TAKDIR KU

TAKDIR KU
100.PUNYA SUAMI BEREWOKAN


__ADS_3

Bahkan anah berencana pasang pagar bambu, biar peliharaan nya tidak lagi ke sawah Sugi.


"Gimana mau ada gadis yang mau nikah sama dia coba, galak begitu metdi(setan). Kalau begini aku mau nenek minta bambu sama Mbah Kokom. Paling tidak ini peliharaan gak lagi ke sawah itu lagi."Anah berbicara sendiri dengan mengiring ke kandang.


Pikiran Anah akan lebih baik jika bebek dan entok itu di kandangin. Maka tidak akan ada keributan lagi.


Setelah selesai dengan urusan bebek dan entok, Anah melanjutkan makannya.


Setelah zhuhur nenek pulang ke sawah, mendengar suara ricuh di dalam kandang. Segera ia ke kandang, melihat pintunya di ganjal dengan kayu besar.


Dan melihat di depan kandang ada Iinpohon yang masih basah. Nenek menatap ranting pohon tersebut, pasti sudah terjadi sesuatu.


Segera ia berjalan ke kamar mandi, setelah cuci tangan dan kaki. Nenek langsung masuk rumah lewat pintu belakang. Yang memang tidak pernah di gembok, hanya di ganjal dengan kayu besar. Namun tidak ada yang tau selain anah dan neneknya.


begitu masuk melihat Anah yang tidur pulas, di ranjang ruang tamu. Dan kini sudah tau jika bebek dan entok, Anah lah masukkan kandang.


Nenek ke dapur mau makan, tapi Anah belum makan. Karena terlihat dari lauk yang di masak belum ada yang mengambil sama sekali.


Setelah makan nenek kembali ke ruang tamu membangun kan Anah. Dengan menggoyangkan badannya, juga di memanggil Anah.


"Anah... Anah.... bangun he bangun Anah."Panggil Nenek dengan nada sedikit tinggi.


"Eem ... iya-iya aku bangun."Gumam Anah, sembari duduk mengucek matanya.


"Emang sekarang jam berapa nek?"tanya Anah yang masih merem. Karena capek, membuat Anah malas bangun.


"Makanya melek lihat jam, sudah sholat apa belum?"tanya Nenek.


"Oh..., belum tadi habis kandangin entok dan bebek, makan dan tidur."Jawab Anah, setelah membuka matanya dan melihat jam dinding.

__ADS_1


"Karena apa kamu masukin di siang bolong begitu? kamu kalau di kurung juga tidak mau? begitu juga bebek dan entok. Pasti ribut minta keluar, gak betah jika di kurung?"tanya Nenek, dengan menyamakan dengan Anah.


"Ya aku gak mau lah Nek. Kalau aku kan tidak merusak tanaman orang. Coba kalau aku belum pulang, pasti sudah jadi bangkai itu semua. Untungnya aku sudah pulang, sampai aku yang lagi makan keselek. Masih untung juga, aku masih hidup gak bablas."Jawab Anah dengan kesal. Dan tidak terima jika di samakan dengan bebek yang sedang di kurung.


"Kalau bisa itu minta bambu atau beli saja nek. Kalau beli suatu hari nanti tidak akan ada membangkit-bangkit bambu itu. Kalau belum buat pagar jangan di keluarkan itu peliharaan."Langsung pergi dari hadapan Nenek menuju kamar mandi.


Nenek tercengang lalu berpikir, bahwa apa yang di katakan Anah ada benarnya.


"Lah jadi dia yang ngatur, tapi ada benarnya juga. Lebih baik aku minta bambu sama Paino. Sugi emang keterlaluan, jangan harap bisa dapat cucuku. Aku yakin Anah tidak akan mau juga, kalau melihat sikapnya begitu."Gumamnya Nenek.


Lalu nenek sambil nunggu Anah selesai sholat, ia makan sirih. Melihat Anah membawa piring dan makan, membuat nya menggeleng.


"Katanya tadi habis makan tidur, lah ini habis tidur makan lagi."Ujar Nenek.


"Ya lapar ini kan sudah jam setengah dua nek. tadi aku makan jam 10 an, ya pasti lapar lagi. Apa lagi tadi mau tidur perang sama bebek dan entok. Tidur juga sama, bangun tidur di marahin Nenek kan aku jadi capek dan lapar."Ujar Anah langsung menyuap makanannya.


"Ya sudah burung habis itu, minta bambu sama pakde Paino saja. Besok kan minggu, kita buat ya. Nanti sehari juga jadi, langsung pasang biar tidak brojol lagi ke sawah Sugi."Ujar Nenek.


Setelah selesai Anah langsung pergi bersama Neneknya ke rumahnya pak Paino.


...****************...


Seminggu telah berlalu, saat ini Anah santai membersihkan lingkungan rumah. Karena rumput sudah pada tinggi, selesai dengan mencabut rumput. Makanya Anah menyapu supaya bersih, tapi dapat komentar dari neneknya.


"Anah kamu itu kalau nyapu yang bersih, jangan ada yang ketinggalan begitu."Ujar Nenek.


"Ya elah nek, protes terus dari tadi. Ngabut rumput gak boleh ada ya tersisa, sekarang nyapu juga. Aku udah capek males tau nek, biar sajalah kan gak banyak."Bantah Anah, sudah lelah mendengar ocehan neneknya yang menurutnya tidak penting.


"Kalau mau bersih itu jangan tanggung-tanggung Anah. Harus bersih sekalian, memang nanti kamu mau kalau punya suami berewokan?"tanya Nenek.

__ADS_1


Anah mencerna ucapan neneknya, dan membayangkan punya suami berewokan.


Dia langsung bergidik ngeri, bagi Anah ngeri kalau punya suami berewokan.


"Hiii aku gak mau lah, serem, orang berewokan kan gak ganteng nek. Kayak bapak aja yang cuma berkumis, bagi ku kurang ganteng. Apa lagi berewokan, adu amit-amit jabang bayi."Ujar Anah sambil ngusap perutnya, mengikuti emak-emak yang dia lihat.


(Nah para pembaca dan author jangan tersinggung ya. Jika ucapan Nenek dan Anah menyinggung hati author dan para suami yang berewokan. Selera masing masing, tapi jujur saya author yang tidak suka berewokan.)


"Kalau gak mau, buruan di selesaikan keburu sore."Perintah Nenek.


"Ya nek, tapi nanti ya nek. Aku sudah tidak semangat capek nih."Keluh Anah dengan muka melas.


"Kalau dari awal kamu kerjakan sendiri, maka di pertengahan meski lelah kamu tetap kerjakan. Jangan sampai kamu sampai kamu minta bantuan atau sampai ada yang membantu...."Ujar Nenek, tapi menggantung.


Anah mencerna lagi ucapan dan nenek, lalu bertanya apa maksudnya.


"Kenapa Nek?"tanya Anah.


"Maksudnya. Nanti kalau kamu punya suami, sesulit apa pun. Selama dalam pernikahan jangan kamu minta bantuan sama perempuan lain. Apa lagi sampai perempuan lain itu membantu mu. Apa mau suami mu di layani perempuan lain dan akhirnya suami mu nikah lagi. Itu artinya, sama dengan kerja mu yang sekarang. Maka kalau dari awal sendiri harus selesai sampai akhir. Kalau begitu sama dengan kamu siap di madu. Pada akhirnya yang enak suami mu, punya istri dua. Kamu yang sakit hati dan menangis dia tidak perduli."Penjelasan Nenek panjang lebar dan penuh makna yang terkandung.


Anah jadi tau apa yang di maksud neneknya, dan itu akan menjadi pelajaran bagi Anah.


Akan di ingat terus, tidak akan ia lakukan.


Karena dia tau apa yang di katakan orang tua itu suka nyata.


"Ah ini akan aku catat sampai aku tua. Jangan di madu jadi madu pun aku gak mau. Nanti aku jadi mama tiri lagi, kalau aku jadi mamak tiri berarti aku jahat lagi."Kata Anah dalam hati.


"Baik Nek, aku selesai kan sendiri, aku gak mau nanti suami ku nikah lagi. Dan nanti rebutan terus kalau mau tidur, kayak di film-film."Ujar Anah dan langsung melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2