Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Tugas Dari Bu Nur


__ADS_3

Happy reading.....


Hari sudah malam, dan Jam menunjukkan pukul 10.00. Namun Ardi belum juga pulang. Tina menunggu di ruang tamu sambil mondar-mandir dengan perasaan cemas, sebab tidak biasanya Ardi pulang selarut itu.


Tepat jam 11.00 malam, deru mesin mobil terdengar di luar rumah, dan Tina langsung beranjak dari duduknya berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia melihat wajah Ardi yang begitu lesu dan juga letih.


''Kenapa, kamu jam segini baru pulang?'' tanya Tina sambil mengambil tas kerja dari tangan Ardi dan membawanya, lalu mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam kamar.


''Banyak kerjaan,'' jawab Ardi dengan dingin sambil menaiki tangga.


Setelah sampai di dalam kamar, Ardi langsung membuka kemejanya. Menampilkan otot-otot tubuhnya yang kekar, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tina menghela nafasnya saat melihat sikap dingin Ardi. Dia sudah terbiasa, bahkan sifat Ardi menjadi makanan sehari-hari bagi Tina. Walaupun sejujurnya dia sangat sakit karena Ardi selalu mengacuhkan dirinya.


Tina berjalan ke arah jendela, kemudian menatap gelapnya malam dengan rintik-rintik hujan yang mulai berjatuhan dari atas langit. Tina benar-benar merenungi rumah tangganya yang tidak sehat.


Perasaan Tina kepada mantan kekasihnya, sekaligus mantan calon suaminya, yaitu Riko. Masih sangat dalam, tetapi seiring berjalannya waktu Tina mulai menerima takdir tentang pernikahannya bersama dengan Ardi. Walaupun dia sudah menduga sejak awal jika pernikahannya dan Ardi pasti tidak akan pernah mulus.


Tina berusaha mencoba untuk membuka hatinya demi Ardi. Dia ingin mempunyai keluarga yang harmonis, walaupun Tina tahu itu sangat mustahil, tetapi setidaknya dia berusaha untuk membuat suaminya jatuh cinta kepada dirinya. Karena walau bagaimanapun, Tina adalah istri sah-nya di mata hukum dan juga agama.


Tina akan memperjuangkan haknya sebagai istri, dan tidak lama pintu kamar mandi terbuka. Ardi segera melangkah ke ranjang dan mengambil baju gantinya, lalu berjalan ke dalam kamar mandi kembali tanpa menyapa Tina sedikitpun.


''Kamu sudah makan?'' tanya Tina kepada Ardi saat pria itu sudah selesai memakai baju tidurnya.


''Heemm ...'' Ardi hanya menjawab dengan gumaman saja.

__ADS_1


''Kalau kamu belum makan, aku akan siapkan makanannya. Aku akan hangatkan kembali agar kamu bisa---''


''Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah peduli kepadaku! Aku sudah makan, dan aku tidak lapar,'' jawab Ardi dengan suara yang sedikit meninggi.


Setelah mengatakan itu, Ardi berjalan keluar dari kamar untuk menuju ruang kerjanya yang berada di sebelah kamarnya. Dan dia masuk melalui pintu penghubung antara kamarnya dengan ruang kerja.


Tina mendudukan tubuhnya di atas ranjang, air matanya kembali mengalir saat mendengar ucapan Ardi yang sedikit membentaknya. Padahal Tina hanya ingin menawari dia makan malam, tetapi perhatian yang selama ini Tina berikan tidak pernah dilihat walau sedikitpun.


Ardi mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia menghembuskan tubuhnya di atas sofa dengan menengadah ke atas langit-langit kamar. Ardi sejujurnya sangat tersiksa dengan pernikahannya bersama dengan Tina, dia tidak ingin menyakiti wanita itu.


Walau bagaimanapun, Ardi dan juga Tina adalah dua orang sahabat. Mereka bersahabat sejak SMA, tapi semenjak mereka menjadi suami istri hubungan mereka menjadi renggang, tidak seakrab dulu. Bahkan terkesan kaku dan saling menjaga jarak, lebih tepatnya Ardilah yang menjaga jarak dan batasan kepada Tina.


''Sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung? Apakah aku dan Tina akan bersama selamanya? Tetapi aku akan semakin menyakitinya, aku sudah berusaha membuka hatiku, tetapi tetap tidak bisa. Aku tidak bisa mencintainya,'' ucap Ardi dengan lirih sambil memejamkan matanya.


Ardi menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia berharap jika waktu bisa diputar dan diulang, ingin sekali dia mengatakan tidak kepada Riko, saat pria itu meminta dirinya untuk menikah dengan Tina.


'Aku berharap, kita bisa bertemu lagi. Aku ingin sekali melihat wajahmu. Karena setiap malam, engkau selalu datang dalam mimpiku,' batin Ardi sambil mengusap foto Mentari yang selalu dia jadikan wallpaper di ponsel-nya sejak lima tahun yang lalu.


***********


Pagi ini Mentari sudah bersiap untuk pergi ke tempat makan, di mana dia bekerja. Dan Mentari juga tidak lupa membawa Luke bersamanya, karena tidak ada yang menjaga anak kecil itu, sehingga kemana-mana Mentari harus membawa Luke, termasuk ke tempat kerja.


''Pagi,'' ucap Mentari pada salah satu temannya yang berada di restoran.


''Pagi juga Mbak Mentari,'' jawab pelayan itu sambil menunduk dengan hormat karang Mentari.

__ADS_1


Kebetulan Mentari diangkat sebagai Manager di salah satu restoran di daerah Pemalang, karena Manager yang lama telah mengundurkan diri. Jadi Mentarilah yang menggantikan posisi itu, sebab kinerja nya sangat bagus.


''Mbak Mentari, Ibu Nur sudah menunggu Mbak Mentari di dalam,'' ucap salah satu pelayan di restoran itu kepada Mentari.


''Iya terimakasih.'' Mentari pun melangkah menuju ruangan Bu Nur, pemilik dari restoran tersebut. Dan dia sangat bingung kenapa Bu Nur memanggilnya di pagi hari seperti itu.


Setelah mengetuk pintu, Mentari pun masuk kedalam bersama dengan Luke. ''Pagi Bu, kata Nadia, Ibu memanggil saya?'' tanya Mentari sambil mengangguk kan kepalanya


''Iya, Mentari duduklah dulu,'' ucap Bu Nur mempersilakan Mentari untuk duduk di sofa.


''Begini Mentari, saya 'kan baru membuka cabang restoran di daerah Jakarta, dan belum ada yang mengurusnya sama sekali. Jadi saya ingin kamu yang mengurusnya di sana. Dan saya menugaskan kamu untuk pergi ke Jakarta, mengurus cabang restoran saya yang di berada di sana. Apa kamu mau?'' tanya Bu Nur kepada Mentari.


Wanita itu terdiam saat mendengar kata Jakarta, seketika pikirannya mengarah kepada Ardi dan juga masa lalunya bersama dengan sang nenek. Sudah lama sekali Mentari melupakan kota itu, tapi sekarang atasannya malah menyuruh Mentari untuk ke sana.


''Apa! Jakarta Bu?'' tanya Mentari dengan wajah yang kaget.


Bu Nur menganggukkan kepalanya. ''Iya, Mentari. Dan saya mau kamu yang mengurusnya! Saya belum mempunyai pengganti sama sekali. Saya mohon,'' ucap Bu Nur dengan wajah memelas.


Mentari ingin menolaknya, karena dia benar-benar ingin pergi dari kota itu. Dan sudah lima tahun ia meninggalkan kota Jakarta, tapi kenapa sekarang takdir membawa dia ke sana kembali. Akan tetapi, saat melihat wajah Bu Nur, Mentari tidak tega. Sebab selama ini Bu Nur sudah sangat banyak membantu dirinya.


''Baiklah, Bu. Kapan saya akan berangkat ke sana?''


''Besok lusa kamu sudah berangkat ke sana, diantar oleh sopir saya. Dan disana juga saya sudah menyiapkan rumah untuk kamu. Jadi, kamu tidak perlu mengontrak,'' jelas Bu Nur sambil tersenyum.


Mentari pasrah, kemudian dia pun pamit keluar dari ruangan Bu Nur dan menuju ruangannya.

__ADS_1


'Aku harap, aku tidak akan pernah bertemu dengan Kak Ardi lagi. Aku tidak ingin mengingat masa-masa yang menyakitkan bersama dengan dirinya,' batin Mentari penuh harap. Agar dia dan Ardi tidak bertemu lagi di kota yang besar itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2