Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Sebuah Tisue Bernoda Darah


__ADS_3

Happy reading.....


Malam hari semua tengah berkumpul di meja makan, untuk makan malam. Suasana di sana tidak secanggung kemarin, bahkan mama Ranti sudah bisa bercanda dengan Luke di meja makan dan sudah akrab bersama dengan Mentari.


Tina menatap ke arah Ardi, saat pria itu mengusap bibir Mentari. Di mana ada sebutir nasi yang menempel di ujung bibirnya. Ada rasa panas yang menjalar di hati Tina, tapi wanita itu segera menundukkan kepalanya.


''Nggak papa Mas, harusnya kamu kasih tahu aku aja, biar aku yang bersihin,'' ucap Mentari merasa tak enak kepada Tina.


''Kamu 'kan Istri aku, sudah seharusnya aku yang menjaga kamu,'' jawab Ardi.


Semua terdiam, tapi Bagas tidak bisa lagi menahan emosinya. Kemudian dia membanting sendok dan juga garpu di atas piring dengan sedikit kasar, sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras.


''Seharusnya kau itu bisa menjaga martabat sebagai seorang suami. Kau mempunyai dua istri, dan harusnya adil kepada mereka. Bukan hanya berpihak pada satu saja. Tidakkah kau pikirkan, bagaimana perasaan Tina?'' geram Bagas sambil menatap Ardi dengan tajam.


Kemudian pria itu beranjak dari duduknya. ''Loh Mas, kamu mau ke mana? Makanannya belum habis,'' ucap Bunga.


''Seleraku hilang, melihat seorang suami yang tidak pernah bisa adil kepada istrinya!'' sindir Bagas dengan tajam.


Setelah itu dia meninggalkan meja makan, tidak peduli Ardi menatapnya dengan bingung. Tentu saja Ardi merasa heran dengan sikap kakaknya yang seakan tidak menyukai dia mempunyai dua istri, apalagi selalu menyindir dirinya dengan kata tidak adil, walaupun faktanya memang seperti itu.


Ardi menatap ke arah Tina yang sedang menundukkan kepalanya sambil memakan nasi yang ada di piring. Bahkan istri pertamanya itu tidak menatap ke arah dirinya.


Setelah makan malam selesai, Bunga menggendong Arjuna untuk masuk ke dalam kamar. Sementara Aurora menyelesaikan tugas sekolahnya, dan mama Ranti serta papa Randy masih berada di meja makan.

__ADS_1


''Mah, Pah, kalau begitu Tina masuk ke kamar duluan ya. Badan Tina masih merasa tak enak,'' ujar Tina dan langsung dibalas anggukan oleh kedua mertuanya.


Papa Randy menatap ke arah Ardi dan Mentari bergantian. ''Ardi,'' panggil papa Randy.


''Apa yang dikatakan Bagas itu, ada benarnya. Kamu harus adil kepada kedua istrimu. Jangan karena hanya kamu mencintai Mentari, kamu tidak adil kepada Tina. Dia juga istrimu, Ardi! Patut mendapatkan kasih sayang dan perhatianmu. Papah hanya takut, mungkin sekarang kamu tidak merasakan apapun. Namun sekuat-kuatnya seorang wanita, ada batas kesabarannya juga, dan mungkin saat itu tiba, penyesalan hanya akan datang di akhir,'' jelas papa Randy.


Setelah menasehati anaknya, pria paruh baya itu pun masuk ke dalam kamar diikuti oleh mama Ranti. Sejujurnya mama Ranti juga sangat setuju dengan ucapan Bagas dan suaminya, karena sekuat-kuatnya Tina pasti wanita itu juga akan merasa lelah. Walaupun pernikahan mereka karena sebuah wasiat dan amanah.


Ardi terlihat diam, dia mencerna setiap perkataan dari Bagas dan juga papanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ardi merasakan jua jika dia memang sangat tidak adil kepada Tina. Dan Mentari yang melihat itu segera menggenggam tangan Ardi.


''Cobalah untuk membuka hati kamu, Mas. Kasihan mbak Tina. Aku akan sangat bahagia, jika kamu berbuat adil kepada kitax tetapi jika kamu hanya berpihak kepadaku, maka mungkin pernikahan kita hanya akan dilandasi penderitaan batin,'' jelas Mentari.


Ardi menganggukkan kepalanya. ''Baiklah sayang, aku akan mencobanya, tapi malam ini bolehkan aku meminta jatah?'' goda Ardi. Namun Mentari segera menggeleng.


Ardi terlihat berat hati, tapi dia pun tidak bisa menolak permintaan istri tercintanya tersebut. Kemudian dia berjalan ke arah kamar Tina dan mengetuk pintunya. Namun tidak ada jawaban, lalu pria itu pun masuk ke dalam, tetapi tidak menemukan Tina sama sekali.


'Di mana dia?' batin Ardi sambil meneliti ke seluruh kamar tapi, tidak menemukan Tina.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan wanita itu keluar memakai piyama tidur. Tina kaget saat melihat Ardi berada di kamarnya. Dia pikir saat ini suaminya itu tengah berada di kamar madunya, tapi ternyata Tina salah. Namun dia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, mungkin saja memang Ardi ke sana untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.


''Mas Ardi, kamu kok ke sini?'' tanya Tina.


''Memangnya kenapa? Tidak boleh aku ke kamar istriku sendiri?'' Ardi duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Tina berjalan ke arah ranjang dan duduk di seberang Ardi. ''Tidak apa-apa kok, Mas. Hanya aneh saja. Lagi pula, kamu dan Mentari 'kan masih pengantin baru? Masa sudah ditinggal aja?'' ledek Tina mencairkan suasana.


Padahal siapa yang menyangka, jika saat ini dadanya sedang bergemuruh hebat menahan sebuah gejolak rasa sakit,nkarena mengingat pernikahan Mentari dan Ardi. Namun Tina tidak ingin egois, sebab itu adalah permintaannya


''Aku akan tidur di sini, untuk malam ini. Karena Mentari yang meminta,'' jelas Ardi.


Tina hanya mengangguk saja tanpa menjawab, apalagi saat mendengar jika mentari yang memintanya. Wanita itu kembali merasakan sakit, bukan karena permintaan Mentari, tetapi karena Ardi yang tidak punya pendirian. Mungkin jika saja madunya tidak meminta Ardi untuk tidur di sana maka pria itu tidak akan pernah masuk ke dalam kamarnya


Tina membaringkan tubuh di atas kasur sambil membelakangi Ardi. Satu tetes air mata lolos membasahi bantal yang sedang dia tiduri. Namun, wanita itu melipat bibirnya ke dalam, agar tidak terdengar isak tangis, hingga tidak terasa dia terlelap dalam tidurnya.


Tengah malam, Ardi bangun. Dia ingin ke kamar mandi dan masih melihat Tina terlelap dengan nyenyak. Kemudian kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menunaikan hajatnya. Namun saat Ardi akan keluar dari sana, tiba-tiba matanya tertuju pada tong sampah, di mana ada sebuah tisu yang bernodakan darah, lalu dia pun mengambilnya.


''Ini 'kan darah, tapi darah siapa? Apakah darahnya Tina? Tapi, kok ada di sini? Apa dia terluka?'' ucap Ardi dengan suara yang lirih.


Kemudian dia kembali membuang tisu itu, lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan menatap Tina yang sedang tidur dengan lelap, memandangnya dengan tatapan yang begitu dalam. Dahi Ardi mengkerut heran mengingat tisu yang berlumuran darah.


Dia yakin, itu bukanlah darah haid milik Tina. Tidak mungkin seorang wanita mengelap darah haidnya sendiri dengan tisu, sedangkan pembalut sudah tersedia dan itu membuat sebuah teka-teki di dalam pikiran Ardi. Apalagi dengan perkataan Mentari dan juga Bagas yang selalu mengatakan jika penyesalan akan dirasakan olehnya.


'Apa Tina sedang sakit? Tapi dia terlihat baik-baik saja selama ini, tidak ada yang janggal sama sekali,' batin Ardi. Kemudian dia membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


...Bersambung.........


Ardi kelewat gak peka😒Masa kalah sama Bagas yang tajam dlm pemikiran🤦🏼

__ADS_1


__ADS_2