
Happy reading......
Tina terdiam sejenak, memikirkan qpakah dia akan menerima lamaran Raka atau tidak. Hatinya masih gamblang. Karena di satu sisi, Tina memikirkan tentang penyakitnya, di sisi lain dia juga ingin bahagia.
''Bagaimana Tina? Apakah kamu mau?'' Raka kembali mengulang pertanyaannya.
''Bismillah, iya aku mau,'' jawab Tina dengan wajah malu-malu.
Raka terlihat begitu bahagia, dia tidak menyangka jika Tina menerima lamarannya. Pria itu maju hendak memeluk tubuh Tina, namun satu tangan wanita itu menahan dadanya.
''Jangan dulu! Kita belum muhrim,'' ujar Tina sambil menggelengkan kepala.
Raka menggaruk belakang lehernya. Dia benar-benar malu, karena hampir saja kebablasan memeluk tubuh wanita itu. Sedangkan semua orang bersorak gembira saat Tina menerima lamaran Raka.
Riuhnya semua orang membuat kepala Tina sedikit pusing, tapi dia mencoba untuk menahannya. Hingga satu tetes cairan darah keluar dari hidung Tina.
''Astaga Tina! Hidung kamu ngeluarin darah lagi. Apa kepala kamu sakit?'' tanya Raka dengan panik.
Tina mengusap hidungnya dengan punggung tangan, dan ternyata benar, ada darah yang menetes. Wanita itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Namun, sayang, belum juga Tina menjawab, tubuhnya sudah oleng dan ambruk.
Raka yang melihat itu tentu saja dengan sigap menahan tubuh Tina dalam dekapannya. Dia menepuk pipi wanita itu dengan raut wajah yang begitu cemas.
''Tina ... bangun sayang! Kamu kenapa? Hei! Jangan membuat aku panik seperti ini,'' ucap Raka dengan nada yang begitu khawatir.
__ADS_1
Semua orang di sana juga menjadi panik saat tiba-tiba saja Tina pingsan. Baru saja mereka merasakan bahagia saat Tina menerima lamaran Raka. Namun, tiba-tiba saja wanita itu langsung tak sadarkan diri.
Dengan cepat, Raka menggendong tubuh Tina dan memasukkannya ke dalam mobil. Dia akan membawa wanita itu ke rumah sakit.
''Bertahanlah sayang! Kamu pasti kuat. Aku yakin, kamu bisa melewati semua ini,'' ucap Raka dengan nada yang lirih sambil menggenggam tangan Tina.
15 menit mobil pun sampai di pelataran rumah sakit, dan Raka langsung menggendong tubuh Tina sambil berteriak memanggil suster. Setelah itu Tina ditidurkan di atas brankar pasien lalu didorong masuk ke dalam UGD.
Pria itu begitu khawatir, bahkan dia tidak bisa duduk walau satu detik pun. Raka terus aja mondar-mandir di depan ruangan UGD, menanti Dokter keluar dari sana dan menjelaskan keadaan Tina.
Tak lama pintu ruangan UGD terbuka, Dokter pun muncul..Lalu Raka langsung bertanya tentang keadaan Tina kepada Dokter tersebut.
''Bagaimana keadaan Tina? Dia tidak papa 'kan?'' tanya Raka dengan cemas.
''Sel kankernya benar-benar sudah menyebar ke seluruh tubuh. Keadaannya semakin lemah, bahkan obat-obatan yang dikonsumsinya setiap hari pun tidak mengubah apapun,'' jelas Dokter tersebut sambil menundukkan kepalanya.
Raka terhenyak kaget. Dia tidak menyangka jika selama ini pengobatan yang Tina lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali. Cairan bening menetes dari kedua mata tegas milik Raka.
Dia berjalan masuk ke dalam UGD dan melihat Tina sedang berbaring, kemudian dia menggenggam tangan kekasihnya.
''Bertahanlah! Aku yakin, kamu wanita yang kuat. Selama ini kamu mengorbankan segalanya, dan aku sangat yakin, Tuhan telah menyiapkan kebahagiaan untukmu. Dan aku berharap, akulah kebahagiaanmu,'' ujar Raka sambil menangis dan mencium tangan Tina.
.
__ADS_1
.
Sedangkan di sisi yang lain, Ardi sedang berada di kamar hotelnya, mengerjakan tugas untuk meeting besok pagi. Tiba-tiba saja, dia mendengar pintu kamarnya diketuk dan pria itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
''Sasa!'' kaget Ardi saat melihat Sasa berada di depan kamarnya.
Tanpa menjawab ucapan Ardi, Sasa langsung masuk ke dalam, kemudian dia duduk di sofa. Wanita itu memakai kemeja berwarna navy setengah lutut, dia mencoba untuk menggoda Ardi.
''Sasa, kamu mau ngapain? Aku Masih banyak kerjaan, lebih baik kamu keluar!'' usir Ardi.
''Kamu jangan ketus-ketus sih, Di. Aku juga ke sini mau bahas kerjaan sama kamu..Aku tahu kok, kalau kamu sedang bergadang. Jadi, sebaiknya kita bergadang bareng-bareng untuk mengerjakan tugas. Bukankah jika kita mengerjakannya sama-sama, tugasnya akan cepat selesai bukan?'' jelas Sasa sambil menaikkan satu kakinya.
Ardi memutar bola matanya dengan malas. Namun, apa yang dikatakan Sasa ada benarnya. Pekerjaannya saat ini yang dipegang memang cukup banyak dan berat.
Sasa tersenyum senang saat Ardi menerima tawarannya, kemudian dia berjalan ke arah dapur dan membuatkan minum untuknya dan juga Ardi. Namun ada sesuatu yang ditaburkan Sasa dalam minuman Ardi.
''Aku buatkan kamu minuman. Kita tidak mungkin bukan bekerja tanpa minum? Mungkin saja nanti kamu akan haus,'' ujar Sasa sambil meminum jus yang dia buat.
Tanpa rasa curiga apapunx Ardi langsung meminum jus tersebut dan menegaknya hingga habis setengah gelas.
Masuk jebakanku kamu sayang! Malam ini, kamu akan jadi milikku. batin Sasa.
BERSAMBUNG......
__ADS_1