Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Tidak Masuk Akal


__ADS_3

Happy reading ......


Tina menarik nafasnya terlebih dahulu, kemudian dia menatap kearah Bunga. Lalu menceritakan semuanya, tentang bagaimana rumah tangganya bersama dengan Ardi, dan bagaimana pria itu memperlakukan dirinya.


Tidak ada yang Tina lewatkan sama sekali. Dia berbicara dengan air mata yang terus aja mengalir, dan Bunga dengan sabar menghapusnya. Sebagai seorang sahabat tentu saja dia juga merasa sakit saat mendengar cerita Tina.


Dia tidak menyangka, jika selama ini Tina menderita dengan pernikahannya. Bahkan Ardi tidak pernah menghargainya. Ternyata keromantisan yang mereka tampilkan di hadapan semua orang hanyalah sebuah kamuflase dan kebohongan belaka, hanya untuk menutupi yang sebenarnya.


''Lalu, apakah kau akan menyatukan Mentari dan juga Ardi kembali?'' tanya Bunga saat mengetahui jika Ardi telah menemukan Mentari.


''Mungkin iya, aku akan menyatukan mereka, tetapi aku bingung, bagaimana untuk membuat mereka bersatu,'' jawab tina sambil menatap lurus ke arah depan.


''Are you crazy? Bagaimana mungkin kau melakukan itu, Tina? Apa kau tidak bisa berpikir? Ardi itu suamimu, dan Mentari hanyalah masa lalunya. Kenapa kau ingin menyatukan mereka kembali? Bukannya kau ini harusnya berjuang untuk pernikahan mu, kenapa kau malah merelakan suamimu bersama dengan wanita lain?''


Bunga tahu perasaan Tina seperti apa, tapi dia sama sekali tidak habis pikir dengan sahabatnya. Bagaimana mungkin bisa, Tina merelakan Ardi untuk bersama dengan Mentari, bahkan dia berencana untuk menyatukan mereka.


Sekuat kuatnya hati wanita, setangguh-tangguhnya dia mencoba untuk tidak menangis dan tidak terluka. Tetap saja, hatinya pasti hancur saat melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Apalagi saat mengetahui suaminya masih menyimpan nama mantan kekasihnya di dalam hati.


''Kamu benar, Bunga. Aku mungkin memang sudah gila. Lalu, aku harus bagaimana? Apakah aku bisa egois? Iya, aku memang ingin egois. Aku ingin memiliki mas Ardi sepenuhnya! Aku tidak ingin membagi dengan wanita lain, tapi apa daya aku, Bunga? Mas Ardi tidak pernah mencintaiku, bahkan di hatinya tidak pernah ada namaku, walau satu kata pun.''


Tina berkata dengan nada yang tersedu-sedu, dia memukul dadanya yang terasa sesak, karena rumah tangganya benar-benar hancur. Entah harus bagaimana dan apa yang dia lakukan, tetapi melihat Ardi bahagia saja bagi Tina itu sudah cukup.

__ADS_1


Bunga sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, dia juga seorang wanita dan tahu bagaimana perasaan Tina saat ini. Kemudian dia memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.


''Kenapa kau ingin menyatukan mereka? Bahkan kau bisa untuk membuat Ardi jatuh cinta kepadamu, Tina! Kau tidak kalah cantik dengan Mentari, bahkan kalian sudah mengarungi rumah tangga selama lima tahun. Lalu apa yang membuatmu bertekad bulat untuk menyatukan mereka, berdua? Bagiku itu tidak masuk akal, Tina? Tidak masuk akal!''


Bunga benar-benar bingung dengan keputusan Tina, karena walau bagaimanapun, wanita itu bisa saja membuat Ardi jatuh cinta. Namun entah kenapa, Tina malah bersikeras untuk menyatukan Ardi dan Mentari, sementara mereka saja sudah berumah tangga selama lima tahun.


''Karena Luke,'' jawab Tina dengan lirih.


''Luke? Siapa, Luke?'' tanya Bunga dengan bingung.


Kemudian Tina pun menjelaskan kepada Bunga bagaimana dia bertemu dengan Mentari, dan siapa Luke sebenarnya. Dan Bunga yang mendengar itu tentu saja sangat kaget, bahkan kepalanya menggeleng dengan perlahan. Dia seakan tidak percaya apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.


''Lalu, apa kau berpikir itu adalah anaknya Ardi? Bagaimana mungkin bisa? Sedangkan Mentari saja bilang jika ayahnya Luke sudah meninggal, bukan? Lalu, apa yang membuatmu menarik kesimpulan seperti itu?'' bingung Bunga sambil menatap kearah Tina dengan alis bertaut heran.


''Walau begitu, ini tak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa, Mentari hamil anaknya Ardi? Sedangkan kau yang menikah dengannya?''


''Mungkin saja, mereka pernah melakukan one night, bukan?'' jelas Tina sambil menatap lurus dengan pikiran menerawang.


Bunga terdiam saat mendengar ucapan Tina, kemungkinan juga bisa Mentari dan juga Ardi melakukan one night, tapi yang membuat Bunga bingung, jika mereka melakukan hal itu dan Mentari hamil, seharusnya Ardi bisa menolak pernikahannya dengan Tina.


''Aku jadi penasaran dengan anaknya Mentari. Apakah sebegitu miripnya dia dengan Ardi? Tapi Tina, jika Mentari menolak, bagaimana? Aku sangat yakin, dia bukan wanita pelacur yang ingin merusak rumah tangga orang lain.''

__ADS_1


Bunga memang beberapa kali bertemu dengan Mentari, tapi dia sangat yakin jika wanita itu tidak memiliki sifat yang jahat. Karena jika dipikir secara logika, saat Ardi bertemu dengan Mentari, mungkin saja wanita itu sudah menggodanya, tapi dari cerita yang dia dengar dari Tina, Mentari seakan menghindari Ardi bahkan menolak untuk bertemu dengan pria itu.


''Baiklah, kita akan cari tahu nanti. Sekarang kau jangan memikirkan itu dulu! Di sini sudah ada aku. Kebetulan aku akan tinggal di sini kembali untuk beberapa waktu, karena mas Bagas harus pergi ke Jepang mengurus perusahaannya. Dan tentu saja kita akan sering bertemu dan curhat, jadi jangan pernah merasa sendiri, oke,'' jelas Bunga sambil mengusap lengan Tina


''Hah! Lo serius? Lo nggak bakalan balik lagi ke Bali?'' tanya Tina dengan wajah antusias.


''Tentu saja aku akan balik lagi ke sana, tetapi mungkin butuh waktu yang lama. Sebab masalah perusahaannya mas Bagas di Jepang itu cukup pelik,'' jelas Bunga.


Setelah mengetahui tentang prahara rumah tangga sahabatnya, Bunga keluar dari kamar Tina. Namun sebelum itu dia mencuci wajahnya dulu di kamar mandi, karena Bunga tidak ingin mama Ranti dan Bagas melihatnya menangis. Sebab Tina berpesan kepadanya untuk tidak memberitahukan tentang masalah rumah tangganya dengan Ardi kepada kedua mertuanya.


Bunga paham kenapa Tina meminta hal itu, dia juga akan mendukung keputusan sahabatnya. Karena apapun yang Tina putuskan, pasti wanita itu sudah memikirkannya secara matang.


''Sayang, kamu dari mana sih? Kok lama banget?'' tanya Bagas saat Bunga masuk ke dalam kamar.


''Habis dari kamarnya Tina, biasalah Mas, kami melepaskan rindu. Kamu seperti tidak tahu saja,'' kekeh Bunga sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas.


Dia juga tidak akan membicarakan perihal rumah tangga Tina dan Ardi kepada suaminya, karena Bunga tidak ingin nantinya Bagas malam marah kepada Ardi. Biarlah itu akan menjadi urusan Tina dan suaminya saja, sedangkan di hanya akan membantu men-support sahabatnya.


''Sayang, apa kamu tidak ingin membuat anak lagi?'' tanya Bagas ambil menaik turunkan alisnya.


''Bukannya setiap hari bikin ya, tapi 'kan benih nya belum jadi,'' jawab Bunga sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


''Kalau begitu, sebelum mandi sore kita bikin lagi yuk!'' ajak Bagas sambil menyerang tubuh Bunga, kemudian mereka pun melakukan olahraga di sore hari saat putra bungsu mereka tengah tertidur.


BERSAMBUNG......


__ADS_2