
Happy reading......
Kabar kesembuhan Tina sampai juga ke kediaman Anjasmara, karena Bunga menyampaikan itu semua saat berada di meja makan. Dan dan mama Ranti yang mendengar itu pun berniat akan ke rumahnya om Wira untuk menengok keadaan mantan menantunya tersebut.
"Alhamdulillah, aku ikut senang kalau Tina sudah sembuh. Itu artinya, dia bisa menggapai bahagia bukan bersama dengan Raka?" ucap Bagas di sela-sela makannya.
Dia sengaja berkata seperti itu di hadapan Ardi, karena ingin melihat reaksi adiknya. Dan benar saja, wajah Ardi terlihat tidak suka saat mendengar Bagas mengatakan pernikahan.
Entah kenapa, Ardi masih tidak menyukai Tina bersanding dengan Raka. Walaupun dia sudah mencoba untuk ikhlas dan merelakan Tina bahagia bersama orang lain, tetap saja, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh Ardi.
Selesai makan malam, Ardi langsung masuk ke kamar. Dia tidak kumpul dulu bersama keluarganya di ruang tv menonton acara. Sementara itu, Mentari hanya menatap suaminya dengan tatapan heran.
'Mas Ardi kenapa ya? Dari tadi terlihat diam saja saat membicarakan pernikahannya mbak Tina? Apa mas Ardi tidak suka, jika mbak Tina menikah lagi? Tapi kenapa?' batin Mentari merasa heran.
Pagi telah tiba, matahari Sudah terbit memancarkan sinar yang begitu terang nan hangat. Udara dingin berganti dengan cuaca yang panas, setelah beberapa hari hujan terus mengguyur kota itu, hingga menyebabkan beberapa tempat terendam banjir.
Pagi ini saat keluarga Anjasmara sedang sarapan, tiba-tiba saja ada pelayan masuk dengan nafas yang sudah terengah-engah dan wajah yang sedikit panik, membuat semua orang yang ada di meja makan menatapnya dengan heran.
"Ada apa Bi? Kenapa Bibi terlihat begitu panik?" tanya Bagas.
"Itu Tuan Bagas, di luar ada wanita yang sedang ngamuk-ngamuk, ingin bertemu dengan Tuan besar dan juga Nyonya," jawab pelayan tersebut.
Mama Ranti dan juga papa Randy seketika melirik satu sama lain, kemudian mereka beranjak dari duduknya dan pergi ke depan, setelah meminta pelayan untuk membawa masuk wanita tersebut.
"Siapa ya, yang ingin bertemu kita, Pah? Kok dia sampai ngamuk-ngamuk kayak gitu?" tanya mama Ranti pada suaminya.
"Papa juga tidak tahu, Mah. Sebaiknya kita tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia akan datang," jawab apa Randy.
Di ruang tamu, kini ada Bunga, Bagas, Ardi, Mentari dan juga kedua orang tuanya. Sementara untuk Aurora, Arjuna dan juga Luke, mereka masih berada di meja makan bersama dengan pelayan.
__ADS_1
Tak lama pelayan datang bersama dengan seorang wanita yang pakaiannya sudah kompang-kamping, seperti seorang gembel. Awalnya mereka tidak mengenali wanita itu namun, seketika mata Ardi terbelalak kaget, saat melihat siapa wanita yang sedang ngamuk-ngamuk di kediamannya.
'Sasa!' batin Ardi dengan kaget.
Mentari terlihat mengepalkan tangannya, saat melihat wanita itu. Sementara Bunga, mama Ranti dan juga papa Randy terlihat bingung dengan wanita yang datang ke kediaman mereka, dengan pakaian yang sudah tidak layak pakai.
Ardi yang melihat Sasa di sana, seketika beranjak dan hendak mendekati wanita itu. Namun ditahan oleh Mentari, dia menatap Ardi dengan tajam, hingga membuat pria itu pun tidak melanjutkan langkahnya lagi.
Sementara Bagas hanya tersenyum miring saja, saat melihat adiknya kelabakan tentang kehadiran Sasa. Dia juga sudah mengetahui jika Sasa kabur. Namun, Bagas tidak melakukan apapun, karena itu adalah urusan adiknya.
"Maaf Mbak, kata pelayan, Mbak mencari saya? Memangnya ada apa, ya? Apa saya mengenal Anda?" tanya mama Ranti.
"Saya ke sini karena ingin bertemu dengan Ardi," jawab Sasa dengan sorot mata yang tajam penuh amarah.
Kemudian wanita itu mendekat ke arah Ardi, lalu menamparnya dengan kuat di hadapan semua orang. Bunga dan kedua mertuanya tentu saja terlihat begitu shock, tetapi tidak dengan Bagas dan juga Mentari.
Papa Randy dan juga mama Ranti melihat satu sama lain dengan kepala menggeleng dan bahu terangkat. Mereka tidak tahu menahu apa yang dimaksud oleh Sasa.
"Maaf Nona, Anda ini kenapa tiba-tiba datang dan langsung menampar Putra saya? Ada masalah apa?" tanya papa Randy.
"Sebaiknya kita duduk dulu, baru bicarakan! Tidak enak sambil berdiri seperti ini," timpal Bagas menengahi.
Kemudian mereka pun duduk di sofa sambil menatap ke arah Sasa dan juga Ardi bergantian. Bahkan Mentari pun ikut merasa heran, kenapa Sasa menampar suaminya. Padahal mereka sudah melakukan hal yang diluar batas.
"Sekarang bisa jelaskan,.kenapa Anda menampar Putra saya? Dan Apa masalah Anda dengan Ardi?" tanya papa Randy kepada Sasa.
Wajah Ardi seketika menjadi tegang, dia takut Sasa akan membongkar semuanya. Namun, kali ini Ardi tidak bisa berkutik.
"Saya mencintai Ardi, Om. Saya sangat mencintainya. Sehingga saya ingin memiliki dia. Segala cara sudah saya halalkan untuk mendapatkan Ardi. Mungkin memang ini namanya cinta buta, tapi itu yang saya rasakan, hingga saya menjebak Ardi dan kami sampai tidur bersama." Sejenak Sasa menghentikan ucapannya.
__ADS_1
Mendengar kata tidur bersama, mama Ranti dan juga Bunga menutup mulutnya dengan wajah yang kaget. Sementara Mentari memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ardi, apa benar yang dikatakan wanita itu? Kamu sudah tidur dengan dia?!" tanya mama Ranti dengan nada yang meninggi.
"Mah, tenang dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan dia," ucap papa Randy menenangkan istrinya.
Kemudian Sasa menjelaskan bagaimana dia menjebak Ardi, hingga membuat video. Setelah itu Sasa juga menjelaskan, bagaimana Ardi menghukum dirinya, hingga dia harus digilir oleh dua orang anak buahnya sampai disiksa. Untung saja Sasa bisa lolos dari sana, dan sampai di kediaman Anjasmara.
Papa Randy yang mendengar itu tentu saja sangat kaget. Seketika kepalanya menjadi pusing, dia memijit keningnya yang terasa ditusuk-tusuk saat mendengar tentang apa yang Ardi lakukan kepada Sasa.
Sementara mama Ranti begitu sangat syok, dia sampai memegangi dadanya. Nafasnya terengah-engah, setelah itu dia tidak sadarkan diri, membuat semua orang yang berada di sana menjadi panik.
"Mah ... Mamah, bangun!" panggil papa Randy sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.
Dengan cepat pria itu pun menggendong istrinya ke kamar, dan menyuruh Bagas untuk menelpon Dokter keluarganya.
"Nona, sebaiknya kau pulang sekarang, nanti diantar oleh supirku! Kita akan bicarakan masalah ini lain kali," ucap Bagas kepada Sasa.
"Tapi Tuan, saya harus menyelesaikan masalah saya dengan Ardi. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," jawab Sasa tak mau kalah.
"Apa Anda tidak lihat! Bagaimana kondisi mama saya? Ini semua juga gara-gara Anda. Sudah, sebaiknya sekarang Anda pulang!" tegas Bagas.
Kemudian dia memanggil sopirnya untuk mengantarkan Sasa pulang. Sementara Ardi hanya diam saja, bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Ardi saat melihat Mentari beranjak dari duduknya."
"Lepas! Jangan sentuh aku, Mas! Aku kecewa sama kamu," jawab Mentari sambil melepaskan tangan Ardi dengan kasar.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1