
Happy Reading....
Satu minggu telah berlalu setelah kejadian di mana Ardi menemukan Mentari. Dia terus menyuruh anak buahnya untuk mencari di sekitaran Jakarta. Akan tetapi, pria itu masih belum menemukan di mana keberadaan pujaan hatinya.
Harapan besar tentu saja menyelimuti hidup Ardi, karena dia yakin kalau mereka akan dipersatukan kembali. Selama satu minggu itu pula, Ardi semakin jarang pulang ke rumah, karena dia fokus mencari Mentari. Dan setiap pulang kerja pria itu selalu ke apartemen.
Dia ingin menghindari Tina, karena kalau sampai Tina tahu jika dia tengah mencari Mentari, pasti wanita itu akan bertambah sakit. Akan tetapi, Ardi tidak bisa membohongi perasaannya jika dia memang sangat benar-benar mencintai wanita itu.
''Malam ini, mas Ardi pasti tidak pulang lagi. Entah kenapa selama satu minggu dia sangat berubah? Biasanya walaupun mas Ardi terkesan dingin dan cuek, dia akan tetap pulang ke sini. Sebaiknya aku apartemennya saja,'' gumam Tina sambil bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Ardi.
Setelah semuanya siap, wanita itu pun melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih ramai, karena jam menunjukkan pukul 19.00 malam. Sesampainya di depan apartemen, Tina turun dan masuk ke dalam lift menuju lantai atas di mana kamar suaminya berada.
Tina yang sudah mengetahui pin apartemen Ardi langsung menekannya, dan ternyata benar pria itu belum menggantinya. Kemudian dia masuk ke dalam, tetapi saat Tina melewati dapur dia mendengar suara seseorang.
Itu 'kan suara mas Ardi? Dia lagi ngobrol sama siapa ya?
Kakinya melangkah menuju dapur, dan saat dia sampai di sana Tina terpaku saat mendengar ucapan Ardi. Darahnya seakan berhenti mengalir, tubuhnya seakan tidak bertulang sama sekali. Jantungnya bahkan sudah berdetak dengan kencang.
''Pokoknya aku nggak mau tahu ya, Den! Kamu cari dia sampai ketemu! Karena aku sangat yakin, kemarin melihatnya dengan jelas.'' titah Ardi kepada Deni sambil meminum kopinya.
__ADS_1
''Baik Pak, nanti saya akan mencoba untuk mencari Nona Mentari kembali. Kalau begitu saya permisi dulu Pak,'' ucap Deni sambil beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Akan tetapi, langkah pria itu terhenti saat melihat Tina yang sedang berdiri tak jauh darinya. ''Bu Tina!'' kaget Deni dengan suara yang masih terdengar oleh Ardi.
Tatapan Ardi seketika mengarah ke samping, dan dia melihat tidak jauh darinya ada Tina yang sedang berdiri dengan wajah terpaku menatap ke arahnya tanpa berkedip. Seketika rasa bersalah hinggap di hati Ardi, dia tidak menyangka jika wanita itu ada di sana.
''Tina,'' ucap Ardi dengan lirih. Kemudian dia bangkit dan berjalan ke arah Tina.
Melihat suaminya berjalan ke arahnya, membuat Tina semakin merasakan sesak di dada. Dia tidak menyangka jika Ardi sudah bertemu dengan Mentari, bahkan pria itu menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan wanita yang selama ini bersemayam di dalam hatinya.
Dengan sekuat tenaga Tina menahan rasa sesak dqn hancur di dalam dirinya saat ini. Dia mencoba untuk kuat di hadapan Ardi, dia tidak ingin terlihat lemah. Kemudian dengan sisa tenaga,.Tina mengembangkan senyuman kepada pria itu, walaupun sebenarnya dia ingin sekali berteriak dan menangis.
''Kamu ngapain ke sini? Kenapa tidak ketuk pintu dulu?'' tanya Ardi dengan nada tidak suka kepada Tina.
''Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir! Sebaiknya kamu mau pulang, ini sudah malam!'' Ardi mencoba untuk mengusir Tina, karena melihat kedua netra istrinya membuat Ardi merasakan rasa bersalah yang begitu dalam.
''Baiklah, aku akan pulang. Setidaknya aku tenang melihat kamu baik-baik saja,'' ucap Tina sambil membalikkan badannya. Sementara itu Deni sudah keluar dari apartemen Ardi, dia tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga bosnya.
Akan tetapi, saat Tina akan meninggalkan meja makan tiba-tiba langkahnya terhenti, kemudian dia berkata, ''Aku senang, kamu sudah menemukan Mentari. Setidaknya wanita itu bisa membuat kamu bahagia, Mas. Karena selama ini kamu bersamaku selalu tertekan. Semoga kamu bisa menemukannya ya, dan kalian bisa hidup bersama.''
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Tina pun berjalan cepat ke arah pintu dan keluar dari apartemen Ardi dengan luka yang begitu di dalam di hatinya. Sejujurnya dia tidak kuat untuk mengatakan itu, bahkan suaranya pun seperti tertahan.
Ardi terpaku mendengar ucapan Tina. Ada rasa bersalah yang begitu dalam di hatinya, saat mendengar perkataan wanita itu. Sejujurnya Ardi mengusir Tina bukan karena dia tega, tetapi karena Ardi tidak ingin semakin menyakiti hati wanita itu.
Dia memang sengaja tidak pulang ke rumah dan membicarakan perihal Mentari di apartemennya. Akan tetapi, Ardi lupa jika Tina mengetahui pin apartemen miliknya, dan dia belum menggantinya sama sekali.
''Pasti Tina terluka dengan ucapan dan perkataanku, tadi? Namun, aku tidak bisa untuk membohongi perasaanku sendiri. Ya Tuhan! Aku harus bagaimana?'' Ardi menjambak rambutnya sendiri, dia terlihat frustasi.
Sementara itu, Tina turun menaiki lift dengan langkah yang gontai. Sesampainya di lobby dia langsung berlari dengan cepat masuk ke dalam mobil, kemudian menangis tersedu-sedu sambil meremas dadanya yang terasa begitu sakit dan sesak.
''Kenapa, ya Allah? Kenapa kau berikan perasaan ini kembali di hatiku? Aku pernah kehilangannya pertama kalix dan kau malah mengambil kekasihku lagi untuk kedua kalinyax lalu sekarang kau munculkan perasaan ini, tapi kau sakiti lagi? Apa yang sebenarnya ingin kau berikan kepadaku, ya Robb? APA!'' teriak Tina sambil memukul setir beberapa kali.
Istri mana yang tidak akan merasa hancur dan sakit saat mendengar dan melihat secara langsung, bagaimana suaminya menyuruh orang untuk mencari wanita lain. Sedangkan istrinya saja tidak pernah diperhatikan, tidak pernah dihargai bahkan dicintai.
''Kenapa rasanya begitu sakit, ya Allah?'' Tina terus aja menangis dengan nada tersedu-sedu. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk bertemu dengan Ardi.
Kemudian satu tetes cairan jatuh ke atas paha milik wanita itu, dan seketika Tina mengusapnya. Lagi-lagi dadanya terasa begitu sesak saat melihat cairan merah yang keluar dari hidungnya.
''Jika kau mau mengambil ku, maka ambillah aku, ya Allah! Aku tidak ingin merasakan sakit ini. Kenapa tidak pernah ada kebahagiaan yang datang kepadaku? Kenapa hanya ada penderitaan? KENAPA!'' Tina lagi-lagi berteriak, dia bahkan tidak menghiraukan cairan merah itu yang terus mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
Kepalanya terasa begitu sakit kemudian dia mengambil obat di dalam tas lalu minumnya. Setelah beberapa saat Tina merasa tenang dia pun kembali ke rumah dengan membawa luka yang menganga lebar, bahkan dia tidak yakin jika luka itu bisa disembuhkan walau dengan kata cinta.
BERSAMBUNG......