Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Mulai Cuek


__ADS_3

Happy Reading.....


Saat sampai di rumah, Tina langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Air matanya bahkan tidak henti mengalir dari kedua netra indah milik wanita itu. Mencintai pria yang sama untuk kedua kalinya dan tidak mendapatkan balasan sama sekali, tentu membuat Tina jauh lebih merasakan sakit saat dia kehilangan Riko.


Setelah itu Tina menghapus air matanya, dia kembali meminum obat dari Dokter, kemudian Tina bertekad jika besok dia akan ke makamnya Riko untuk berziarah sekaligus ingin menumpahkan rasa sesak di dalam dadanya.


Setiap kali Tina mempunyai masalah, setiap kali dia mengeluh tentang Ardi, wanita itu tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Karena untuk curhat pun dia tidak mempunyai sahabat dekat selain Bunga, sedangkan wanita itu sudah jauh tinggal di kota Bali, dan hanya Rikolah saat ini yang dipunyai oleh Tina.


.


.


Pagi hari jam 6.30 pagi Tina sudah siap untuk ke makamnya Riko sambil memakai jilbab berwarna hitam yang melingkar di kepalanya. Wanita itu pun pergi menggunakan mobilnya.


Tak berselang lama Ardi pulang, semalaman dia tidak bisa tidur karena merasa bersalah kepada Tina, dan pria itu berniat untuk meminta maaf pada istrinya. Akan tetapi saat dia masuk ke dalam kamar, Ardi tidak menemukan Tina sama sekali.


''Ke mana dia? Biasanya jam segini dia masih ada di kamar,'' ucap Ardi dengan lirih sambil menatap ke seluruh isi kamar, tetapi menemukan Tina.


Pria itu pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju meja makan. Mamun sama saja, Tina juga tidak ada di sana, kemudian Ardi bertanya kepada pelayan, ''Bi, Tina ke mana ya? Kok di kamar nggak ada, di sini juga nggak ada?'' tanya Ardi pada salah satu pelayan yang sedang masak.


''Oh, Ibu tadi keluar, Pak, tapi saya tidak tahu ke mana. Tadi sih memakai jilbab,'' jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Ardi mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban dari pelayan tersebut. ''Memakai jilbab?'' Ardi mengulang perkataan pelayannya, kemudian dia mengambil ponsel lalu mencoba menelpon Tina, tetapi Nomornya tidak aktif.


'Ke mana dia? Tidak biasanya nomornya tidak aktif seperti ini?' batin Ardi merasa bingung.


Ardi benar-benar heran ke mana Tina pergi, apalagi dia mendengar jika wanita itu memakai jilbab. Sudah tiga kali menelpon, tapi tetap saja nomor tidak tidak aktif. Kemudian Ardi kembali berjalan ke kamar dan membersihkan dirinya.


''Sebaiknya aku siap-siap deh buat ke kantor, sambil nunggu dia pulang,'' gumam Ardi sambil membuka bajunya lalu membersihkan diri ke kamar mandi.


Sementara itu Tina sedang berada di makam Riko, dia menabur Bunga di atas gundukan tanah tersebut, lalu mengusap batu nisan yang bertuliskan nama kekasihnya. Seseorang yang pernah berada dengan tempat yang spesial jauh di dalam hati.


''Ko, kamu tahu nggak! Sekarang mas Ardi itu udah bertemu dengan Mentari, dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari wanita itu..Apakah aku terlalu egois ya, jika aku ingin mendapatkan kebahagiaan dari Mas Ardi? Apakah aku ini terlalu jahat, jika aku ingin bahagia sebelum kita bertemu? Kenapa sih, kamu malah menyerahkan aku kepada dia? Andai saja aku bisa memilih, lebih baik aku ikut bersamamu, ketimbang aku menikah dengan Ardi. Natinku sakit Riko. Kenapa kamu malah menyiksaku seperti ini? Membuatku masuk ke dalam jurang yang begitu gelap.''


Tina menangis tersedu-sedu sambil memeluk batu nisan yang bertuliskan mantan kekasihnya itu. Dia meratapi nasibnya, karena begitu tragis. Jika saja saat itu Riko tidak mengorbankan nyawanya untuk Ardi, pasti dia tidak akan pernah kehilangan pria yang dicintainya. Bahkan mungkin mereka sedang hidup bahagia saat ini.


Tina sampai di rumah, dia melihat mobil Ardi udah terparkir di teras. Wanita itu mengerutkan dahinya, dia pikir Ardi tidak akan pulang. Kemudian Tina menghela napas, mencoba menguatkan hati untuk bertemu dengan suaminya.


''Kuat Tina! Kamu harus kuat, tidak boleh lemah di hadapan Ardi!'' Tina bermonolog pada dirinya sendiri, menyemangati agar dia tidak boleh menjadi wanita yang lemah.


Dia pun masuk ke dalam dan langsung menuju kamar. Saat pintu terbuka, Tina melihat Ardi sedang memakai pakaian kerjanya. Tanpa menghiraukan pria itu, dia membuka jilbab lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ardi sejenak terdiam melihat Tina yang baru saja masuk ke dalam kamar. 'Dia sangat kotor. Apakah dia habis dari makam? Tapi makan siapa? Orang tuanya 'kan dimakamkan di luar kota? Atau jangan-jangan, dia ke makamnya Riko?' batin Ardi bertanya-tanya kemana Tina pergi saat melihat pakaian istrinya yang kotor.

__ADS_1


Pria itu tetap menunggu Tina sambil duduk di tepi ranjang, sambil memainkan ponselnya. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan Tina sudah membersihkan diri dengan handuk yang melilit di kepalanya, kemudian wanita itu berjalan kemeja rias untuk memakai rutinitas paginya.


Bahkan tidak biasanya dia cuek kepada Ardi. Sekarang Tina tidak ingin lagi memberikan sebuah harapan yang sama sekali dia bahkan merasakan sakit di dalamnya.


''Tina ...'' panggil Ardi, dan wanita itu hanya menatap Ardi dari pantulan cermin.


Melihat sikap istrinya yang begitu cuek, membuat Ardi merasa seperti kehilangan sesuatu. Dia merasakan jika ada yang hambar, ketika Tina bersikap cuek. ''Tina, qku ingin berbicara empat mata denganmu!'' ucap Ardi sambil berjalan mendekat ke arah meja rias.


Tina yang sedang memoles krim wajah seketika menatap kearah Ardi. Akan tetapi dia tetap melakukan kegiatannya.


''Bicara aja Mas,'' jawab Tina dengan santai.


Ardi terdiam sejenak, kemudian dia pun berkata, ''Tina, aku mau minta maaf soal semalam. Mungkin aku memang sudah---''


''Cukup, Mas! Aku tidak ingin membahas yang semalam. Lagi pula, itu bukan urusanku juga! Kamu memang berhak menentukan ke bahagiaan kamu. Kejarlah dia! Aku bahagia, jika kamu bahagia.'' Tina memotong ucapan Ardi, membuat hati pria itu mencelos.


Tina memang ingin berbahagia bersama suaminya. Akan tetapi, dia tidak ingin memaksakan sebuah kehendak, di mana hati suaminya bukan untuknya, dan Tina tidak mau jika dia menyakiti siapapun. Sudah cukup dia saja yang tersakiti.


Setelah mengatakan itu, Tina keluar dari kamar untuk menuju meja makan. Biasanya dia akan sangat perhatian kepada Ardi, tetapi mulai sekarang Tina akan bersikap sedikit lebih cuek. Walaupun sebenarnya itu sangat sakit, tapi Tina harus melakukannya.


'Aku ingin kebahagiaan di akhir hidupku, walaupun melihat mas Ardi bahagia bersama dengan wanita lain, aku rela,' batin Tina dengan hati teriris sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2