
Happy reading......
Anggi dan juga Rika menatap satu sama lain, saat melihat jika Aurora tidak kembali. Padahal sudah 10 menit gadis itu pergi.
"Tumben sih dia ke toilet lama banget kayak Nyonya Ratu? Kita samperin yuk!" ajak Anggi.
"Enggak ah, gue nunggu di sini aja. Lo sana samperin jangan-jangan dia ketiduran lagi di toilet," jawab Rika.
Setelah itu Anggi pun berjalan ke arah toilet. Namun saat sampai di sana, ternyata pintunya terkunci. Tidak biasanya pintu toilet itu tertutup.
"Apa dia ke toilet yang lain ya?" gumam Anggi. Namun saat dia hendak meninggalkan toilet tersebut, terdengar suara dari dalam yang meminta tolong.
"Tolong! Siapapun itu, keluarkan aku dari sini! Anggi ... Rika ... tolong aku!" teriak Aurora dari dalam.
Dia merasakan dadanya mulai sesak, karena Aurora takut akan kegelapan. Dia mempunyai trauma tersendiri dengan suasana gelap.
"Tunggu dulu, bukannya itu suaranya Aurora? Masa dia ada di dalam sih?" bingung Anggi, kemudian dia mengetuk pintu toilet tersebut dan memanggil sahabatnya.
"Aurora, apa lo ada di dalam?!" teriak Anggi dari luar.
Mendengar nama sahabatnya, Aurora pun berteriak, "Anggi, tolong gue! Buka pintunya, Nggi. Gue takut!" teriak Aurora, padahal saat ini kepalanya sudah terasa begitu pusing.
Anggi yang mendengar itu pun segera berlari ke arah teman-temannya dengan nafas terengah-engah. Rika yang melihat itu pun merasa heran, " Lo kenapa? Habis dikejar-kejar setan?" tanya Rika.
"Itu, Aurora dikunci di toilet. Ayo tolongin dia!" panik Anggi.
Kevin yang mendengar itu pun segera berlari ke arah toilet, dan benar saja pintu toilet tersebut terkunci. Kemudian Kevin langsung mendobraknya, setelah pintu terbuka suasana di sana begitu gelap, Kevin yang melihat itu pun segera menyalakan lampu.
Dan beberapa anak kampus yang akan mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Aurora, juga masuk ke dalam toilet, dan mereka melihat ada satu pintu yang ditahan oleh pel-an.
Kevin yang melihat itu pun segera mengambil benda tersebut, dan langsung membuka pintunya, di mana saat ini Aurora tengah terduduk sambil menggigil ketakutan.
"Aurora!" panik Kevin.
Aurora yang melihat Kevin datang segera memeluk tubuh pria itu. Dia benar-benar sangat ketakutan. "Aku takut Vin, aku takut," ucap Aurora.
__ADS_1
"Tenanglah, aku ada di sini. Kau jangan takut ya," ujar Kevin menenangkan Aurora. Kemudian dia menggendong tubuh gadis itu keluar dari toilet dan mendudukkannya di salah satu kursi.
"Ini, minum dulu," ucap Anggi menyodorkan air kepada Aurora, dan gadis itu pun mulai meminumnya.
Sementara Kevin duduk di dekat Aurora. Dia terus menenangkan wanita itu, karena terlihat jelas Aurora begitu sangat ketakutan, dan keringat pun sudah membasahi wajahnya.
"Kenapa lo bisa terkunci di toilet sih? Terus lampunya juga dimatiin? Apa ada yang ngunciin lo di sana?" tanya Rika dengan heran.
"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba saja lampunya mati, terus pas aku mau keluar dari toilet, pintunya nggak bisa dibuka. Aku benar-benar ketakutan. Aku takut gelap," jawab Aurora.
"Gue yakin deh, ada yang ngunciin lo di toilet. Tapi kira-kira siapa? Atau jangan-jangan, si nenek lampir itu lagi!" seru Anggi.
"Nenek lampir? Nenek lampir siapa?" timpal temannya yang lain.
"Iya siapa lagi, kalau bukan Novi and the geng. m
Mereka 'kan yang paling gak suka sama Aurora? Awas aja kalau sampai mereka bener di balik semua ini, habis di tangan gue!" geram Anggi.
"Sudah sudah, nggak usah dibahas. Nanti biar aku cek aja lewat CCTV kampus." Aurora berkata dengan nada yang sedikit lesu, karena kejadian yang baru saja menimpanya.
"Iya, kita lanjut aja. Aku udah lebih baik kok," jawab Aurora.
"Apa kamu yakin? Tidak sebaiknya kamu pulang aja." Kevin terlihat begitu khawatir saat melihat keadaan Aurora.
"Aku baik-baik aja kok, Vin. Sebaiknya kita berangkat sekarang yuk! Keburu sore juga," ajak Aurora kemudian dia bangkit.
Namun Kevin terus menggandeng Aurora, dia takut gadis itu kenapa-napa. Bahkan Anggi dan juga Rika pun hanya menatap satu sama lain sambil tersenyum. Walaupun mereka juga mengidolakan Kevin, tetapi melihat kebersamaan sahabatnya dengan pria itu mereka ikhlas.
Kevin dan Aurora memang sangat serasi. Aurora juga baru ini dekat dengan pria, biasanya dia tidak pernah sedekat Itu, bahkan dengan Vano pun.
Namun, saat Aurora akan menaiki motor Kevin, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Vano.
"Aurora, kamu mau ke mana? Kenapa bersama dengan dia?" tanya Vano dengan tak suka saat menatap ke arah Kevin.
"Kita mau tugas kelompok, Van, duluan ya," ucap Aurora tanpa mau berdebat dengan Vano.
__ADS_1
Mendengar itu Vano merasa geram, karena melihat kedekatan keduanya. Vano sudah menyimpan rasa sejak lama kepada Aurora, tapi wanita itu sangat susah untuk didekati.
Berbagai cara sudah Vano lakukan, dari mulai hal romantis sampai yang berlebihan pun sudah dia kerjakan. Akan tetapi, tetap saja, tidak bisa meluluhkan hati primadona kampus itu.
Perasaannya kepada Aurora bukan hanya sekedar ambisi saja, karena Aurora anak pemilik dari kampus tersebut, tetapi karena dia memang suka kepada Aurora, sebab wanita itu sangat cantik.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Luke baru saja selesai latihan basket. Dan dia berencana akan pulang, tapi tiba-tiba saja saat melewati sebuah lorong, Luke melihat jika Amanda sedang di-bully oleh tiga orang wanita yang tak lain adalah Nisa.
"Tolong kembalikan kacamataku!" pinta Amanda.
"Hahaha ... dasar cewek udik! Kutu buku!" ledek Nisa sambil melempar buku yang ada di tangan Amanda, hingga berserakan di lantai. Kemudian dia membanting kacamata gadis tersebut dan mendorong tubuhnya.
"Makanya, jangan jadi cewek itu jangan culun," ucap teman Nisa. Setelah itu mereka meninggalkan Amanda di sana.
Luke yang melihat itu pun merasa tak tega, kemudian dia berjalan ke arah Amanda dan membantu gadis itu untuk membereskan buku-bukunya.
Amanda melirik ke arah samping, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Luke, pria yang digilai banyak siswi di sekolah, tengah membantu dirinya. Gadis itu pun langsung memakai kacamatanya kembali
"Terima kasih ya, kamu sudah membantuku," ucap Amanda.
"Sama-sama," jawab Luke dengan datar.
Terlihat hujan mengguyur dengan deras. Padahal tadi cuaca memang tidak terlalu cerah, namun Luke tidak menyangka, jika hujan akan turun secepat itu. Amanda yang melihat itu pun menghela napasnya dengan panjang.
"Ya ampun, kenapa harus hujan sekarang?" keluh Amanda.
"Emangnya kenapa kalau hujan, ada yang salah?" tanya Luke yang ternyata masih berada di sana.
Amanda pikir Luke sudah pergi. "Tidak salah sih, cuma kalau hujan seperti ini, gimana aku mau ke tempat jualan ibuku?" keluh Amanda.
BERSAMBUNG......
__ADS_1