
Happy reading.....
Mentari melihat Ardi keluar dari kamar mandi, tetapi dia tidak mengatakan apapun. Wanita itu hanya tersenyum tipis, berpikir jika kalung yang berada di jas Ardi adalah miliknya.
Namun hingga pagi tiba, Ardi sama sekali tidak mengatakan apapun. Bahkan saat mereka berada di meja makan, pria itu seperti biasanya, bersikap romantis kepada Mentari, tetapi tidak membahas soal kalung itu.
Kenapa Mas Ardi tidak membahas kalung itu ya? Apa dia ingin memberi kejutan buat aku? Tapi, 'kan ulang tahunku juga masih lama, masih 2 bulan lagi? batin Mentari bertanya-tanya.
Akan tetapi, Mentari mencoba untuk berpikir positif saja. Mungkin, memang Ardi ingin memberikannya kejutan, walaupun ulang tahunnya masih sangat lama.
''Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya,'' ucap Ardi sambil mencium kening Mentari.
''Lho, Mas, ini masih sangat pagi. Biasanya kamu tidak pernah berangkat jam segini?'' heran Mentari saat melihat jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Biasanya Ardi akan berangkat jam 08.00, tetapi pria itu malah berangkat sepagi ini. Namun, Mentari tidak ingin berprasangka buruk. Mungkin saja, memang Ardi sedang ada kesibukan yang lain.
''Iya, soalnya masih ada meeting yang harus aku hadiri pagi-pagi sekali,'' bohong Ardi.
Padahal Ardi akan ke rumah Tina. Dia akan menyerahkan surat cerai mereka, karena setelah semalaman Ardi bergelut dengan pikirannya, dia memutuskan untuk tetap bercerai dengan istri pertamanya tersebut.
Ardi pergi meninggalkan rumah menuju kediaman om Wira. Dia akan menemui Tina dan akan berbicara dengan wanita itu dari hati ke hati. Di tangannya dia menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah.
Kotak itu, yang ditemukan oleh Mentari tadi malam di saku jas miliknya. Ardi tersenyum sambil melihat kotak yang berada di tangannya saat ini. Dia berharap, jika Tina nanti akan menerimanya dan memakainya.
''Semoga saja Tina suka dengan kalungnya,'' gumam Ardi dengan lirih.
Dia memang membelikan kalung itu spesial untuk Tina, karena Ardi pikir, selama ini dia tidak pernah memberikan apapun kepada istrinya selain rasa sakit. Jadi sebelum mereka berpisah, setidaknya Ardi ingin memberikan kenang-kenangan kepada Tina.
Saat mobil sudah sampai di kediamannya om Wira. Ardi turun, dia mengetuk pintu dan tak lama pelayan membukakannya, kemudian menyuruh Ardi masuk dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
''Maaf Nyonya, Tuan, di depan ada tamu, namanya Tuan Ardi. Beliau ingin bertemu dengan Mbak Tina,'' ucap pelayan tersebut saat berada di meja makan.
Memang saat ini om Wira, tante Imelda dan juga Tina sedang berada di meja makan untuk sarapan pagi. Mereka bertiga kaget saat mendengar jika Ardi berada di sana.
''Untuk apa ya, Ardi menemui kamu?'' tanya tante Imelda kepada Tina. Wanita itu pun hanya mengangkat bahunya saja.
''Tolong buatkan teh hangat ya, Bi!'' titah Tina kepada pelayan tersebut, kemudian dia beranjak dari duduknya.
''Mah, Pah, aku temuin mas Ardi dulu ya. Mungkin memang ada yang ingin dia bicarakan? Sekalian aku juga mau menanyakan soal perceraian dengannya,'' ujar Tina.
Tante Linda ingin mencegah, tapi om Wira segera menggenggam tangannya sambil menggelengkan kepala. Dia memberitahu istrinya, membiarkan Tina untuk berbicara dari hati ke hati bersama dengan Ardi.
''Biarkan saja, Mah. Mereka 'kan sudah sama-sama dewasa dan menyelesaikan masalah harus dengan kepala dingin. Kita sebagai orang-tua, hanya mendukung keputusan mereka saja,'' jelas Om Wira dengan bijak, saat melihat Tina sudah meninggalkan meja makan.
Tante Imelda pun mengangguk paham, kemudian dia melanjutkan makannya.
Tina melihat punggung Ardi yang sedang duduk membelakanginya. Sejenak dia memejamkan mata sambil menarik napasnya dengan dalam, kemudian berjalan mendekat ke arah ruang tamu dan duduk berseberangan dengan Ardi.
*Ke*napa aku baru sadar ya, kalau Tina begitu sangat cantik? batin Ardi.
Lo selama ini kemana aja, Parjo?ππ€£Baru nyadar dia.
Tina melihat ke arah Ardi yang terus saja memperhatikan dirinya tanpa berkedip, dan itu membuatnya sama sekali tidak nyaman.
''Maaf Mas, ada apa ya kamu ke sini?'' tanya Tina menyadarkan lamunan Ardi.
Pria itu tersentak dari lamunannya, kemudian dia menatap Tina sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. ''Aku ke sini, karena ada yang ingin dibicarakan penting sama kamu,'' jawab Ardi.
Kemudian Ardi mendekat dan duduk di sebelah Tina, dan wanita itu hanya diam saja. Tina rasa, tidak ada salahnya Ardi duduk di sebelahnya. Sebab mereka masih ada hubungan suami istri.
__ADS_1
Ardi memberanikan diri untuk memegang tangan Tina, dan wanita itu lagi-lagi hanya diam saja. Melihat tidak ada reaksi dari Tina, Ardi yakin, jika wanita itu masih mencintainya.
''Sebenarnya, aku ke sini karena ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Apa kamu yakin, ingin bercerai dariku?'' tanya Ardi.
Tina menarik tangannya dari genggaman Ardi, kemudian dia menggeser tubuhnya, menjaga jarak dengan pria itu. Lalu menatap Ardi dengan serius dan menganggukan kepalanya dengan mantap.
''Iya Mas, aku serius ingin bercerai dari kamu. Lagi pula, untuk apa kita bersama, jika hati kamu saja untuk Mentari? Aku ingin bahagia, Mas, disisa hidupku,'' jawab Tina sambil menatap ke arah lain.
Ardi menghela napasnya saat mendengar jawaban wanita itu. Dia tidak bisa memaksa Tina, jika memang itu keinginannya. Kemudian Ardi mengeluarkan kotak merah di dalam saku jasnya, lalu menaruhnya di tangan Tina.
''Ini apa, Mas?'' tanya Tina dengan tatapan heran.
''Selama lima tahun, aku tidak pernah memberikanmu apa-apa, selain rasa sakit. Maka tolong, terimalah ini untuk sebuah kenang-kenangan! Jangan anggap ini kenang-kenangan dari seorang suami untuk istrinyax tapi anggaplah ini dari sahabat,'' jawab Ardi.
Tina membuka kotak tersebut, matanya terbelalak kaget saat melihat kalung yang begitu indah. Kemudian dia menatap ke arah Ardi yang tengah tersenyum kepadanya.
Belum selesai rasa kaget itu, Ardi kembali menyerahkan sesuatu kepada Tina, dan itu adalah sebuah amplop tentang perceraian mereka.
''Ini apa?'' tanya Tina kembali.
''Itu adalah surat perceraian kita, datanglah minggu depan! Sidang pertama kita sudah dimulai,'' jawab Ardi. Kemudian dia bangkit dari duduknya.
''Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?'' pinta Ardi, dan Tina yang mendengar itu segera mengangguk, kemudian mereka pun berpelukan.
Setelah itu, Ardi pun pergi dari kediaman om Wira dengan rasa sakit di hatinya. Sementara Tina memeluk kalung yang diberikan oleh Ardi. Air mata yang sejak tadi ditahannya, seketika jatuh mengalir deras.
Masih sangat terasa jelas pelukan hangat Ardi. Pria itu selama lima tahun tidak pernah memeluknya, dan baru kali ini mereka berpelukan, tetapi pelukan perpisahan.
Semoga ini jalan yang terbaik ya Allah batin Tina sambil memeluk surat perceraiannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....