Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Harus Kehilangan


__ADS_3

Happy reading.....


Bagas dan juga Papa Randy sudah sampai di rumah sakit, dan di sana Mmama Ranti tengah menangis sambil memeluk Mentari.


"Mah, gimana keadaan Ardi?" tanya papa Randy saat sudah sampai di dekat istrinya.


Mama Ranti yang mendengar suara suaminya segera berdiri, kemudian dia langsung memeluk tubuh papa Randy hingga menangis tersedu-sedu dalam pelukan pria itu.


Rasa takut benar-benar telah menyelimuti hatinya. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan Ardi saat ini, walaupun mama Ranti sedang marah kepada putranya. Namun saat mendengar Ardi mengalami kecelakaan, tentu saja dia sangat sedih dan juga terpukul.


Tak lama Dokter pun keluar dari ruangan UGD. Mentari yang melihat itu pun segera menghampiri sang Dokter dan menanyakan tentang keadaannya Ardi.


"Bagaimana keadaan suami saya? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya Mentari dengan wajah yang panik.


"Begini Nona, kami harus melakukan amputasi terhadap kakinya pasien, sebab kaki sebelah kiri tulangnya hancur karena terjepit," jelas Dokter tersebut.


Semua yang berada di sana tentu saja sangat syok, saat mendengar penjelasan sang Dokter. Mentari bahkan sampai lemas jika tidak ditahan oleh Bagas.


"Lakukan yang terbaik untuk putra saya, Dok!" pinta papa Randy.


Semua orang pasrah dengan keadaan Ardi. Mereka tidak bisa membayangkan jika Ardi sudah sadar dan mengetahui sebelah kakinya telah dipotong, mungkin pria itu akan merasa sangat syok dan terpukul. Sebab kaki adalah bagian yang terpenting bagi seorang pria.


'Kasihan mas Ardi. Pasti dia akan sangat terpukul saat mengetahui kenyataan ini. Kamu tenang saja mas, aku akan selalu berada di sisimu!' batin Mentari.


.


.


Setelah beberapa jam mereka menunggu, akhirnya operasi pun selesai, dan Ardi dipindahkan ke ruang ICU, tapi pria itu masih belum tersadar. Dia masih berada di bawah pengaruh obat bius.


Sementara itu di lain sisi, Tina sedang makan siang bersama dengan Raka dan juga Cahaya. Mereka juga setiap hari sering melakukan video call bersama dengan Tuan Chayan, karena pria itu sangat merindukan Cahaya.


Saat Tina tengah makan, tiba-tiba saja seseorang menyapanya, membuat Raka dan juga dirinya menengok ke arah samping. Seketika mata Tina membulat kaget saat melihat seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah dia temui


"Tina, kamu apa kabar?" tanya seorang pria yang berperawakan kekar.


"Mas Angga!" kaget Tina.


Memang saat ini Tina sedang tidak memakai cadar. Dia sedang makan sehingga wajahnya mudah dikenali. Padahal mereka sudah memilih meja di bagian pojok, agar tidak terlalu terlihat sekali.


"Hai, kita bertemu lagi. Kamu apa kabar? Sudah lama sekali ya kita tidak berjumpa?" ucap Angga sambil mengulurkan tangannya ke arah Tina.

__ADS_1


Tina langsung menangkupkan tangannya di depan dada, kemudian dia langsung memakai cadarnya. Angga yang melihat itu tentu saja sangat kagum, sekarang Tina sudah banyak berubah.


"Alhamdulillah kabar aku baik kok Mas. Mas sendiri kabarnya gimana sama Erin?" Tanya balik Tina.


"Alhamdulillah, baik."


Sedangkan Raka hanya melihat saja,.dia tidak tahu pria yang saat ini sedang berbicara kepada calon istrinya itu siapa, karena Raka baru bertemu dan melihatnya.


"Sayang, dia itu siapa? Teman kamu?" tanya Raka dengan tatapan menyelidiki ke arah Angga.


"Ini Mas Angga. Dia mantan suamiku, dan Mas Angga kenalin, ini Mas Raka, calon suamiku," ungkap Tina memperkenalkan mereka satu sama lain.


Raka yang mendengar itu mengangguk paham, kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan pria itu. Karena bagi Raka, Angga hanyalah masa lalu dari calon istrinya, jadi tidak ada hal yang perlu dicemburui oleh Raka.


"Saya Raka, calon suaminya Tina," ucap Raka.


"Saya Angga, senang bisa bertemu dengan Anda," jawab Angga.


"Ya sudah, kalau kayak gitu kalian lanjut lagi, saya juga harus balik ke kantor. Sekali lagi selamat ya Tina, tapi ... setahuku bukannya kamu menikah dengan orang lain ya kemarin? Aku dengar dari rekan bisnis seperti itu, tapi kok, ini ..." Angga menggantung ucapannya, karena dia juga merasa bingung.


Kebetulan rekan bisnis Angga kenal dengan Tina, dan dia waktu itu datang ke pernikahannya Tina dan Ardi. Makanya Angga sedikit bingung saat Tina menyebutkan jika Raka calon suaminya, sedangkan Tina sudah menikah dengan Ardi, dan seharusnya dia sudah mempunyai suami.


"Aku udah cerai dengan mas Ardi, sudah lama sekali," jawab Tina sambil memberikan susu kepada Cahaya.


Entah kenapa, melihat penampilan Tina sekarang, membuat Angga benar-benar sangat kagum. Memang sempat terlintas penyesalan pada pria itu, karena dia dulu sudah menyelingkuhi Tina, padahal Angga masih mencintai Tina.


'Rasanya ingin sekali aku kembali kepadamu. Sayang, kau sudah akan menikah dengan pria lain? Melihatmu sekarang, membuatku benar-benar tidak bisa melupakanmu sampai saat ini Tina, dan setelah sekian lama, kita baru bertemu lagi? Tapi, siapa bayi itu?' batin Angga.


.


.


Ardi mulai mengerjapkan matanya beberapa kali, sementara Mentari terus saja duduk di samping suaminya. Dia tidak ingin meninggalkan pria itu, karena Mentari tahu, saat Ardi tersadar nanti, pasti dia akan sangat syok saat mengetahui jika separuh kakinya telah diamputasi.


"Aku di mana?" tanya Ardi dengan lirih.


"Kamu ada di rumah sakit, Mas," jawab Mentari.


Ardi mencoba untuk bangun, tetapi badannya terasa begitu remuk. Akhirnya dia pun hanya bisa diam saja. Dia melihat mentari ada di sana, dan mama Ranti sedang pulang untuk membawa baju ganti Mentari.


Pria itu seketika teringat jika dia diserang oleh seseorang, sehingga mobilnya mengalami kecelakaan. Bagas yang baru saja kembali dari kantin merasa senang saat melihat adiknya sudah tersadar, kemudian dia berjalan ke arah Ardi.

__ADS_1


"Apa kau ingat siapa mereka?" tanya Bagas kepada Ardi.


Memang setelah mendapatkan kabar tentang kecelakaan adiknya, Bagas langsung menyelidiki, dan ternyata melihat dari CCTV jika adiknya ini diserang oleh dua orang. Dan sampai sekarang, Bagas masih menyelidiki tentang siapa dalang di balik semua ini.


"Aku tidak tahu pasti Kak, tapi mereka menyerang mobilku. Entah kenapa, aku merasa dalang dibalik semua ini adalah Sasa. Sebab aku tidak merasa memiliki musuh, Kak," jelas Ardi.


"Iya, mungkin saja itu benar. Dia merasa sakit hati, tapi tunggu saja kabar dari anak buahku. Apakah memang dia orangnya atau bukan? Aku juga berpikirnya seperti itu," jelas Bagas.


Ardi mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit, namun eentah kenapa kaki sebelah kirinya terasa begitu mati rasa, tidak bisa digerakkan sama sekali. Kemudian dia pun menatap ke arah Mentari.


"Sayang, ini jenapa ya, kok kaki aku kayaknya mati rasa sebelah kiri? Yang sebelah kanan bisa aku gerakin?" tanya Ardi.


Mentari dan juga Bagas saling melirik satu sama lain. Mereka bingung, apakah harus mengatakan kepada Ardi jika kaki sebelah kirinya di amputasi, karena mereka sangat yakin, pasti Ardi akan sangat frustasi.


"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Ardi dengan heran.


BERSAMBUNG........


Bulan Depan akan louncing Novel terbaru author ya😘Dan Novel ini berbeda. Sebab bukan tema Pelakor, tapi thriller dan Cinta😎So, Gimana menurut kalian? Kasih Komennya ya. Dan di bawah adalah DESKRIPSInya, Novel yg pastinya bikin menegangkan😎


Sinopsis ''THE HOTTIES MORPHINE''


Tarian jemari lembut


Sentuhan gemulai indah


Erangan cantik menyeruak


Ketika tatapan cinta


Hadirkan lukisan sempurna


Di kanvas bernafas


Sembilu merah


Helaan napas disertai detakan jantung perlahan menepi di persimpangan hidup dan mati. Tetesan merah menyelimuti sosok raga terbuka, mempertontonkan organ tubuh. Segar dari bungkusan mulus nan elok, tergeletak di bangsal berbercak memesona.


Sedang sepasang mata indah, hadirkan raut ketakutan bersama isak tangis menggoda. Di atas bangsal dengan kedua tangan dan kakinya terikat erat. "Ketika pisau bedah ini menyusuri gairah raga seksi para wanita muda. Bagiku adalah suatu kenikmatan sendiri dan kebanggaan atas kepercayaan tuan Jian pada keterampilan seni yang kumiliki.


Lelaki tua itu sangat mengerti akan keindahan makhluk terindah Tuhan. ''Bersabarlah wahai cantik, dirimu menunggu giliran," ucap lelaki berseragam putih itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Bayangan raut wajah sang adik yang menjadi korban penculikan. Seakan menari - nari di pelupuk mata sepanjang waktu. Julianti menjadi salah satu korban penculikan dari organisasi mafia internasional. Dia bersama yang lain menjadi korban human traficking.


Mampukah Yusuf menyelamatkan adik kesayangannya? Sementara dirinya sendiri terkurung di ruang isolasi Nusakambangan.


__ADS_2