Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Harus Ku Selidiki


__ADS_3

Happy Reading......


Tante Imelda dan juga Tina langsung menuju Rumah Sakit. Apalagi dari tadi darah terus mengalir di hidung Tina, dan sesampainya di sana Tina pun langsung dirawat, tapi sebelum itu dia dilarikan ke UGD terlebih dahulu.


Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam ruang rawat inap Tina dan ternyata itu adalah mm Wira, suaminya tante Imelda. Beliau mendapatkan telepon jika Tina sudah dirawat di Rumah Sakit, dan dia pun segera ke sana untuk menengok keadaan wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya.


''Bagaimana keadaan kamu, Nak?'' tanya om Wira.


''Sudah jauh lebih baik, Om,'' jawab Tina dengan suara yang lemas.


''Jangan panggil Om, kamu 'kan sekarang sudah kami anggap sebagai putri dari keluarga kami. Jadi panggil saya papa, dan juga panggil istri saya dengan Mama. Kamu itu putri kami,'' jelas om Wira sambil mengusap kepala Tina.


Dia benar-benar sangat beruntung, karena dipertemukan dengan orang sebaik pasangan suami istri yang berada di hadapannya saat ini. Padahal Tina tidak jadi menikah dengan Riko, tapi om Wira dan juga tante Imelda begitu sangat menyayanginya.


.


.


Malam telah tiba, saat ini Tina tengah makan disuapi oleh tante Imelda. Wanita itu sedari siang terus saja di Rumah Sakit, bahkan mandi pun dia di sana. Sebab tante Imelda tidak ingin meninggalkan Tina sendirian, karena di sana juga om Wira menyediakan satu kasur lagi untuk tidur istrinya, karena ruangan itu adalah VVIP.


''Terima kasih ya Ma, sudah merawat aku di sini,'' ujar Tina sambil memegang tangan tante Imelda.

__ADS_1


''Sama-sama sayang, sekarang kamu istirahat ya, biar cepat sembuh. Ingat, kamu harus ada semangat di dalam diri untuk sembuh. Sebab kesembuhan tidak akan pernah terjadi jika kamunya tidak ada kemauan,'' jelas tante Imelda.


Tina mengangguk, kemudian dia memejamkan matanya setelah tante Imelda mencium keningnya. Dia berharap, bahwa memang ada kesembuhan untuk dirinya, tetapi jauh di dalam pikiran Tina, dia tengah memikirkan Ardi. Pasti suqminya sedang bahagia bersama dengan Mentari saat ini.


.


.


Sementara itu di kantor Bagas, dia baru saja menerima laporan dari anak buahnya jika Tina tidak pergi liburan, tetapi dia berada di Rumah Sakit. Tentu saja Bagas yang mendengar itu sangat kaget. Dia mulai memahami rencana tante Imelda yang mengatakan akan membawa Tina liburan, itu semua agar keluarga Anjasmara tidak mengetahui jika Tina saat ini tengah dirawat.


''Kasihan Tina. Jika saja Ardi mengetahui penyakitnya, tapi memang benar yang dikatakan oleh Bunga, hanya akan ada rasa kasihan. Bukan Cinta,'' gumam Bagas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Sedangkan di kediaman Anjasmara, Ardi baru saja selesai mandi. Sementara Mentari sedang duduk di tepi ranjang sambil memikirkan Tina. Dia khawatir dengan keadaan wanita itu, walaupun mungkin sekarang Tina tengah bersenang-senang.


''Sayang, kamu kenapa? Kok melamun?'' tanya Ardi saat sudah duduk di samping Mentari.


''Aku tengah mencemaskan mbak Tina. Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya,'' jawab Mentari dengan tatapan lurus.


Ardi malah terkekeh mendengar ucapan istrinya, karena dia pikir mungkin saat ini Tina tengah-tengah bersenang-senang bersama dengan tante Imelda . Jadi menurutnya kekhawatiran Mentari itu sangatlah lucu.


''Lhoo, kok kamu malah tertawa sih, Mas? Emangnya ucapanku ada yang lucu?'' tanya Mentari dengan heran.

__ADS_1


''Ya jelas aja lucu dong, sayang. Tina 'kan sekarang lagi di Bali, sedang bersenang-senang dengan tante Imelda. Lalu apa yang kamu khawatirkan? Justru saat ini mungkin dia sedang hangout atau melihat para bule tampan di sana,'' kekeh Ardi.


Mentari yang mendengar itu seketika menjadi kesal, kemudian dia beranjak dari duduknya dan menatap ke arah Ardi dengan tajam. Dia tidak habis pikir, kenapa bisa Ardi berpikiran seperti itu. Padahal saat ini Tina tengah sakit keras, walaupun mungkin sebenarnya dia sedang have-fun di sana.


''Kamu itu keterlaluan sekali sih, Mas. Nggak ada khawatir-khawatirnya sama mbak Tina. Lagi pula, kenapa kamu mengizinkan dia, Mas?'' kesal Mentari.


Ardi cukup heran dengan reaksi istrinya tentang Tina, padahal pria itu hanya bergurau saja. Kemudian dia pun berdiri dan menggenggam tangan Mentari dengan lembut, lalu menatapnya.


''Kenapa kamu marah, sayang? Aku 'kan hanya bercanda. Lagi pula, bukannya bagus kalau dia kita izinkan liburan? Setidaknya biar refreshing, dan kita juga punya banyak waktu, bukan?'' Ardi kembali terkekeh dan itu semakin membuat Mentari kesal.


Wanita itu pun menghempaskan tangannya dengan kasar, kemudian dia pergi meninggalkan kamar, tapi sebelum itu Mentari menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap ke arah Ardi.


''Kamu benar-benar keterlaluan, Masm Mungkin memang mbak Tina sekarang sedang refreshing, tapi tidakkah kamu tahu keadaannya seperti apa? Bahkan tidak ada rasa cemas sama sekali di wajahmu, dan kamu malah tersenyum di atas penderitaannya,'' ujar Mentari dengan wajah yang sedih.


Walaupun dia madunya Tina, tetapi tetap saja, Mentari adalah seorang perempuan yang mengerti tentang perasaan Tina. Dia tidak mungkin tersenyum di atas penderitaan orang lain, apalagi dia mengetahui tentang penyakit Tina.


Ardi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia benar-benar pusing dengan sikap Mentari yang seakan memojokkan dirinya, jika dia salah. Namun, Ardi pun tidak tahu apa maksud dari ucapan wanita itu.


''Sebenarnya ada apa sih, dengan keadaan Tina? Kenapa aku merasa selalu di pojokan? Huuf ... benar-benar harus kuselidiki!'' geram Ardi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2