
Happy reading...
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, keduanya sama-sama terdiam. Apalagi Amanda, dia merasa begitu sangat gugup, karena berada di sisi Luke. Pria yang digilai oleh banyak mahasiswi di sekolah.
Rasanya bagaikan mimpi saat Amanda bisa satu mobil bersama dengan Luke, di mana semua wanita menginginkan hal itu, tapi di sini Amandala yang beruntung.
"Kita mau ke mana? Bisa kau sebutkan alamatnya?" tanya Luke tanpa menoleh ke arah Amanda sedikitpun.
"Ke jalan bunga teratai, nanti aku turun di sana saja," jawab Amanda.
"Oke," ujar Luke dengan santai. Setelah itu mobil melaju menuju tempat di mana yang Amanda S
sebutkan tadi.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka pun sampai di Jalan Bunga Teratai, dan hujan masih rintik-rintik tidak sederas tadi.
"Terima kasih ya, sudah mengantarku pulang," ucap Amanda.
Luke menganggukan kepalanya, tapi saat dia menengok kanan dan kiri tidak ada rumah sama sekali, hanya ada beberapa penjual saja di sana. Pemuda itu pun merasa heran, kemudian dia menengok ke arah Amanda.
"Mana rumahmu? Aku lihat di sini tidak ada rumah? Biar aku antar sampai depan rumah saja. Lagi pula, di luar masih gerimis," ucap Luke.
"Tidak usah! Aku akan membantu Ibuku untuk membereskan dagangan dulu, kamu pulang saja. Terima kasih sudah mengantarku. Kalau begitu aku duluan." Setelah mengatakan itu, Amanda pun keluar dari mobil Luke.
Sementara pemuda tersebut masih saja memperhatikan kemana Amanda melangkahkan kakinya, dan ternyata dia berjalan ke salah satu pedagang asongan. Luke melihat Amanda mencium tangan seorang wanita yang seumuran dengan mamanya.
"Oh, jadi ibu dia penjual Asongan?" gumam Luke, kemudian dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
🍎🍎🍎🍎🍎
Hari-hari dilewati Aurora, dan dia semakin dekat dengan Kevin. Sebab pria itu semakin gencar mendekati Aurora. Kevin bahkan sudah mengetahui jika Aurora adalah anak pemilik dari kampus tersebut, sebab Kevin mendengar dari beberapa mahasiswa di sana.
__ADS_1
"Morning Mama, Papa," ucap Aurora sambil mengecup pipi Bunga dan juga Bagas.
"Morning juga sayang. Oh iya, nanti siang kamu mau nggak ikut sama mama untuk ke rumahnya tante Mentari? Kami nanti siang mau shopping," ujar Bunga kepada Aurora.
"Kayaknya nggak bisa deh, Mah. Soalnya nanti siang aku ada tugas sama temen-temen buat ngerjain skripsi di salah satu cafe. Mama pergi aja sama tante Mentari. Oh iya, Bunda Tina ikut nggak?" tanya Aurora.
Memang Aurora memanggil Tina dengan sebutan Bunda, sebab dia sudah menganggap wanita itu sebagai mamanya juga. Karena Aurora tahu, Tina dan juga Bunga itu bersahabat sejak mereka masih gadis.
Gadis itu pun melajukan mobilnya untuk pergi ke kampus, setelah sampai, Aurora langsung berjalan menuju kelas. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang menuju taman yang ada di samping kampus.
"Aduh, lo ngapain sih narik-narik tangan gue?" tanya Aurora dengan kesal saat melihat siapa pelakunya.
"Ada yang mau aku bicarakan," jawab Kevin.
Di menyuruh Aurora untuk duduk di kursi, akan tetapi setelah beberapa menit, Kevin masih tidak bicara. Pria itu masih terdiam karena merasa bingung.
"Aduh, lo itu mau bilang apa sih? Cepetan! Gue sebentar lagi ada kelas nih!" gerutu Aurora dengan kesal saat melihat Kevin hanya diam saja.
Aurora yang mendengar pertanyaan Kevin merasa heran. Biasanya jika orang bertanya seperti itu, dia akan mengajak keluar, entah itu dinner atau menemani ke sebuah acara.
"Memangnya kenapa? Lo mau ngajak gue dinner, atau lo mau ngajak gue sebuah acara?" tanya Aurora.
"Ternyata lo ini macam cenayang ya? Tahu aja," kekeh Kevin.
"Ya jelas tahulah, pertanyaan kayak gitu tuh pertanyaan yang ambigu, tapi mudah ditebak. Lagi pula, gue heran deh sama lo. Lo ini katanya pindahan dari Australia, tapi kenapa lo tau bahasa cenayang dan pasih banget dalam berbahasa Indonesia?" tanya Aurora.
Kevin yang mendengar pertanyaan Aurora pun terkekeh, dan itu malah membuat Aurora semakin kesal. Ditambah sebentar lagi dia akan ada kelas. Gadis itu pun bangkit dari duduknya.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Kevin saat melihat Aurora pergi meninggalkan Taman, kemudian dia pun mengejar gadis itu.
"Mau ke kelas, sebentar lagi Dosen datang. Memangnya kamu mau dihukum?" ketus Aurora.
__ADS_1
Kevin pun berjalan beriringan bersama dengan gadis itu. "Orang tuaku campuran. Ibu dari Jogja, sedangkan papah dari Australia. Aku tinggal di Indonesia selama 15 tahun, setelah lulus SMP aku sekolah di Australia, tapi karena mamaku mempunyai rumah, jadi aku ikut pulang ke Indonesia," jelas Kevin tanpa diminta oleh Aurora.
"Pantas aja bahasa Indonesiamu pasih sekali."
Mereka pun sampai di depan kelas, lalu masuk ke dalam. Seketika setiap mata yang melihat mereka berdua menatap iri, tepatnya ke arah Aurora. Karena dia bisa berjalan beriringan dengan Kevin. Padahal mereka juga bermimpi bisa meluluhkan hati pria tampan itu, tapi sepertinya Aurora sang primadona lah yang memenangkan hatinya.
"Aduh, nggak di mana-mana perasaan tiap cowok diembat deh? Ntar ujung-ujungnya juga ditolak. Emang dasar playgirl cap kakap kelas bawal?" ledek Novi.
"Heh, mulut lo dijaga. Enak aja kalau ngomong. Bilang aja sirik, karena lo nggak bisa dideketin sama Kevin 'kan? Makanya depan belakang jangan rata semua!"
Semua anak-anak yang ada di dalam kelas seketika tertawa saat mendengar ejekan dari Anggi. Kemudian Aurora pun berkata, "Sudahlah Anggi, jangan meladeni dia. Yang ada kamu nanti ribut. Biarin aja dia mau bilang apa, nggak ngaruh apapun juga sama aku," tutur Aurora sambil membuka bukunya.
Saat Novi akan menjawab, tiba-tiba saja Dosen masuk ke dalam kelas. Dia pun mengurungkan niatnya.
'Awas aja ya lo, tunggu pembalasan gue. Gue nggak akan pernah biarin Kevin jadi milik lo!' batin Novi dengan penuh dendam.
Setelah pulang dari kampus, rencananya Aurora dan beberapa teman-teman kelasnya termasuk juga Kevin akan mengerjakan tugas kelompok di salah satu Cafe. Namun, tiba-tiba saja Aurora izin ke toilet, karena dia kebelet ingin buang air kecil.
"Jangan lama-lama!" teriak Rika dan Aurora hanya mengangkat jempolnya saja ke atas.
Setelah dia sampai di toilet, tiba-tiba saja Novi and the gang datang. Mereka mengambil pel'an, lalu menghalangi gagang pintu agar tidak bisa dibuka dari dalam.
Kemudian dengan jahilnya mereka mengunci Aurora di dalam toilet, tidak lupa lampu di sana pun dimatikan sehingga gelap gulita.
"Ya ampun, ini kenapa gelap banget? Hei, siapa yang matikan lampunya?!" teriak Aurora dan saat dia akan membuka pintu, tiba-tiba saja tidak bisa.
"Astaga! Siapa yang mengunciku di sini? Tolong!" teriak Aurora, "Tolong aku!"
Dia bahkan lupa membawa tasnya, sebab tadi dititipkan kepada Rika dan juga Anggi. Wanita itu pun tidak tahu caranya bisa keluar.
"Ya ampun, siapa yang mengunciku di sini? Tolong! Tolong keluarkan saya dari sini!" teriak Aurora. Namun tidak ada yang mendengarnya, apalagi keadaan di toilet itu sangat gelap, membuat Aurora seketika menggigil ketakutan.
__ADS_1
BERSAMBUNG........