Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Benar-benar Wanita Hebat


__ADS_3

Happy reading......


Pagi hari Ardi dan juga Mentari bangun kesiangan, karena mereka kelelahan semalaman terus bertempur di atas ranjang. Sedangkan Luke sudah mandi bersama dengan mama Ranti, dan Tina sedang berada di meja makan untuk menyiapkan sarapan.


Setelah itu, Tina bersiap ke kamar untuk pergi ke Rumah Sakit. Saat dia berjalan melangkah ke arah taman belakang, di mana Luke saat ini sedang bermain dengan papa Randy dan juga mama Ranti, hati Tina mencelos sakit.


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua wajah mertuanya, Tina merasakan sebuah belati yang menusuk tepat mengenai jantung. Padahal selama ini dirinya ingin hamil dan mempunyai keturunan. Namun Ardi sama sekali belum pernah menyentuhnya, dan jika saja Ardi mau memberikan nafkah batin kepadanya, mungkin saat ini papa Randy dan juga mama Ranti tengah bermain bersama dengan putranya.


Dia pun tidak izin kepada mama Ranti dan juga papa Randy. Tina tidak ingin mengganggu momen mereka, kemudian dia berjalan untuk keluar rumah. Namun saat sampai di ruang tamu, dirinya berpapasan dengan Bunga.


''Kamu, mau ke mana?'' tanya Bunga.


''Aku mau ke Rumah Sakit, mau kemoterapi. Semalaman kepalaku sangat sakit, jadi aku mau ngecek keadaan aku ke sana,'' jawab Tina dengan suara yang lemah.


''Kalau begitu biar aku antar ya! Aku benar-benar khawatir dengan keadaan kamu,'' ujar Bunga.


Tina menggelengkan kepalanya. ''Tidak usah! Arjuna 'kan sebentar lagi juga akan bangun, nanti kalau dia mencari kamu, bagaimana?'' jawab Tina sambil mengusap lengan Bunga.


''Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu ya, Assalamualaikum.'' Setelah itu Tina pun keluar dari kediaman Anjasmara, untuk ke Rumah Sakit.


Dia bahkan tidak melihat Ardi dan juga Mentari keluar dari kamar. Wanita itu memaklumi, mereka adalah pengantin baru, sudah pasti Ardi melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.


*Andai saja aku berada di posisi Mentari, di mana bisa mendapatkan nafkah batin dari m*as Ardi, tapi sayang, semua itu hanyalah keinginan yang tidak akan pernah terwujud. batin Tina.


.

__ADS_1


.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Tina berkonsultasi kepada Dokter yang selama ini menangani penyakitnya.


''Bagaimana Dok, keadaan saya?'' tanya Tina.


''Melihat dari hasil pemeriksaan, sepertinya Ibu harus dirawat untuk beberapa hari di sini. Karena kami harus terus memantau, sebab kanker Ibu sudah menjalar ke seluruh tubuh,'' jelas Dokter tersebut.


Tina nampak terdiam, bagaimana mungkin dia bisa dirawat di Rumah Sakit, karena itu bisa membuat semua orang curiga akan penyakitnya.


''Apa tidak ada jalan lain, Dok?'' tanya Tina kembali. Namun Dokter tersebut langsung menggelengkan kepalanya.


''Sya sarankan paling lambat besok, Anda harus segera dirawat di sini. Kami ingin menangani secara langsung,'' jelas Dokter Sam.


Setelah berkonsultasi dengan Dokter, Tina keluar dari ruangannya. Kepalanya memang benar-benar sakit saat ini, walaupun sudah di kemoterapi. Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding Rumah Sakit, tapi sakit di kepalanya kian menusuk hingga tubuhnya oleng.


''Kamu!'' kaget Tina.


''Hei, kamu temannya Sherly, 'kan?'' tanya Raka, dan Tina langsung mengangguk dengan wajah pucat.


''Kamu sakit?'' tanya Raka kembali.


Tina terdiam, kemudian dia menggelengkan kepalanya. ''Tidak! Aku hanya sedang mengecek kesehatan saja,'' bohong Tina. Kemudian dia pamit untuk pergi dari sana.


Raka menatap Tina dengan dahi mengkerut, sebab melihat wajah wanita itu sangat pucat. Tiba-tiba saat Tina sudah berjalan beberapa langkah darinya, ada seseorang yang memanggilnya.

__ADS_1


''Bu Tina ... tunggu sebentar!'' ucap salah satu Dokter sambil mendekat ke arah Tina.


''Maaf Bux ini surat check up-nya ketinggalan,'' jelas Dokter tersebut sambil memberikan amplop putih kepada Tina.


''Iya Dok, terima kasih,'' jawab Tina. Setelah itu dia pergi meninggalkan Rumah Sakit.


Raka melihat punggung Tina yang semakin menjauh darinya, kemudian dia memanggil Dokter yang baru saja memberikan surat kepada Tina. Entah kenapa, Raka begitu penasaran Tina sakit apa..Sebab wajahnya benar-benar sangat pucat, seperti seseorang yang baru saja melakukan kemoterapi.


''Maaf Dok, pasien tadi sakit apa ya?'' tanya Raka pada Dokter yang berada di hadapannya.


Dokter tersebut terdiam saat mendengar pertanyaan Raka. Dia tidak mungkin memberitahukan tentang penyakit Tina, sebab itu adalah pekerjaannya, yaitu melindungi identitas pasiennya.


''Maaf, saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Sebab itu sudah perjanjian dengan Rumah Sakit, dan juga profesi saya sebagai seorang Dokter,'' jawab Dokter tersebut.


''Saya paham, Dok. Saya kenal wanita tadi, dia adalah teman saya,'' ucap Raka mencoba meyakinkan.


Dokter itu terdiam, mencoba menimbang apakah dia harus bercerita kepada Raka atau tidak. Namun melihat dari wajah Raka, pria itu memang sangat baik dan bisa dipercaya. Kemudian Dokter itu pun membuka tentang penyakit yang Tina sedang derita.


''Ibu Tina, mengidap kanker otak stadium akhir, Tuan,'' jelas Dokter tersebut.


Raka yang mendengar itu tentu saja sangat syok. Dia tidak menyangka, jika wanita seperti Tina mengidap penyakit yang begitu ganas, bahkan sudah stadium akhir. Dia benar-benar salut kepada Tina. Walaupun wanita itu mengidap penyakit yang begitu mengerikan, tapi Tina selalu tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


Sementara itu, Dokter Sam pergi meninggalkan Raka, setelah menjawab pertanyaannya, karena ada pasien yang harus dia cek kembali keadaannya.


*K*asihan, tapi dia benar-benar wanita yang hebat. batin Raka

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2