
Happy reading......
Ardi berkeliling kota untuk mencari keberadaan Mentari, tetapi tetap saja, dia tidak menemukan wanita tersebut. Dan itu membuatnya semakin pusing.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan saat dilihat tidak ada nama yang tertera. Nomor itu tidak tercantum di ponsel Ardi, tetapi tetap saja, pria itu mengangkatnya. Karena dia berpikir, takutnya itu dari klien.
''Halo,'' ucap Ardi saat telepon tersambung.
Yoga : Sebaiknya kau ke rumah sakit sekarang! Istrimu sedang berada di sini. Dia dirawat di RS Medika Jaya. Dia sedang berada di UGD.
Ardi mengerutkan dahinya saat mendengar seorang pria yang mengatakan, jika istrinya telah berada di rumah sakit. Namun saat Ardi akan bertanya kembali, telepon sudah terputus.
Seketika pikirannya mengarah kepada Mentari, pria itu pun langsung menuju RS Medika Jaya dengan kecepatan tinggi. Karena dia takut terjadi apa-apa dengan Mentari.
Saat sampai di sana, dia langsung menuju ruangan UGD. Karena pria tadi juga menyebutkan jika Mentari berada di sana.
Namun langkah Ardi seketika terhenti, saat melihat Yoga tengah duduk di depan ruangan UGD tersebut. Seketika amarahnya memuncak saat melihat Yoga. Dia tidak pernah menyukai pria itu, karena Ardi tahu, Yoga menyimpan perasaan kepada istrinya.
''Buat apa lo di sini, hah! Di mana Mentari?'' tanya Ardi tiba-tiba.
Yoga memandang ke arah Ardi, kemudian dia beranjak dari duduknya dan langsung melayangkan tinju ke wajah pria itu.
''Brengsek! Apa yang lo lakuin sama Mentari, hah! Seharusnya, lo itu sebagai suami bisa menjaga Istri lo! Nukan malah menyakitinya? Apa lo menikahinya hanya untuk menyakiti dia?!'' geram Yoga yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Ardi tidak terima, karena dia ditonjok oleh Yoga. Kemudian dia mencengkram kerah baju pria tersebut.
''Sebaiknya lo katakan, di mana istri gue, hah!'' bentak Ardi dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
''Lo pikir, Istri lo ada di mana? Tuh ada di dalam, dan gara-gara siapa? Semua gara-gara lo!'' jawab Yoga dengan tegas. Kemudian dia menghempaskan tangan Ardi dengan kasar.
Ardi terlihat sangat syok, sambil menatap ke arah ruangan UGD. Dia menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya apa yang Yoga katakan.
''Lo bohong! Nggak mungkin Mentari ada di situ. Buat apa?'' tanya Ardi dengan tatapan tidak percaya ke arah Yoga.
''Kau tanya untuk apa? Nanti kau akan mengetahuinya sendiri, setelah Dokter yang menjelaskan secara langsung,'' jawab Yoga sambil kembali duduk di kursi.
Saat Ardi akan menjawab ucapan Yoga, tiba-tiba saja Dokter keluar dari ruangan UGD. Dan Ardi yang melihat itu, tentu saja langsung menghampiri sang Dokter dan menanyakan, apakah benar Mentari berada di dalam atau tidak.
''Apa benar, pasien yang berada di dalam bernama Mentari?'' tanya Ardi.
''Benar, pasien di dalam bernama Ibu Mentari. Maaf, Tuan ini siapa ya?'' tanya Dokter tersebut.
''Saya suaminya Dok. Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok? Bagaimana dengan kandungannya?Mereka baik-baik aja, 'kan?'' Ardi bertanya dengan wajah yang sudah terlihat panik.
''Kami baru saja melakukan kuret terhadap ibu Mentari, karena bayi yang ada di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Sebab Ibu Mentari terlalu panik, jadi berpengaruh kepada kandungannya, sehingga mengalami pendarahan yang hebat,'' jelas Dokter tersebut.
Ardi terlihat begitu syok, seketika lututnya menjadi lemas. Dia duduk di kursi dengan tatapan kosong, karena secara tidak langsung, itu adalah salahnya. Dia yang sudah membuat mereka kehilangan anaknya.
''Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap,'' jelas Dokter tersebut. Kemudian dia masuk kembali ke dalam UGD.
.
.
Mentari memalingkan wajahnya saat melihat Ardi di sana. Pria itu bahkan mencoba untuk menggenggam tangan Mentari, namun segera ditepis kasar olehnya. Dia benar-benar merasa marah kepada Ardi.
__ADS_1
Air mata terus saja mengalir dari kedua mata indah milik Mentari. Bagaimana tidak? Dia harus kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, bahkan sebentar lagi mereka akan melakukan syukuran, tetapi bayi itu sudah harus kembali kepada sang Pencipta, dan semua gara-gara Ardi.
''Sayang, aku minta maaf. Aku---''
''Pergi Mas! Pergi kamu dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu. Apa maafmu bisa mengembalikan anak kita?nTidak 'kan? Sebaiknya kamu pergi sekarang!'' Mentari mengusir Ardi.
Namun pria itu menggeleng dengan cepat, dia tidak ingin meninggalkan Mentari.
''Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini. Sayang, tolong dengarkan dulu penjelasanku! Kamu salah paham.''
''Apa kamu bilang? Salah paham? Sudahlah Mas, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini! Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu dulu! Tolong mengerti Mas. Tolong!'' Mentari berkata dengan suara yang serak.
''Sebaiknya lo pergi dari sini sekarang! Biarkan Mentari untuk sendiri dulu. Dia butuh waktu. Seharusnya lo juga mengerti tentang perasaannya saat ini. Sebab semua juga terjadi karena lo,'' timpal Yoga.
Ardi menatap ke arah pria itu dengan tajam. Dia tidak menyukai jika Yoga ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Namun saat ini Mentari tidak ingin melihatnya dulu, dan dia tidak punya pilihan lain, selain pergi dari sana.
Dengan langkah gontai, Ardi keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Mentari dan juga Yoga di dalam. Sebenarnya dia sangat berat, tapi apa yang dikatakan Yoga memang ada benarnya. Mentari membutuhkan waktu, dan dia pasti akan kembali untuk menjelaskannya kepada wanita itu.
Dia berpikir, jika semua itu terjadi karena Sasa. Jika saja wanita itu tidak datang ke kantornya, dan mengancam untuk menikahinya. Mungkin saja rumah tangga Ardi dan juga Mentari saat ini masih adem ayem, dan bayi yang ada di dalam kandungan Mentari pun masih ada.
''Kamu benar-benar membuatku marah Sasa!'' geram Ardi dengan tatapan penuh kemarahan.
Tangannya terkepal dengan sorot mata yang tajam. Rahangnya sudah mengeras, dadanya menggebu-gebu ingin memberi pelajaran kepada Sasa, tetapi dia tidak boleh gegabah.
Sesampainya di mobil, Ardi segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Sasa untuk mengajak wanita itu bertemu. Dia akan memberikan pelajaran kepada Sasa, karena sudah bermain-main dengannya.
''Kau membuatku menjadi singa, Sasa. Aku tidak akan melepaskanmu untuk hal ini!'' Ardi berkata dengan amarah yang sudah tidak tertahan lagi. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju apartemen yang sudah lama dia tinggalkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG......