
Happy reading.....
Selesai acara di rumah tante Imelda, Tina akan pulang ke apartemennya, diantar oleh Raka. Namun, dicegat oleh tante Imelda. Wanita itu meminta Tina untuk tidak pulang ke apartemen, karena dia masih merindukan Cahaya.
Tante Imelda juga menyarankan agar Tina menginap di rumahnya, sebab Cahaya juga sedang sakit. Dia takut wanita itu tidak bisa mengurus Cahaya sendirian, karena keadaan Tina juga masih dalam tahap penyembuhan.
Malam ini, Tina merasa bingung, apakah dia harus mengantarkan Raka dan menemani pria itu untuk acara temannya atau tidak. Karena melihat kondisi Cahaya juga sudah mulai membaik.
Suara pintu kamar Tina diketuk, dan masuklah tante Imelda. Dia berjalan dan duduk di tepi ranjang, lalu menepuk sampingnya meminta Tina untuk duduk.
''Pergilah! Temani Raka ke acara temannya. Biar Cahaya, Mama yang jaga,'' ucap tante Imelda sambil memegang tangan Tina.
Wanita itu cukup terkejut, saat mengetahui jika tante Imelda tahu tentang permintaan Raka yang memintanya untuk menemani ke acara sahabatnya.
''Kok, Mama bisa tahu?'' tanya Tina dengan heran.
''Raka yang memberitahu Mama. Sudah, sebaiknya kamu pergi temani Raka ya! Biar Cahaya Mama yang jaga. Lagi pula, badannya sudah tidak panas 'kan?'' ujar tante Imelda.
Tina pun mengangguk, dia tidak bisa menolak permintaan wanita itu. Kemudian, dia berjalan ke arah ruang ganti dan mengganti gamisnya dengan yang lebih anggun berwarna ungu muda, dipadukan dengan pashmina berwarna putih.
Setelah memoles wajahnya dengan make up yang natural, Tina berjalan ke lantai bawah. Di mana di sana Raka sudah menunggunya di ruang tamu.
Tatapan pria itu terpaku saat melihat Tina yang berjalan begitu anggun dan juga cantik mendekat ke arahnya. Bahkan matanya tidak berkedip sama sekali.
''Berkediplah Raka! Nanti lalat masuk ke mulut kamu,'' ledek om Wira pada putranya.
Raka tersadar dari lamunannya, kemudian dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Namun, tidak dia pungkiri, jika Tina memang benar-benar sangat cantik. Dia seperti melihat bidadari yang baru saja menjelma menjadi seorang manusia.
Benar-benar wanita yang sangat cantik dan sempurna. batin Raka.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman om Wira untuk menuju tempat acara dilaksanakan.
Tidak ada pembicaraan selama di dalam mobil, hanya ada keheningan saja. Raka juga sibuk melihat Tina dari sudut ekor matanya. Sebab dia begitu terpesona dengan kecantikan Tina.
Sesampainya di tempat acara, Raka membukakan pintu mobil untuk Tina, kemudian mereka pun masuk ke dalam. Di sana sudah ada teman-teman Raka yang sudah datang lebih dulu.
''Hai Bro, happy birthday ya. Semoga panjang umur dan cepat diberi calon istri,'' ledek Raka pada sahabatnya sambil menepuk pundak pria yang saat ini tengah berada di hadapannya.
''Thanks Bro, lo udah datang. By the way, ini siapa? Bebetan lo, atau calon istri lo? Cantik juga,'' ucap Ferry sahabat Raka.
''Itu ... iya, dia calon istriku,'' jawab Raka.
Tina membulatkan matanya saat mendengar jawaban Raka. Dia menatap pria itu dengan heran, saat mengatakan jika dia adalah calon istrinya di hadapan sahabatnya.
''Kalau begitu, aku ke sana dulu ya. Have-fun untuk pestanya,'' ucap Raka pada sahabatnya. Kemudian dia berjalan ke salah satu meja lalu duduk di kursi.
''Raka, maksud kamu apa berbicara seperti itu tadi? Kenapa kamu ngaku sama dia, kalau aku ini calon istri kamu?'' tanya Tina saat sudah berada di meja.
Entah kenapa, perasaan Tina ada yang aneh saat Raka menyebutnya sebagai calon istri. Namun, wanita itu segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin berharap banyak, karena walau bagaimanapun, Tina sadar waktunya di dunia ini tidak banyak.
''Aku tidak suka Raka, kamu berbicara seperti itu. Kita ini tidak ada hubungan apapun,'' jawab Tina dengan suara datar.
Dia merasa kesal, karena Raka menyebutnya sebagai calon istri. Sementara mereka tidak ada hubungan apapun. Kemudian Tina menekuk wajahnya, yang awalnya dia merasa senang menemani Raka ke sana, tetapi wanita itu cukup merasa kesal dengan ucapan Raka.
Sementara Raka hanya tersenyum saja, saat melihat wajah kesal Tina. Lalu dia memberikan kode kepada sahabatnya melalui mata.
Tiba-tiba saja lampu yang berada di ruangan tersebut padam, hingga membuat suasana gelap gulita. Tina sedikit panik saat melihat itu, kemudian satu lampu menyala, dan ternyata di sana sudah ada Raka yang sedang berdiri dengan sebuket bunga mawar pink di tangannya.
Tina masih bingung dengan keadaan sekitar, hingga wanita itu kaget saat satu lampu menyorot ke arahnya, membuatnya sedikit silau. Lalu Raka berjalan ke arah Tina dan semakin mendekat, kemudian dia berlutut di hadapan wanita itu.
__ADS_1
''Tina Anindita! Aku tidak tahu, kapan cinta ini tubmbuh? Kapan perasaan ini datang, dan kapan hati ini berpaut kepadamu? Tetapi satu yang aku yakini, Allah telah mengirimkanmu kepadaku untuk kudapatkan, ku cintai dan kusayangi. Aku tidak peduli, berapapun kamu gagal dalam percintaan. Aku tidak peduli, berapapun kamu gagal dalam pernikahan. Aku tidak peduli dengan statusmu. Karena yang aku lihat, bukan semua itu, tetapi cinta, ketulusan dan kasih sayang yang ada di dalam dirimu yang membuatku jatuh cinta, hingga memantapkan hati ini untuk bersamamu,'' ucap Raka panjang lebar.
''Raka, apa yang kau---''
''Aku mencintaimu, Tina! Will you marry me?'' Raka memotong ucapan Tina, membuat wanita itu kaget dan menutup mulutnya.
Tina tidak menyangka, jika saat ini dia tengah dilamar oleh seseorang. Bayang-bayang di mana Riko pernah melamarnya dulu, terlintas di benaknya, tetapi beda, saat ini yang sedang melamarnya adalah sang kakak dari almarhum calon suaminya.
''Terima ... terima ... terima ...'' Sorak sorai semua orang yang berada di ruangan itu.
Terharu. Itu sudah pasti. Bagaimana tidak? Sudah lama sekali Tina tidak diperlakukan seromantis ini oleh seorang pria, karena sejatinya wanita memang ingin dicintai dan disayangi serta diberikan hal-hal yang romantis, sekecil apapun oleh pria.
Seketika, Tina menggeleng saat dia mengingat tentang penyakitnya. Tina tidak ingin jika nanti Raka akan kecewa, karena Tina harus pergi lebih dulu.
''Kamu 'kan tahu, aku sedang sakit keras? Aku ini bukan wanita yang sempurna. Aku memiliki banyak kekurangan. Aku ini seorang janda. Bahkan, aku sedang mengidap kanker otak, dan waktuku mungkin tidak banyak lagi? Aku tidak ingin kamu kecewa, Raka,'' jawab Tina sambil menitikan air mata.
Sesak, tentu saja dirasakan oleh wanita itu. Bagaimana tidak? Disaat ada seseorang yang mencintainya dengan tulus, setelah kepergian Riko, tetapi dirinya malah mengidap penyakit yang begitu mematikan.
Raka berdiri dan memegang tangan Tina, kemudian dia menaruhnya di depan dada. Ruangan itu pun kembali hening, karena menyaksikan keromantisan Raka dalam mengungkapkan sebuah perasaan kepada pujaan hatinya.
''Kamu bisa merasakan detak jantungku, bukan? Aku bahkan tidak perduli, mau statusmu janda atau kamu sedang sakit. Jangan pernah, kita berkata mendahului takdir! Ajal, rezeki dan jodoh, hanya Allah yang tahu. Aku mencintai kamu tulus, lillahi ta'ala,'' tutur Raka dengan nada yang lembut dan tatapan penuh cinta.
Tina semakin menangis saat mendengar ucapan Raka. Dia tidak menyangka, jika pria itu ternyata selama ini menyimpan rasa kepadanya.
''Apa kamu yakin, dengan keadaanku yang sakit seperti ini?'' tanya Tina memastikan.
''Sangat yakin! Bahkan, keyakinanku tidak terbatas untuk menjadikanmu bidadari satu-satunya di dalam hidupku,'' jelas Raka sambil menggenggam erat tangan Tina.
''Bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku, Tina? Menjadi ibu dari anak-anakku? Kita akan berjuang bersama, apapun itu yang terjadi kedepannya, semua sudah jalan takdir Allah,'' sambung Raka kembali meminta jawaban dari Tina.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Hayoo looh si Tina nya Bingung guys🙄🙄