Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Sebuah Kotak


__ADS_3

Happy reading....


Sesampainya Raka di kantor, dia langsung meminta Seno untuk masuk ke dalam ruangannya dan tak lama pintu pun terketuk.


''Iya Tuan,'' ujar Seno.


''Apa benar yang kamu bilang tadi di telepon?'' tanya Raka memastikan.


Seno menganggukkan kepalanya. ''Benar Tuan. Nyonya dan juga tuan besar, baru saja kecelakaan,'' jelas Seno.


''Kalau begitu, siapkan tiket kepulanganku nanti sore!'' titah Raka kepada Seno.


Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan Raka.


Memang tadi Seno menelpon Raka, mengabarkan jika kedua orang tua Raka di Thailand habis kecelakaan. Jadi Raka pun memutuskan untuk pulang nanti sore, sebab dia mencemaskan keadaan orang tuanya.


Namun, wajah Raka seketika menjadi bingung. Entah kenapa, dia merasa berat sekali untuk meninggalkan kota Jakarta. Apalagi waktunya juga di sana tinggal satu minggu lagi, setelah itu Raka harus pergi dan kembali ke Thailand.


Dia merasa di sana sudah nyaman dengan kasih sayang yang diberikan tante Imelda dan juga om Wira. Mereka seperti menganggap Raka sebagai putranya sendiri, karena Raka juga sudah sering ke rumah mereka berdua dan melihat foto Riko.


Akan tetapi, Raka masih ragu untuk menyelidiki tentang keluarga dari om Wira. Padahal dia ingin sekali mengetahui, kenapa Riko sangat mirip dengannya.


.


.


Mentari sedang melamun di ruangannya, sedangkan Luke sedang bermain lego dengan Nana, baby-sitternya.


Wanita itu masih saja memikirkan ucapan Ardi. Di mana beberapa hari yang lalu, dia membentak dan juga memarahinya. Apalagi sekarang, Ardi mulai mendiamkannya, karena Mentari pembicarakan perihal rumah tangganya kepada Yoga.


Padahal, Mentari hanya ingin melepaskan semua unek-unek di dalam hatinya, karena tidak ada tempat bagi Mentari untuk bercerita selain kepada Yoga.

__ADS_1


Wanita itu menghela napasnya. Dia merasa bingung dengan sikap Ardi. Dulu saat Mentari masih bersamanya, Ardi tidak pernah seperti itu. Dia pria yang lemah lembut, bahkan terkesan penyabar, tapi sekarang, Mentari seperti melihat seseorang yang berbeda.


Saat dirinya tengah melamun, tiba-tiba ponselnya berdenting dan sebuah pesan dari Yoga pun masuk.


[Mentari, apa kamu ada di resto?]


Mentari tidak langsung menjawab pesan dari Yoga. Dia merasa bingung, apakah sekarang wanita itu harus menjauhi Yoga demi menjaga perasaan Ardi, atau masih harus berteman dengan Yoga.


Saat Mentari sedang melamun, tiba-tiba saja Nana mengagetkannya. ''Bu!'' panggil Nana.


''Iya Na, kenapa?'' tanya Mentari.


''Den Luke, seperti yang sudah ngantuk. Saya mau tidurkan dulu ya, Buk,'' jawab Nana. Mentari mengangguk, kemudian meminta Nana untuk menidurkan Luke di sofa.


TING!


Lagi-lagi pesan masuk dari Ardi, sebab pria itu tidak mendapatkan jawaban dari Mentari, sementara pesannya sudah dibaca oleh wanita itu.


Mau tidak mau, Mentari pun menjawab pesan Yoga. Dia tidak ingin pria itu salah sangka kepadanya.


Jari-jarinya mulai menari di atas benda pipih persegi empat tersebut.


[Aku ada di rumah kak, gak ke resto dulu.]


Mentari terpaksa berbohong kepada Yoga. Dia tidak ingin membuat Ardi semakin marah kepada dirinya, karena sekarang Mentari sadar, jika dia sudah menikah. Jadi, mau tidak mau, wanita itu pun harus menghindar dari pria lain.


Maafkan aku kak Yoga. batin Mentari.


.


.

__ADS_1


Siang telah berganti malam, saat ini Mentari tengah duduk di meja makan bersama dengan Luke dan juga Nana, tetapi tidak dengan Ardi. Pria itu masih belum menunjukkan batang hidungnya, padahal Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.


Biasanya Ardi jam 18.30 sudah stay di rumah, tetapi hari ini pria itu tidak pulang lebih cepat. Bahkan Mentari sudah coba menghubunginya, tetapi sayang, nomor Ardi tidak aktif.


''Mama, papa ke mana? Kok belum pulang-pulang?'' tanya Luke di sela-sela makannya.


Mentari terlihat bingung saat mendengar pertanyaan Luke. Dia tahu, putranya begitu menyayangi Ardi, walaupun sebenarnya Luke tidak tahu, jika Ardi adalah Ayah kandungnya.


''Papa hari ini lembur, sayang. Jadi, kamu makan duluan aja ya! Setelah itu, nanti Luke ke kamar untuk istirahat. Besok 'kan harus sekolah,'' ujar Mentari sambil mengusap kepala putranya.


Mentari tidak tega jika harus mengatakan Ardi tidak ada kabar kepada Luke. Dia tidak ingin membuat putranya sedih. Dan Luke yang benar itu, hanya menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan makannya kembali.


Sementara di kantor, Ardi sedang termenung menatap ke arah luar gedung. Di mana pemandangan kota Jakarta yang begitu indah dengan gemerlapnya lampu-lampu dari setiap bangunan dan rumah serta jalanan.


Surat perceraiannya dengan Tina sudah ada di tangan Ardi. Dia hanya perlu untuk menyerahkannya kepada wanita itu, tetapi entah kenapa, Ardi begitu berat untuk melepaskan Tina. Padahal saat ini dia tengah mengingat, bagaimana perilakunya kepada Tina dulu.


''Ya Allah, kenapa rasanya begitu berat, jika aku melepaskan Tina? Aku tahu, dia butuh kebahagiaan, dan bersamaku dia selalu menderita, tapi entah kenapa, rasanya aku tidak ikhlas ya? Apa iya, aku mulai mencintainya?'' gumam Ardi dengan lirih sambil menatap ke arah depan.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Pria itu pun akhirnya pulang ke rumah. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan ternyata lowbat, tapi Ardi tidak peduli, dia pun langsung memasukkannya ke dalam saku jas lalu pergi meninggalkan kantor.


Sesampainya di rumah, Ardi langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat rumah itu sudah sepi, mungkin saja penghuninya sudah tidur. Dengan badan yang lelah, Ardi membuka bajunya, tetapi tidak melihat Mentari sama sekali dari tadi.


Ardi pikir, mungkin saja Mentari berada di kamarnya Luke. Kemudian dia pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan badannya. Tidak lama, Mentari pun datang dan masuk ke dalam kamar.


Dia melihat kemeja dan jas di lantai, dan ternyata suaminya sudah pulang. Mentari pun mengambil jas dan juga kemeja itu, tetapi saat tangannya merogoh saku, tiba-tiba dia menggenggam sebuah kotak kecil di saku jas milik Ardi.


Dengan rasa penasaran, Mentari pun membuka kotak itu dan melihat isinya. Ternyata adalah kalung yang sangat indah.


''Ini kalung siapa? Apa mas Ardi membelikannya untukku? Indah sekali. Sebaiknya aku pura-pura nggak tahu aja deh,'' ucap Mentari dengan suara yang lirih. Kemudian dia memasukkan kembali kotak itu kembali ke dalam saku jas.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2