Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Tidak Bisa Memaafkan


__ADS_3

Happy reading.....


Semalaman Ardi tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan tentang keadaan Tina, karena rasa bersalah di hatinya begitu dalam. Pagi ini, pria itu sudah bersiap-siap akan ke Rumah Sakit untuk menjenguk dan melihat keadaan istrinya.


Sementara Mentari baru saja bangun dari tidurnya, dan dia melihat Ardi sudah rapi. Wanita itu pun menatap ke arah suaminya dengan bingung.


''Mas, kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini? Lok sudah rapi, aja?'' tanya Mentari sambil mengucek matanya.


''Aku mau ke Rumah Sakit, menjenguk keadaan Tina. Kamu mau ikut tidak?'' tanya Ardi.


''Nanti saja aku ke sananya Mas, sambil membawakan bubur untuk mbak Tina. Mas, duluan aja,'' jawab Mentari sambil beranjak dari tidurnya, lalu masuk ke kamar mandi.


Ardi berangkat tanpa meminum kopi atau sarapan terlebih dahulu. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman dan Anjasmara.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Ardi pun sampai di Rumah Sakit. Dia langsung turun dan menuju ruangan, di mana saat ini Tina tengah dirawat. Namun, saat sampai di sana, Ardi melihat Raka yang sedang duduk dan mengajak ngobrol istrinya.


Ada rasa amarah di dalam hati, saat melihat bagaimana Tina tersenyum bersama dengan pria lain, dan itu membuat Ardi benar-benar tidak ikhlas.


Dia memang tidak mencintai Tina, tetapi, melihat istrinya bersama dengan pria lain, membuat Ardi tidak suka. Kemudian dia melangkah mendekat ke arah Raka, lalu berdehem cukup keras.


''Eekkhm! Untuk apa kamu di sini?'' tanya Ardi tanpa basa-basi dengan nada suara yang ketus.


Raka dan juga Tina menengok ke arah samping dan ternyata di sana ada Ardi yang sudah datang. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, tetapi pria itu sudah datang.


''Mas Ardi,'' ucap Tina dengan suara yang lirih.


''Anda tidak perlu repot-repot untuk menjaga istri saya. Karena saya bisa melakukannya sendiri,'' tutur Ardi sambil menatap tajam ke arah Raka.

__ADS_1


Pria itu mencebik saat mendengar ucapan Ardi. Dia sudah mengetahui semuanya dari tante Imelda, lalu Raka pun berdiri dan menatap Ardi dengan tatapan menantang.


Dia mengelilingi tubuh pria itu, kemudian berdiri tepat di hadapannya. ''Anda bilang, bisa mengurus Tina sendiri? Apa Anda yakin, Tuan Ardi Anjasmara? Apakah selama ini, Anda memperdulikannya? Tidak! Bahkan, Anda malah mencampakannya demi wanita lain!'' jelas Raka dengan intonasi natu oktaf.


Ardi tidak terima, kemudian dia mencengkeram baju Raka. Sorot mata yang tajam,.menatap ke arah pria itu. Dia benar-benar tidak terima Raka mencampuri urusan rumah tangganya.


''Jangan pernah, mencampuri urusan rumah tanggaku! Anda paham!'' geram Ardi sambil mendorong tubuh Raka.


''Saya tidak mencampuri urusan rumah tangga Anda, Pak Ardi. Hanya saja, kenapa Anda sekarang peduli saat mengetahui penyakit Tina yang sebenarnya? Apakah Anda kasihan?'' Raka berucap sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dia yakin, kepedulian Ardi saat ini bukanlah karena pria itu mencintai Tina, tetapi, karena Ardi kasihan kepada Tina. Sebab penyakit yang diderita wanita itu, sangatlah ganas. Sebagai seorang teman, tentu saja Raka akan melindungi Tina. Entah kenapa, dia tidak ingin wanita itu tersakiti kembali.


Saat Ardi akan menunjuk wajah Raka, tiba-tiba saja tante Imelda datang membawakan sarapan pagi untuk Tina dan juga Raka. Dia melihat Ardi di sana dengan tatapan tidak suka.


Jelas saja. Sebab selama ini Ardi tidak pernah bisa menghargai istrinya, dan tante Imelda tidak suka akan hal itu. Di mana seharusnya seorang suami mengayomi istrinya, mendidik bahkan menyayangi serta mencintai keluarganya, tetapi Ardi, malah sebaliknya. Dia membuat Tina menderita secara batin.


''Untuk apa kamu ke sini, Ardi? Lebih baik sekarang, kamu pergi dari sini!'' usir tante Imelda.


''Kamu memang suaminya, tetapi, kamu tidak patut disebut seorang suami. Lagi pula, kamu akan menceraikan Tina, bukan? Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini, jangan membuat suasana tambah kacau, Ardi!'' geram tante Imel sambil menatap pria itu dengan tajam.


Ardi menggelengkan kepalanya, kemudian dia menatap ke arah Tina, tetapi wanita itu malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebab Tina tidak mau bertemu dengan Ardi lagi.


Kata-kata pria itu masih sangat terngiang jelas di telinganya, di saat Ardi menuduhnya berselingkuh dengan Raka, dan mempermalukannya di hadapan keluarga Anjasmara tanpa mau mendengarkan penjelasannya dulu. Itu membuat Tina bertekad, bahwa dia akan cerai dengan Ardi.


Tina tidak perduli dengan wasiat yang sudah diberikan Riko kepadanya, karena saat ini kesembuhannya lebih penting. Dia juga ingin bahagia di sisa hidupnya, walaupun tanpa Ardi. Sebab perkataan pria itu kemarin, benar-benar menusuk hati Tina yang paling dalam, sehingga membuat wanita itu tidak bisa memaafkan Ardi.


''Sebaiknya kamu pergi dari sini, Mas!'' usir Tina tanpa menatap ke arah suaminya.

__ADS_1


''Kamu ngusir aku? Di sini, aku loh suami kamu, bukan dia!'' tunjuk Ardi dengan emosi ke arah Raka.


''Bukan suami, tapi calon mantan suami. Sebaiknya kamu pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu dulu! Lagi pula, kamu beranggapan aku dan juga Mas Raka itu punya hubungan, bukan?'' terang Tina.


Ardi menatap ke arah tante Imelda, Raka dan juga Tina bergantian. Kemudian dia keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya dengan kasar, hingga membuat tante Imelda terjingkat kaget dan mengusap dadanya.


*B*enar-benar pria yang kasar. batin Raka


''Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu yuk! Tante sudah beli bubur nih buat kalian,'' ujar tante Imelda sambil membuka kotak bubur yang dibelinya tadi.


.


.


Ardi mengendarai mobilnya dengan kesal menuju rumah. Setelah sampai, dia langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan wajah yang kesal. Mentari yang melihat suaminya pulang segera membuatkan kopi, lalu menaruhnya di atas meja di hadapan Ardi.


''Diminum dulu, Mas. Kamu kenapa, pulang-pulang kok mukanya ditekuk kayak gitu?'' tanya Mentari saat duduk di samping suaminya.


''Gimana aku nggak kesel, sayang. Tina ngusir aku dari Rumah Sakit, ditambah di sana juga ada pria itu. Jangan-jangan benar lagi, kalau mereka itu selingkuh? Tina bilang, dia ingin bercerai dariku. Mungkin saja, memang dia ingin bersama dengan pria yang mirip sama Riko!'' kesal Ardi.


Kemudian dia mengambil gelas kopi yang ada di meja, lalu meminumnya. Namun, baru saja kopi itu mengenai bibir, Ardi langsung melempar gelasnya sampai pecah berserakan di atas lantai.


''Panas ... panas,'' ucap Ardi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut.


''Ya ampun, Mas. Kamu itu sudah tahu kopi panas, kenapa main diminum aja? Harusnya ditiup dulu,'' heran Mentari sambil menggelengkan kepalanya.


''Nggak tahu lah, sayang. Aku mau ke kamar aja, mumet kepalaku!'' cetus Ardi sambil beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


''Wahai Rasulullah, apa saja hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah pun menjawab, “Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud)


BERSAMBUNG......


__ADS_2