
Happy reading.....
Hari ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Raka dan juga om Wira. Mereka akan melakukan tes DNA di sebuah Rumah Sakit, tetapi Tina tidak ikut, sebab dia harus ke butik.
Setelah itu, mereka bertiga pun pulang, tetapi saat di parkiran, tante Imelda memegang tangan Raka. Dia masih penasaran, kenapa pria itu ingin sekali melakukan tes DNA bersama dengan mereka.
''Sebenarnya, apa yang membuat kamu ingin melakukan tes DNA dengan tante dan juga Om?'' tanya Tante Imelda.
''Entahlah, Tante, Om. Aku hanya yakin, kalian mungkin orang-tuaku,'' jawab Raka.
''Lalu, dari mana kamu mengetahui jika orang-tuamu bukanlah orang-tua kandung kamu, Nak?'' tanya Om Wira.
Raka kemudian menjelaskan di mana saat mamanya meninggal. Dia bertanya kepada sang papa, kenapa darahnya tidak sama dengan sang mama, sedangkan dia adalah putranya.
Tuan Boon-Nam pun menjelaskan kepada Raka, jika dia menemukan Raka waktu kecil saat di tepi sungai mengambang di atas Perahu, saat beliau liburan ke Indonesia.
Raka tentu saja sangat syok saat mendengar penjelasan sang papa. Dia tidak menyangka, selama ini orang-tua yang merawatnya sedari kecil, memberikannya kasih sayang dan juga cinta, ternyata mereka bukanlah orang-tua kandungnya.
Sebab, sangat kebetulan Tuan Boon-Nam dan juga sang istri memang tidak memiliki keturunan. Sebab dari Tuan Boon-Nam sendiri mandul. Jadi, dia tidak bisa membuahi sel telur milik istrinya
.
.
__ADS_1
Tina saat ini tengah duduk melamun. Dia memikirkan jika nanti tes DNA itu benar positif, jika Raka adalah putra dari keluarga om Wira, tentu saja Tina pasti akan pergi dari sana. Sebab dia merasa tak enak harus tinggal bersama dengan seorang pria yang bukan muhrimnya.
Akan tetapi, ada raut kesedihan di wajah Tina. Di mana dia teringat dengan Riko, karena seharusnya, pria itu tengah bahagia mengetahui kembarannya masih hidup, tetapi Riko hanya bisa menyaksikan di atas sana.
''Sudah lama aku tidak ke makamnya, mas Riko. Sepulang dari sini, aku akan ke sana,'' gumam Tina sambil melihat arloji di tangannya.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, dan salah satu karyawan pun masuk. ''Maaf Bu, saya mengganggu. Di luar ada pasangan suami istri yang ingin fitting baju pengantin untuk acara satu bulan lagi, Bu,'' ucap karyawan itu.
''Baiklah, terima kasih. Aku akan ke sana,'' jawab Tina.
Kemudian dia pun keluar dari ruangannya dan menghampiri klien yang saat ini tengah menunggu dirinya. Namun, saat Tina sampai di sana, matanya membulat kaget saat melihat mentari dan suaminya. Begitu pun dengan Mentari dan Ardi, mereka juga terkejut karena melihat Tina.
''Mentari! Mas Ardi!'' kaget Tina.
''Tina,'' ucap Ardi dengan lirih.
Wanita itu berjalan ke arah pasangan suami istri yang pernah singgah di dalam hidupnya. Kemudian dia menjabat tangan Mentari dan juga Ardi. Namun, dia tidak melihat Luke di sana.
''Tina, kenapa kamu ada di sini?'' tanya Ardi dengan tatapan heran.
''Kebetulan aku pemilik butik ini, Mas. Kalian apa kabar?'' tanya Tina sambil tersenyum manis.
''Alhamdulillah, kabar baik Mbak,'' jawab Mentari.
__ADS_1
Ardi cukup kaget saat mendengar jika butik itu adalah milik Tina. Dia selama ini tidak pernah tahu apa yang dimiliki oleh istrinya. Sebab Ardi terlalu cuek kepada Tina, tetapi saat mendengar jika wanita itu memiliki usaha, Ardi senang, ternyata Tina bukanlah wanita yang manja.
''Oh ya, kalian ke sini mau beli baju atau gimana?'' tanya Tina, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
''Kami ke sini karena ingin fitting baju pengantin, Mbak. Soalnya, kami mau mengadakan acara resepsi pernikahan,'' jawa Mentari sambil menundukkan kepalanya.
Dia merasa tidak enak kepada Tina, tetapi memang butik itu adalah rekomendasi dari teman mama Ranti. Dan Tina yang mendengar jika Ardi dan Mentari akan melangsungkan acara resepsi pernikahan, dia merasa ikut bahagia.
''Waah ... benarkah? Kalau begitu, aku sangat terhormat dong bisa mendesain baju untuk kamu. Kalau gitu, kita ukur dulu badannya! Aku ingin di hari acara nanti, kamu terlihat sangat cantik,'' ucap Tina dengan wajah antusias.
Memang dia belum bisa melupakan Ardi sepenuhnya, tetapi wanita itu sudah mengikhlaskan Ardi untuk Mentari. Dia sama sekali tidak mempunyai dendam pada mantan madu dan suaminya. Karena bagi Tina, disisa hidupnya dia tidak ingin membenci seseorang dan juga tidak ingin menyalahkan takdir.
Mentari dan Ardi tentu saja sangat bahagia, melihat Tina yang tidak marah kepada mereka. Walaupun Ardi tahu, ada rasa sakit yang Tina rasakan di dalam hati. Namun, wanita itu masih kuat untuk tersenyum.
''Baiklah, nanti kalau sudah jadi aku kabari. Ini buat B
Bulan depan 'kan?'' tanya Tina kepada Ardi dan Mentari.
Pasangan itu mengangguk. Setelah selesai, mereka pun pergi dari butik Tina untuk menuju restoran Mentari.
Saat mereka sedang berada di dalam mobil, tiba-tiba ponsel Ardi berdering dan ternyata itu dari asisten pribadinya yang mengatakan, jika Ardi harus segera ke kantor. Sebab di sana ada cewek yang sedang mengamuk dan ingin bertemu dengan Ardi.
''Kenapa, Mas?'' tanya Mentari saat melihat wajah bingung suaminya.
__ADS_1
''Ini sayang, katanya di kantor ada cewek yang nyari aku, ngamuk-ngamuk lagi. Kita ke kantor dulu ya!'' jawab Ardi. Kemudian Mentari pun mengangguk, lalu mobil melaju menuju kantor Ardi.
BERSAMBUNG.....