
Happy reading......
Bagas yang mendengar kekehan putrinya merasa heran di sana.
Bagas : Kenapa kamu malah tertawa? Memangnya ucapan papa ada yang salah?
"Nggak ada yang salah sih, pah. Cuma lucu aja. Gimana dia mau macam-macam, sedangkan anak buah papa aja banyak?" Aurora semakin terkekeh.
Bagas : Ya sudah, jangan pulang malam-malam ya! Ingat!
Setelah mengatakan itu telepon pun terputus. Dan berbarengan dengan itu, makanan datang. Aurora yang melihat itu pun segera meminta Kevin untuk memakan makanannya, sementara dia masih mengerjakan tugas sambil sesekali memakan pasta.
"Apa tadi yang menelpon ada ayahmu?" tanya Kevin.
"Hmm." Aurora hanya menjawab dengan gumaman saja, tanpa menoleh ke arah pria itu sedikitpun.
Di luar hujan sudah berhenti dan cuaca kembali cerah, walaupun masih terlihat mendung. Jam juga sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Aurora sepertinya harus pulang, karena jika dia pulang terlambat, maka papanya akan marah.
"Apakah kamu akan pulang?" tanya Kevin.
"Iya, kau pulanglah duluan! Sekali lagi terima kasih sudah menolongku," jawab Aurora.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu!" tawar Kevin. Namun Aurora segala menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, terima kasih! Aku bisa naik taksi kok," jawab Aurora. Dan berbarengan dengan itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan Cafe Aurora, dan dia tahu mobil itu adalah milik keluarganya.
Seorang pria berbaju hitam turun dari mobil tersebut, lalu menundukkan tubuhnya di hadapan Aurora. "Nona muda, saya diperintahkan Tuan besar untuk menjemput Nona. Mari, silakan Nona masuk ke dalam mobil," ucap pria yang berumur 40 tahun tersebut.
"Aku sudah dijemput, terima kasih ya." Namun saat Aurora akan memasuki mobil, tiba-tiba saja ada seorang pengemis yang menghampiri dirinya.
"Nona, tolong kasih saya makan. Saya benar-benar lapar Nona, belum makan dari kemarin. Kasihan anak saya juga," ucap Ibu tersebut sambil menggendong seorang anak yang berusia tiga tahun, dan penampilan mereka begitu sangat kucel.
__ADS_1
"Hei, jangan mengemis di sini ya! Pergi!" usir satpam yang berjaga di sana.
"Pak, jangan bersikap seperti itu ya! Dia juga manusia," ucap Aurora pada satpam tersebut, dan pria itu langsung menundukkan kepalanya.
Kemudian Aurora langsung menatap ke arah pengemis itu, "Ibu belum makan?" tanya Aurora, dan pengemis itu langsung menggelengkan kepalanya. Bahkan dia bisa melihat tangan ibu-ibu itu terus bergetar seperti menahan lapar
"Tolong panggilkan salah satu pelayan ke sini!" titah Aurora pada satpam. Pria itu pun mengangguk, lalu masuk ke dalam dan memanggil salah satu pelayan.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut saat sudah sampai di hadapan Aurora.
"Tolong berikan Ibu ini makanan! Bungkuskan juga untuk anaknya ya, cepat!" titah Aurora pada pelayan tersebut. Dia langsung mengangguk, kemudian masuk kembali ke dalam.
Aurora membuka tasnya dan dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu memberikannya kepada Ibu tersebut.
"Nona, tidak usah! Ini terlalu banyak, saya diberi makan saja sudah cukup alhamdulillah. Setidaknya kami tidak kelaparan," ucap Ibu tersebut menolak uang dari Aurora.
"Tidak apa-apa, anggap saja ini adalah rezeki yang Allah berikan melalui saya. Terimalah, saya Ikhlas kok Bu," ucap Aurora sambil menyelipkan uang itu di tangan Ibu tersebut.
"Terima kasih Nona, Anda begitu baik. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi hidup Anda. Semoga Allah memberikan Anda pasangan hidup yang membahagiakan Anda sampai akhir hayat," ucap wanita tersebut.
Setelah itu, Aurora pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan cafenya. Sementara Kevin masih duduk di atas motor, menyaksikan kebaikan Aurora.
Dia tidak menyangka, jika Aurora memiliki empati yang begitu tinggi kepada orang yang berada di bawahnya. Entah itu adalah sebuah pencitraan, atau memang real karena sifat Aurora
'Apakah gadis itu memang sangat baik? Ataukah hanya pencitraan saja, karena dia ingin menarik perhatianku?' batin Kevin.
"Nona Aurora benar-benar sangat baik ya? Dia tidak pernah memandang pengemis ataupun orang jalanan. Itu semakin membuatku bangga bekerja di sini," ucap satpam kepada tukang parkir.
"Anda benar, Pak. Jika saja saya orang berada, mungkin sudah menjodohkan nona Aurora bersama putra saya. Sayangnya kami hanya dari keluarga biasa. Dan beruntungnya lagi, keluarganya nona Aurora juga sangat baik, terlebih Nyonya Bunga. Sepertinya memang sifat Non Aurora menurun dari mamanya?" jawab tukang parkir tersebut.
Kevin meninggalkan Cafe dengan pikiran yang terus tertuju pada Aurora. Baru sehari dia bertemu dengan gadis itu, tapi rasanya Kevin benar-benar penasaran dengan pribadinya.
__ADS_1
.
.
Di rumah.
Aurora masuk ke dalam, dan dia melihat sang adik sedang bermain game. Gadis itu pun menggelengkan kepalanya, karena tiada hari tanpa game bagi Arjuna.
"Ya ampun Arjuna, kamu sudah mengerjakan PR belum? Main game terus pekerjaannya. Bukankah beberapa hari lagi akan ada lomba di acara sekolah kamu?" heran Aurora.
"Iya, memang ada sih, Kak. Tapi udah aku kerjakan kok. Udah nggak usah khawatir," jawab Arjuna tanpa menoleh ke arah sang kakak.
Bunga yang melihat putrinya pulang segera menghampiri Aurora. "Sayang, tadi papa nelpon, katanya kamu dianterin sama cowok? Siapa, pacar kamu ya?" tebak Bunga sambil menyenggol bahu putrinya.
Selain menjadi seorang mama, Bunga juga menempatkan dirinya menjadi seorang sahabat bagi Aurora sedari dulu. Apalagi saat gadis itu beranjak dewasa.
Benar saja, Aurora semakin dekat dengan Bunga, bahkan jika dia ada apa-apa, gadis itu selalu bercerita dan menumpahkan keluh kesahnya pada sang mama. Walaupun Aurora mengetahui jika Bunga bukanlah mama kandungnya, tapi bagi Aurora Bunga adalah mama dari segala ibu.
"Apaan sih Mah. Bukan! Tadi itu temen akux anak baru yang pindahan dari Australia. Dia cuma menolong aku kok. Udah ah, Aurora mau mandi, belum shalat ashar," ujar gadis tersebut. Kemudian mencium pipi Bunga lalu beranjak meninggalkan ruang tamu untuk menuju kamarnya.
Bunga melihat sampai Aurora hilang di balik tangga. Dia tidak menyangka, gadis kecil yang dulu ditemuinya di taman yang sedang menangis, diurusnya sampai sekarang berusia 21 tahun, sudah dewasa.
''Waktu begitu cepat berlalu, sekarang kamu sudah menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Mama beruntung karena bisa mengurus kamu dari kecil, memberikan kasih sayang serta merawatmu," gumam Bunga dengan lirih.
Kemudian dia menatap ke arah Arjuna yang masih bermain game. Wanita itu pun berjalan ke arah televisi lalu mematikannya, membuat Arjuna seketika merenggut kesal dan menatap sang mama.
"Mama, kok malah dimatiin sih? Arjuna 'kan belum selesai. Itu bentar lagi menang!" kesal Arjuna pada sang mama.
"Ini sudah jam berapa, Arjuna? Kamu sudah shalat apa belum? Sana shalat dulu, jangan mentingin game! Di akhirat kelak tidak ada game, paham!" tegas Bunga.
Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia lupa bawa belum mengerjakan shalat ashar, kemudian anak berusia 10 tahun itu pun beranjak dari duduknya, lalu dia masuk ke dalam kamar untuk menunaikan shalat ashar.
__ADS_1
Bunga dan juga Bagas memang selalu menanamkan agama yang lumayan ketat dalam diri Aurora dan juga Arjuna. Karena mereka tidak mau jika putra dan putrinya kelak terjerumus ke dalam lembah hitam atau jalan yang salah.
BERSAMBUNG.....