Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Menyesal


__ADS_3

Happy reading.....


''Aku---'' Ucapan Mentari terhenti saat pintu ruangan terbuka, dan masuklah seorang wanita dengan raut wajah yang cemas dan langsung menghampiri Tina.


Mentari kaget, sebab di sana ada Bunga. Padahal dia tidak menelpon siapapun, dan dari mana wanita itu tahu jika Tina berada di Rumah Sakit.


''Tina, kamu nggak papa 'kan? Ya ampun, kenapa kamu nggak kasih tahu aku, kalau masuk Rumah Sakit?'' tanya Bunga dengan wajah yang cemas saat berada di samping sahabatnya.


''Aku nggak papa kok, Bunga,'' jawab Tina dengan lirih sambil tersenyum tipis.


Kemudian tatapan Bunga mengarah kepada Mentari, lalu dia berjalan ke arah wanita itu dan menanyakan bagaimana bisa Tina berada di Rumah Sakit. Kemudian Mentari menjelaskan kepada Bunga jika Tina datang ke restorannya dan tiba-tiba saja pingsan.


Namun Mentari tidak mengatakan tentang apa yang Tina bicarakan kepadanya, karena wanita itu pikir jika Bunga belum mengetahui semuanya, padahal Bunga sudah tahu semua.


Kemudian Bunga berjalan kembali ke arah Tina, lalu dia menatap wanita itu bergantian ke arah Mentari.


''Jangan bilang, kamu ke restorannya Mentari, masih untuk membujuk dia kembali bersama dengan Ardi?'' tebak Bunga. Sebab dia memang tidak mengetahui kepergian Tina.


Mentari terlihat sangat kaget saat mendengar ucapan Bunga. Dia tidak menyangka jika wanita itu telah mengetahui semuanya. Kemudian dia menatap ke arah Bunga. ''Apa Mbak, sudah mengetahui semuanya?'' tanya Mentari.

__ADS_1


Bunga menganggukan kepalanya, membuat Mentari seketika menutup mulut dengan wajah yang kaget. Kemudian dia menatap ke arah Tina dan wanita itu hanya mengedipkan matanya sebagai sebuah kode.


.


.


Di kantornya, Ardi tengah meminta Deni untuk menyelidiki tentang Luke, karena dia sangat yakin jika anak kecil itu adalah putranya. Sebab jika sampai itu benar, maka Ardi akan semakin kuat untuk memperjuangkan Mentari dan kembali bersama dengan wanita itu. Akan tetapi dia juga merasa bimbang, karena pasti ada hati yang terluka.


Sejujurnya ada rasa sesal di hati Ardi, karena sudah menampar Tina malam itu. Namun saat itu Ardi sedang dikuasai oleh amarah, sehingga dia kelepasan dan bermain tangan.


Saat Ardi tengah meresapi tentang penyesalannya, seketika pikirannya tertuju pada ucapan Mentari tadi siang, di mana wanita itu mengatakan jika dia harus membahagiakan Tina di sisa akhir hidupnya.


Ardi benar-benar bingung, kenapa Mentari bisa berkata seperti itu? Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya, dan Ardi bertekad untuk menanyakannya nanti kepada Tina saat sampai di rumah.


.


.


Mama Ranti, dan papa Randy juga tidak mengetahui tentang penyakit Tina. Sebab saat di mobil, wanita itu meminta Bunga untuk mengatakan jika dia hanya tidak enak badan saja.

__ADS_1


Terdengar pintu kamar terbuka, dan ternyata yang masuk adalah Ardi. Namun Tina tidak beranjak dari tidurnya, sebab badannya terasa lemas, wajahnya juga sangat pucat. Ardi yang melihat itu segera melangkah ke arah Tina, dan dia terlihat begitu khawatir.


''Kamu kenapa, sakit?'' tanya Ardi sambil duduk di samping tapi ranjang.


''Nggak papa kok, aku cuma sedang tidak enak badan aja,'' jawab Tina dengan suara yang lirih.


''Apa, sudah periksa ke Dokter?'' tanya Ardi.


''Sudah tadi siang bersama dengan Bunga. Kamu mandilah! Air panasnya sudah disiapkan tadi sama bibi,'' jawab Tina mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Ardi terus menanyakan soal sakitnya.


Pria itu mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi, karena badannya juga sudah terasa lengket. Ardi juga akan menanyakan soal ucapan Mentari nanti kepada Tina, saat wanita itu sudah jauh lebih baik.


Setelah selesai membersihkan diri, Ardi kembali ke kamar dan dia melihat Tina sudah tertidur dengan pulas. Pria itu pun berjalan mendekat ke arah istrinya, terbayang kembali saat dia menampar wajah Tina dan melihat wanita itu menangis.


Tangannya terulur mengusap pipi Tina dengan lembut. Dia merasa bersalah, sebab selama ini tidak bisa membahagiakan wanita yang menjadi istrinya selama lima tahun. Sejujurnya jauh di dalam lubuk hati Ardi, dia merasa menjadi suami dan pria yang paling bodoh dan paling jahat sedunia. Sebab tidak bisa memberikan nafkah batin kepada Tina.


''Maafkan aku, Tina. Aku memang sangat jahat! Aku pun tidak tahu, kenapa Tuhan memberikanku hati yang begitu keras? Sehingga aku tidak bisa mencintaimu, walaupun kita sudah mengenal sangat lama,'' ucap lirih Ardi. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menuju meja makan.


Tina membuka matanya, satu tetes cairan bening pun keluar dari netra miliknya. Dia terbangun saat Ardi mengusap pipinya. Namun saat mendengar kata-kata pria itu, membuat hati Tina teriris. Dia tidak menyalahkan Ardi, sebab pemilik hati hanyalah yang Kuasa.

__ADS_1


''Aku merasakan, memang tidak akan pernah ada di hati kamu, mas, dan waktuku memang tidak banyak. Aku akan terus berusaha untuk menyatukanmu dengan Mentari,'' gumam Tina. Setelah itu dia menutup matanya kembali, karena kepalanya terasa begitu sakit.


Bersambung.....


__ADS_2