dan dia tersenyum saat melihat wajah Luke yang ditekuk,.karena dia protes sebab Mentari menciumnya. Akan tetapi, Tina terus saja memperhatikan wajah anak kecil itu.
'Dia benar-benar mirip dengan Mas Ardi,' batin Tina.
kemudian Mentari pulang, tapi saat Tina akan menawarkan jika dia akan mengantar Mentari pulang, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan dia mendapat telepon dari seseorang. Wanita itu pun terpaksa pergi, padahal Ia ingin tahu di mana sekarang Mentari tinggal.
.
.
__ADS_1
Malam hari Ardi sudah pulang ke rumah, dia menghempaskan tubuhnya di sofa di depan ruang tv sambil memijat keningnya yang terasa pusing. Seharian ini dia terus saja memikirkan Mentari, hatinya bahkan merasa kesal karena gagal mengikuti taksi tadi siang yang dinaiki oleh Mentari.
Andai aku tidak kehilangan jejaknya, mungkin saja saat ini kami sedang bersama?
Tina yang melihat Ardi berada di ruang tv seketika melangkah mendekat ke arah pria itu. ''Kamu kok pulang nggak bilang sih, Mas? Aku sudah siapkan air panas buat kamu,'' ucap Tina dengan lembut.
Dia melihat wajah lesu suaminya, bahkan tidak biasanya Ardi menekuk wajahnya seperti itu biarpun dia sangat lelah dalam bekerja. Dahi wanita itu pun mengkerut heran. ''Kamu kenapa, Mas? Apa ada masalah? Kok tumben wajahnya kayak lesu gitu?'' tanya Tina dengan tatapan bingung.
''Mau tau aja kamu urusan orang!'' hardik Ardi sambil beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar.
Dia tidak mau Tina tahu jika tadi siang dia bertemu dengan Mentari, karena Ardi yakin jika istrinya. mengetahui itu pasti Tina akan merasa sakit kembali. Sudah cukup dia yang menyakiti hatinya, walaupun entah jika Tina mengetahui akan seperti apa reaksinya.
Mendengar ucapan Ardi, Tina hanya mengelus dadanya saja dengan sabar. Walaupun sebenarnya ada rasa sakit saat Ardi menjawab pertanyaannya dengan dingin. Kemudian dia berjalan ke arah meja makan untuk menyiapkan makan malam.
''Mas, makan dulu yuk!'' ajak Tina saat masuk ke dalam kamar dan melihat Ardi baru saja selesai dari ruang ganti.
''Kamu saja duluan! Aku udah kenyang,'' jawab Ardi dengan cuek sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
''Tapi Mas, aku udah masakin---''
''Kamu dengar nggak sih, apa yang aku bilang? Makan aja sendiri, nggak usah ajak-ajak aku! Bandel banget kalau dibilangin!'' bentak Ardi sambil membanting pintu ruang kerjanya.
Tina terjingkat kaget saat pria itu membanting keras pintu yang ada di dalam kamar, air matanya lagi-lagi kembali lolos. Namun secepat kilat Tina langsung menghapusnya sambil menggelengkan kepala.
''Tidak Tina! Kamu harus kuat, jangan lemah! Jangan lemah, Tina!'' monolog Tina dengan suara yang Lirih sambil menghapus air matanya. Namun dia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, kemudian wanita itu segera mengusapnya dengan tangan.
__ADS_1
Tidak Tuhan! Jangan dulu. Aku mohon, Tuhan. Aku ingin bahagia terlebih dulu.
BERSAMBUNG.....