Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Mulai Merubah Diri


__ADS_3

Happy reading.........


Mentari keluar dari kamar mandi. Dia melihat Ardi tengah duduk sambil memegang ponselnya, kemudian wanita itu berjalan ke arah sisi ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Namun, baru saja matanya akan terpejam, tiba-tiba Ardi mengatakan sesuatu. ''Apa kamu dan Yoga ada hubungan? Apa kamu menceritakan tentang masalah rumah tangga kita kepada dia?'' tanya Ardi dengan kesal.


Mentari yang mendengar itu mengerutkan dahinya, kemudian di beranjak dari tidurnya, lalu duduk bersandar di sandaran ranjang, kemudian menatap Ardi dengan bingung.


''Maksudnya?'' bingung Mentari.


''Maksudku, apa kamu ada cerita tentang masalah rumah tangga kita kepada teman priamu itu, hah!'' Ardi berkata dengan intonasi yang sudah naik satu oktaf.


''Maksudnya apa, Mas?'' Mentari masih belum mengerti dengan ucapan Ardi.


Tanpa menjawab, Ardi melempar HP ke arah pangkuan Mentari. Sedangkan wanita itu yang merasa bingung, segera mengambil ponselnya lalu melihat ke arah layar tersebut yang menunjukkan pesan dari Yoga.


{Apapun itu masalah kamu, tetap semangat. Ingat, aku akan selalu ada untuk kamu, Mentari.}


Ardi tentu saja sangat geram saat membaca pesan itu. Dia tidak menyangka, jika Mentari membicarakan perihal rumah tangganya kepada pria lain. Padahal Ardi tahu, Yoga sangat mencintai Mentarix karena dia juga seorang laki-laki. Bisa membedakan bagaimana tatapan teman dan juga tatapan cinta.


''Jawab aku! Kenapa, kamu diam saja? Kamu membicarakan perihal masalah rumah tangga kita, sama pria itu?!'' tanya Ardi dengan nada yang membentak.


''Maaf Mas, aku tidak tahu harus berbicara kepada siapa lagi. Hanya kak Yogalah yang bisa mengerti a---''


''Oh, jadi pria itu yang bisa mengerti kamu? Lalu, aku bagaimana? Aku ini suami kamu, Mentari!'' bentak Ardi sambil beranjak dari duduknya dan menatap Mentari dengan tajam.


Wanita itu terjingkat kaget saat mendengar bentakan dari Ardi. Dia tidak menyangka, jika suaminya mampu berkata kasar dengan suara tinggi seperti itu. Padahal selama ini Ardi tidak pernah sama sekali membentak dirinya.


.


.

__ADS_1


Sudah beberapa hari setelah Tina dirawat di Rumah Sakit, wanita itu pun akhirnya pulang, tetapi tidak ke kediaman Anjasmara, tapi Tina pulang ke rumah tante Imelda dan juga om Wira.


Tadinya Tina juga ingin pulang ke apartemen miliknya, tetapi, tante Imelda melarang. Sebab dia ingin Tina tinggal bersamanya, karena walau bagaimanapun, mereka tidak mempunyai Putra ataupun Putri di rumahnya. Sedangkan Tina, sudah mereka anggap sebagai anaknya.


''Apa kamu benar-benar sudah yakin dan bulat, akan bercerai dari Ardi?''tanya tante Imel lagi, saat mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumah.


''Insya Allah, Mah. Aku siap,'' jawab Tina dengan mantap, walaupun saat ini hatinya hancur.


Tak lama pintu ruangan terbuka, dan ternyata itu adalah Raka. Tante Imelda menatap pria itu dengan bingung, sebab yang dia tahu suaminya yang akan menjemput mereka.


''Lho, Nak Raka. Kok kamu di sini?'' tanya Tante Imelda dengan bingung.


''Iya Tante, tadi om Wira menelpon saya. Katanya saya suruh menjemput Tante dan juga Tina, sebab om Wira ada urusan,'' jelas Raka.


Tante Imelda pun mengangguk, kemudian mereka keluar dari ruangan dan pulang ke rumah diantar oleh Raka. Dengan perlahan, tante Imelda mendorong kursi roda Tina sampai di parkiran.


Wajah wanita itu terlihat begitu pucat, tetapi senyum terus terukir di wajahnya. Dia tidak pernah menyerah dengan keadaan yang saat ini tengah dihadapinya, karena Tina yakin, Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan untuknya.


.


.


''Hari ini, 'kan kamu ada kemoterapi ke Rumah Sakit. Nanti Raka akan mengantarkanmu. Mama harus ke arisan sebentar untuk izin, setelah itu, baru Mama menyusul ke Rumah Sakit ya. Nggak papa, 'kan?'' tanya tante Imelda saat berada di kamar Tina.


''Nggak papa, Mah,'' jawab Tina sambil tersenyum.


Terdengar Bi Leha mengetuk pintu, dan mengatakan jika Raka sudah datang. Tante Imelda yang mendengar itu segera menggandeng Tina untuk keluar dari kamarnya, menuju ruang tamu.


''Nak Raka, maaf ya, kalau Tante merepotkan,'' ucap tante Imelda saat duduk di sofa yang ada di hadapan Raka.


''Iya Tante, tidak apa-apa. Lagi pula, saya juga hari ini lenggang kok. Tidak ada meeting juga,'' jawab Raka sambil menatap ke arah Tina, sedangkan wanita itu menatap ke arah lain.

__ADS_1


Tina memang sengaja tidak menatap ke arah Raka, karena setiap melihat pria itu, apalagi matanya, mengingatkan dia kepada Riko. Di mana mata teduh tersebut selalu menatapnya penuh kasih sayang dan cinta.


Setelah itu, mereka pun berangkat ke Rumah Sakit. Selama di dalam mobil, Raka hanya diam saja bersama dengan Tina. Mereka sama-sama merasa canggung, walaupun sudah kenal satu sama lain.


''Maaf ya, jika aku merepotkanmu,'' ucap Tina mengangkat suara.


''Iya, nggak papa, santai aja kali. Kayak sama siapa aja,'' jawab Rqka sambil menatap Tina sekilas, kemudian dia kembali menatap jalanan.


Sesampainya mobil di Rumah Sakit, Ardi segera membantu Tina, tetapi wanita itu menolak saat Ardi akan memegangnya. Dia sudah berubah, tidak membiarkan orang yang bukan muhrimnya memegang dirinya.


Tidak terasa, mereka pun sudah selesai melakukan kemoterapi, dan sekarang Tina sedang terbaring di atas ranjang pasien untuk memulihkan tenaganya.


Tak lama tante Imelda datang. ''Maafkan Mama ya, sayang, jika lama. Soalnya tadi ada urusan sebentar,'' ucap tante Imelda kepada Tina.


Padahal wanita itu sengaja pergi dengan waktu yang lama, karena tante Imelda ingin Raka bersama dengan Tina. Dia yakin, pria itu mampu membahagiakan putrinya.


Tiba-tiba ponsel Raka berdering, lalu pria itu pun mengangkatnya, tetapi raut wajah Raka seketika menjadi panik.


''Baiklah, aku akan ke sana sekarang,'' ucap Raka. Setelah itu dia mematikan teleponnya.


''Nak Raka, ada apa?'' tanya Tante Imelda dengan penasaran.


''Nggak papa, Tante. Saya harus pergi sekarang. Soalnya ada urusan mendadak, tidak apa-apa, kan?'' tanya Raka.


''Tidak apa-apa, Nak,'' jawab tante Imelda.


Pria itu pergi dari sana setelah berpamitan kepada tante Imelda dan juga Tina. Dia harus menuju kantor, karena ada hal penting yang disampaikan oleh asistennya, dan Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Semoga saja tidak terjadi apa-apa. batin Raka.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Surat yusuf ayat-87


Jadi jangan pernah kita berputus asa ya dears😘


__ADS_2