Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Makan Malam


__ADS_3

Happy reading......


Pagi hari semua sudah kumpul di meja makan, tapi Ardi terlihat banyak diam. Dia sebenarnya sedang memikirkan cara dan mengumpulkan kata-kata untuk berbicara kepada kedua orang tuanya perihal Mentari dan juga Luke.


Setelah sarapan selesai, Ardi mengajak Tina untuk masuk ke kamar dulu, sebab ada yang ingin dibicarakan sebelum dia berangkat ke kantor. Wanita itu tengah duduk di tepi ranjang, sedangkan Ardi berdiri membelakanginya.


''Aku ingin berbicara soal Mentari, dengan kamu,'' ucap Ardi.


''Apa yang ingin kamu bicarakan?'' jawab Tina.


Ardi menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dia menghembuskannya lewat mulut. Sedangkan tidak hanya diam saja menunggu apa yang akan disampaikan oleh suaminya. Sebab dia tahu, itu sangatlah penting, karena terlihat jelas dari wajah Ardi yang begitu serius.


''Aku sudah pikirkan ini baik-baik. Lagi pula, kamu juga sudah menyetujuinya, bukan? Aku akan menikahi Mentari,'' ujar Ardi pada akhirnya.


Tina memejamkan matanya sambil menundukkan kepala. Rasanya jantung Tina bagaikan dihantam batu besar saat mendengar perkataan suaminya. Namun dia mencoba untuk tegar, walaupun rasa sakit itu tidak bisa diobati oleh apapun.


Tina tahu hal ini pasti akan terjadi, tidak mungkin Ardi membiarkan Mentari dan Luke begitu saja. Sebab walau bagaimanapun, dia adalah Ayah biologis dari Luke, dan pasti Ardi akan bertanggung jawab terhadap mereka.


Jangan menangis, Tina! Jangan menangis! Ini adalah yang kamu mau, bukan? Ikhlas Tin, kamu harus rela.


Wanita itu mencoba untuk menguatkan hatinya, dia benar-benar harus menjadi wanita yang tangguh disisa hidupnya. Dia tidak boleh lemah, apalagi saat nanti Mentari menjadi madunya.


''Iya Mas, aku setuju. Walau bagaimanapun, Luke itu butuh sosok Ayah, bukan? Dia pasti sangat merindukanmu. Dan kamu tenang saja, Mas! Aku akan membantu kamu untuk berbicara sama mama dan papa,'' jawab Tina sambil tersenyum dengan suara yang tenang.


Namun siapa sangka, saat ini hatinya sedang bergemuruh sakit, tapi dia sangat pandai menyembunyikan luka yang begitu menganga lebar dan dalam dari semua orang. Sehingga yang dilihat hanyalah sebuah ketenangan dan kebahagiaan, nyatanya hanya ada kepahitan dan penderitaan.


Ardi membalik badannya saat mendengar jawaban Tina. Dia menatap lekat ke arah wanita itu. Tidak disangka, selama ini wanita yang disakitinya bahkan tidak pernah dicintainya, begitu peduli kepadanya. Bahkan rela mengorbankan perasaan hanya demi bersatunya dia dan Mentari.

__ADS_1


Kenapa sekarang aku merasa menjadi pria yang egois, ya? batin Ardi


''Apa kamu yakin, ingin membantuku untuk berbicara kepada mama dan papa?'' tanya Ardi, dan Tina langsung mengangguk dengan mantap.


Akhirnya Ardi pun hanya bisa pasrah. ''Nanti malam Mentari dan juga Luke akan datang ke sini. Kamu harus membantuku untuk menjelaskan kepada mama dan papa,'' ujar Ardi, dan Tina lagi-lagi hanya mengangguk sambil tersenyum.


Wanita itu tidak sanggup untuk menjawab, sebab dapat di pastikan. Sekali saja Tina membuka mulutnya, dia akan langsung menangis pilu.


Setelah mengatakan itu, Ardi keluar dari kamar untuk pergi ke kantornya. Sedangkan Tina, saat pintu kamar tertutup, tubuhnya langsung merosot di tepi ranjang. Air mata yang sejak tadi ditahannya saat ini lolos juga, bahkan tubuh wanita itu bergetar menahan perih yang menyelimuti hatinya.


Bunga yang sedang mengajak main Arjuna di ruang tamu, seketika melihat Ardi keluar dari rumah. Kemudian dia berjalan ke arah kamar sahabatnya, karena saat ini bunga sangat yakin jika Tina sedang menangis.


Benar saja, saat wanita itu masuk dia melihat Tina sedang duduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian Bunga langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya dengan erat. Dia bisa merasakan sakit yang di rasakan oleh Tina saat ini.


''Tenanglah! Di sini ada aku. Menangislah sepuas kamu, hingga beban di dalam hati kamu sedikit berkurang,'' ucap Bunga sambil menitikan air matanya.


Setelah beberapa saat, tangis Tina pun mereda. Namun Bunga melihat darah yang keluar dari hidung sahabatnya, kemudian dia segera mengambil tisu dan mengelapnya dengan wajah yang panik.


''Hidung kamu berdarah, Tina. Kita ke Rumah Sakit ya!'' ajak Bunga.


Namun Tina segera menggeleng. ''Tidak usah! Ini sudah biasa kok,'' jawab Tina. Kemudian dia menatap ke arah Bunga. ''Aku mau minta bantuan kamu.''


''Bantuan apa?'' tanya Bunga dengan alis bertaut heran.


Kemudian Tina menjelaskan tentang rencana nanti malam, di mana Mentari dan Luke akan datang, dan di sana juga Ardi akan memberitahukan tentang siapa Luke sebenarnya. Lalu Tina akan membantu menjelaskan kepada mama dan papa, tentang identitas anak itu.


Bunga sempat terkejut saat mendengar penjelasan Tina, jika Ardi akan menikahi wanita itu. Namun dia paham posisi Ardi, karena walau bagaimanapun Luke pasti membutuhkan sosok seorang ayah, sedangkan ayah biologisnya masih hidup.

__ADS_1


''Kita lihat nanti malam, tapi sebisa mungkin aku akan membantumu,'' jawab Bunga. Kemudian dia menghela napasnya dengan kasar.


''Sejujurnya aku tidak setuju, jika Mentari dan Ardi harus bersatu di saat kamu masih menjadi istrinya. Karena aku sangat yakin, hati kamu tuh terluka, tapi semua keputusan sudah kamu ambil dan aku hanya bisa mendukung kamu,'' sambungnya lagi sambil memeluk Tina.


Bukan Bunga tidak menyukai Mentari, tapi sebagai seorang sahabat tentu saja melihat Tina sakit dan terluka itu pun dirasakan olehnya, tetapi balik lagi, semua keputusan ada pada Tina dan dia hanya bisa men-support sahabatnya saja.


.


.


Malam hari sudah tiba, saat ini jam menunjukkan pukul 19.00 malam. Mentari baru saja sampai di kediaman Anjasmara bersama dengan Luke, wanita itu membuang napasnya dengan kasar, kemudian dia mengambil napas beberapa kali untuk menetralkan degup jantungnya.


Semua keluarga juga sudah berkumpul di ruang tamu atas permintaan Ardi, dan saat ini Tina sedang duduk bersebelahan dengan Bunga. Bahkan saat ini dia memegang kuat tangan Bunga, sebab jujur saja, Tina merasa grogi karena malam ini semua orang akan mengetahui kebenarannya.


Mama Ranti, Bagas dan juga papa Randy saling melirik satu sama lain. Mereka bingung siapa tamu spesial yang disebut oleh Ardi. ''Nak, sebenarnya siapa sih tamu spesial yang kamu undang malam ini? Kok dari tadi nggak datang-datang, ya? Mama 'kan jadi penasaran,'' ucap tante Ranti dengan tidak sabar.


''Dia sudah di depan, sebentar lagi pasti akan ke sini,'' jawab Ardi.


Sejujurnya dia juga tidak jauh beda dengan Tina, jantungnya saat ini tengah berdebar dengan kencang. Karena malam ini akan menjadi malam yang sejarah, sebab mama Ranti, papa Randy dan juga Bagas akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


''Assalamualaikum,'' ucap Mentari dan Luke bersamaan saat masuk ke dalam ruang tamu.


''Waalaikumsalam,'' jawab semua orang serempak yang berada di ruang tamu.


''Mentari!'' kaget Bagas, mamanRanti dan juga papa Randy bersamaan, saat melihat Mentari datang sambil menggandeng anak kecil.


...BERSAMBUNG........

__ADS_1


__ADS_2