
Happy reading.....
Sepulangnya dari mall, Mentari terus saja memikirkan tentang foto yang dia temukan, tetapi, wanita itu tidak enak jika harus bertanya kepada Ardi. Mentari takut, jika itu hanya akan memancing keributan antara mereka. Jadi dia hanya diam saja.
Tidak terasa waktu terus saja berjalan. Hari berganti minggu, lalu berganti bulanx dan besok adalah sidang terakhir keputusan pengadilan tentang hubungan Ardi dan juga Tina.
Malam ini, Tina tidak bisa tidur. Dia memikirkan tentang hari esok, di mana statusnya pasti akan berubah menjadi janda kembali untuk kedua kalinya.
Sebagai seorang perempuan, tentu saja Tina tidak ingin menjadi single parent untuk kesekian kalinya, tetapi, apa yang bisa Tina lakukan? Dia hanyalah manusia biasa yang hanya menjalani takdir dari Yang Maha Kuasa.
Namun, tiba-tiba saja di saat seperti itu, Tina malah merindukan Raka. Wajahnya yang mirip dengan Riko, membuat Tina ingin sekali melihatnya kembali, tapi anehnya, sudah hampir dua bulan lamanya Raka tidak ada kabar. Bahkan tidak pernah menemuinya.
''Raka ke mana, ya? Kenapa dia tidak ada kabar sama sekali? Bodohnya lagi, aku tidak mempunyai nomornya. Atau, aku minta sama mama aja? Tapi, malu ah. Lagi pula, aku 'kan belum resmi bercerai dari mas Ardi, dan belum siap untuk membuka hatiku kembali untuk pria lain,'' gumam Tina sambil menatap ke arah langit-langit kamar dengan sendu
Dia tidak ingin berdekatan terlebih dahulu dengan pria, apalagi wajah Raka selalu mengingatkannya kepada Riko. Ditambah, Tina juga masih berstatus istrinya Ardi. Walaupun sebentar lagi mereka akan ketok palu.
Pagi hari di kediaman Ardi, Mentari tidak bisa ikut ke sidangnya Ardi. Sebab di sekolah, Luke sedang ada lomba. Jadi dia tidak bisa menemani suaminya.
''Maaf ya Mas, aku beneran nggak bisa nganter kamu. Soalnya Luke nggak ada yang dampingin sih. Kata gurunya harus ada perwakilan orang-tua ke sana,'' ujar Mentari saat berada di meja makan.
''Iya, nggak apa-apa sayang. Aku ngerti kok, kalau kamu itu sibuk,'' jawab Ardi.
Setelah sarapan, Ardi pun menaiki mobilnya untuk berangkat ke pengadilan Agama. Sebab dua jam lagi sidangnya akan dimulai, dan Ardi tidak ingin telat. Ditambah dia ingin bertemu Tina dulu sebelum Hakim mengetuk palu.
__ADS_1
Sesampainya di sana, dia tidak melihat Tina. Mungkin saja, memang wanita itu belum datang, dan Ardi menunggu di kursi yang berada di sana. Tak lama, dua wanita datang, yaitu tante Imelda dan juga Tina.
Ardi beranjak dari duduknya, lalu tersenyum ke arah Tina. Sementara wanita itu hanya mengangguk kecil, kemudian duduk di kursi yang ada di seberang Ardi. Tina mengeluarkan ponselnya, mencoba mengalihkan pandangan agar tidak menatap ke arah pria yang saat ini berada di hadapannya.
''Tante, apakah boleh saya berbicara dengan Tina sebentar?'' pinta Ardi kepada tante Imelda.
Wanita itu menatap ke arah Tina, kemudian dia mengangguk. ''Bicaralah! Mungkin, memang kalian perlu untuk membicarakan sesuatu sebelum Hakim mengetuk Palu,'' ujar tante Imelda. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu, memberi ruang kepada Ardi dan Tina.
''Tina, setelah kita berpisah nanti. Aku mohon, jangan ada dendam di antara kita. Dulu kita ini sahabat, bukan? Dan aku mau hubungan baik ini masih terjaga, walaupun sudah tidak bersama lagi,'' ucap Ardi sambil menggenggam tangan Tina.
Wanita itu menarik napasnya dengan dalam. Sejenak dia memejamkan mata, mencoba untuk menguasai hatinya yang saat ini tengah hancur. Kemudian Tina menganggukan kepalanya.
''Kamu tenang saja! Aku tidak pernah membenci seseorang. Aku juga sadar kok, aku ini siapa dan bagaimana. Walaupun kita berpisah, tetapi Doaku selalu menyertai kebahagiaanmu dan juga Mentari. Semoga kalian selalu langgeng. Dan jangan pernah menyakitinya, seperti kamu menyakiti aku!'' jawab Tina sambil menatap Ardi.
Tidak terasa, sidang mereka pun dimulai. Keduanya masuk ke dalam ruangan Hakim dan tak lama Hakim mengetuk palu setelah membacakan poin-poin tentang perceraian mereka.
Air mata Tina lolos seketika, tapi dia segera menghapusnya. Wanita itu mencoba untuk tegar, agar tidak terlihat lemah di hadapan Ardi. Walaupun pada kenyataannya Tina memang saat ini tengah Rapuh.
.
.
Sepulang dari pengadilan, Ardi memutuskan untuk tidak ke kantor, sebab pikirannya saat ini tengah kacau. Dia mampir ke sebuah Cafe untuk merefreshkan pikirannya.
__ADS_1
Namun, saat Ardi tengah duduk, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang menghampirinya, dan saat Ardi melihat wajahnya, dia sangat kaget.
''Sasa!" kaget Ardi.
''Hay, Di, apa kabar? Sudah lama ya, kita nggak bertemu,'' jawab Sasa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kemudian Sasa menggeser kursinya, lalu duduk di sebelah Ardi dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Namun Ardi menghindar, tetapi Sasa malah sangat agresif. Dia menggandeng tangan Ardi.
''Jangan jutek-jutek sih! Kamu kayak kenal aku baru sehari aja. Aku kangen tahu! Lagi pula, kenapa sih, nomor kamu nggak bisa dihubungi?'' kesal Sasa sambil menekuk wajahnya.
''Aku 'kan sudah pernah bilang, sama kamu. Jangan pernah ganggu aku lagi! Kenapa kamu tidak menghiraukan ucapanku?'' Ardi berkata sambil mencoba melepaskan tangannya yang sedang dipeluk oleh Sasa.
Bukannya pikirannya jernih berada di sana, tetapi malah semakin ruwet, karena dia datangi oleh ulat bulu yang selama ini terus saja mendekatinya, tetapi Ardi tidak pernah suka. Dia hanya menganggap Sasa sebagai sahabatnya saja.
''Tapi, aku ke Indonesia juga karena ada kerjaan, sekalian aku ingin bertemu dengan kamu,'' ujar Sasa sambil terus bergelayut manja di bahu Ardi.
Ardi merasa tidak nyaman, tapi dia tahu sifat Sasa seperti. Wpa wanita itu akan terus saja memeluk dirinya, jika Ardi tidak mempunyai sebuah alasan. Makanya Ardi sedang berpikir alasan yang tepat agar bisa terlepas dari ulat bulu tersebut.
Saat dia sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya. Membuat kedua orang itu mendongkak dan menatap ke arah depan.
''MAS ARDI!'' bentak orang itu.
BERSAMBUNG......
__ADS_1
Tenang aja All, cerita Mentari dan Tina akan Imbang Kok😁Koment kalian bikin mood booster bgt❤❤❤❤