TAKDIR KU

TAKDIR KU
45.MASA LALU JUMADI & SARINEM 2


__ADS_3

Yah di tinggal tidur deh, mamak ada-ada saja. padahal tadi aku hampir dapat jatah apem mentul."gerutu jumadi, lalu menyusul istrinya masuk alam mimpi.


...****************...


Dua bulan berlalu, Inem kini sering mual dan muntah setiap pagi. Namun ia juga tetap harus ke sawah, di sawah kini dia ikut menanam padi. Karena jika di rumah ia merasa stres, mendengar ocehan mertuanya. Para tetangga mereka kasihan, kenapa bu Irah gak pernah punya perasaan terhadap menantunya. Sudah baik, rajin, tidak pernah membantah, setiap di perlakukan tidak baik sama mertuanya.


"Inem kenapa kamu ikut ke sawah, kalau di sawah kamu tidak bisa istirahat." Ujar tetangganya yang bantu menanam padi.


"Saya tambah pusing bi kalau di rumah."Jawab Inem.


"Eh Nem, kalau bibi lihat badan mu itu tambah berisi. Terus kamu mual dan muntah ya? sudah berapa hari?" bertanya lagi


"Masak sih bi, saya hanya merasa kalau dada saya saja, agak besar dan sakit. Kalau mual dan muntah baru dua hari ini."Kata Inem


"Coba nanti sore kamu pergi ke bidah baru itu. Bidan Hilda kalau tidak salah. Siapa tahu kamu ini lagi isi, kalau tebakan bibi benar. Kamu harus ekstra hati-hati, dalam bekerja, dan tidak boleh terlalu banyak pikiran."Kata ibu itu.


"Dek, kamu sakit? kalau tidak kuat jangan di paksain ya, duduk di gubuk saja ya."Kata Jumadi.


"Aku pengen kerja tapi rasanya lemes banget mas."Jawabnya.


"Jum, saran bibi nanti sore kamu bawa ke rumah bidan Hilda, sepertinya Inem lagi isi."Kata ibu yang dari tadi dampingi Inem.

__ADS_1


Mendengar ucapan tetangganya, sungguh itu harapan Jumadi ingin segera memiliki momongan. Jumadi langsung saja memeluk istrinya beberapa detik kemudian ia membantu Inem berdiri dan mengajak ke gubuk.


"Sepertinya benar apa yang di katakan bibi, karena kalau mas perhatikan kamu belum bulanan kan? yok adek ke gubuk saja istirahat, katanya lemes." Jumadi berkata dengan lembut, dan menuntun ke gubuk.


"Adek di sini aja ya, mas gak mau kamu kenapa-napa. Mas tau kalau kamu di rumah, pasti tidak bisa istirahat."Tutur Jumadi, lalu mencium kening istrinya sebelum beranjak.


Sore hari Jumadi mengandeng tangan Sarinem untuk pergi ke rumah bidan, yang jaraknya sekitar 1 km. Rumah tinggal sekaligus tempat praktek, bidan Hilda Larasati. Dan hasil pemeriksaannya benar, jika saat ini Sarinem sedang mengandung. Hasil pemeriksaan kini memasuki bulan ketiga. Sungguh ini kebahagiaan yang di tunggu-tunggu, oleh Jumadi dan Sarinem.


Sebulan kemudian Jumadi merantau ke pabrik gula, yang memang harus keluar kota. Parno dapat mandat, untuk menjaga kakak iparnya. Mereka berdua memang jarang bicara. Namun setelah kepergian Jumadi, Parno jadi sering mengajak bicara. Seperti menanyakan hal yang sepele, namun bagi pandangan orang, itu berbeda. Walaupun usianya mereka berbeda 3 tahun. Karena Sarinem memiliki tubuh yang kecil dan imut. Sedangkan Parno lebih besar dan tinggi dari Sarinem. Mereka berpikir seumuran meskipun mereka tau, kalau Sarinem kini tengah mengandung. Gosip tak luput dari mereka berdua, tapi itu hanya segelintir orang saja. Lebih banyak yang percaya, bahwa Parno dan Sarinem tidak mungkin berbuat yang tidak baik. Terlebih dirumahnya ada bu Irah, yang selalu membuat Sarinem kelelahan. Dengan tujuan agar Sarinem mengalami hal buruk.


"Mak biar mbak yu istirahat, kasihan udah perut besar masih saja mamak suruh-suruh."Kata Parno, merasa bingung ini yang pantas di sebut ibu, punya niat buruk untuk cucunya.


"Maaf mak, saya tidak pernah pakai yang mamak sebut itu. Karena saya ingat yang bapak saya katakan, itu tidak baik."Sarinem berkata dengan lembut, menahan air matanya menetes.


"Halah gengsi, mengakui kalau kamu pakai susuk/pelat kan. Orang-orang di sini di obati, giliran bapaknya Jumadi. Bapak mu bahkan tidak di rumah, sekalinya datang saat bapak Jumadi meregang ajalnya."Mengungkit masalah yang Sarinem dan Parno tidak tau masalah ini.


"Mak sudahlah masalah itu, yang aku dan mbak yu tidak pernah atau belum tau. Apa kalau mamak bicarakan lagi, bapak bisa hidup lagi. Mbak sana sholat isya terus tidur, tidak usah mbak yu pikirkan omongan mamak."Titah Parno pada kakak iparnya.


"Ya Par terima kasih." Sarinem langsung pergi ke sumur, untuk ambil air wudhu. Setelah itu menyelesaikan kewajiban Sarinem langsung merebahkan diri. Kini ia hanya ingin merilekskan tubuh dan pikirannya.


...****************...

__ADS_1


Beberapa bulan berlalu, kini usia kandungan Sarinem sudah memasuki 9 bulan. Ia masih juga membantu di sawah, buat memanen padi. Walaupun tidak angkat-angkat berat, semua tetangganya yang sama-sama berada di sawah. Melihat sarinem benar-benar iba, dari usia kandungan 4 bulan, suaminya pergi merantau.


Sarinem harus ngurusin sawah dengan perut besarnya. Setelah selesai panen, sambil menjemur padi. Pikirannya dia juga sangat senang persiapan untuk melahirkan. Sudah cukup, seperti beras, ayam, tinggal buat beli perlengkapan bayi.


Nanti ia akan minta bantuan kakaknya Yani, untuk beli perlengkapan pas dia lahiran. Beras dan ayam untuk persiapan, penyambutan bayi pemberian nama. Itu di laksanakan pada hari ke 3 atau seminggu.


Tapi semua diluar dugaan Sarinem, ketika dia mau melahirkan. Semua habis di jual oleh mertuanya, hingga beras tersisa untuk makan selama seminggu.


Sedangkan ayam yang tersisa induk dan anak ayam yang baru menetas dua mingguan. Iya tahu setelah melahirkan, dan melihat lubang pada padi kosong. Ayam yang di kandang biasanya pagi hari sangat berisik dengan suara ayam berkokok. Kini tinggal suara ayam pitik, sedangkan ia ingin acara besok.


"Ya Allah kenapa nasibnya anak ku begini, apa dosaku ya." Menangis sejadi jadinya.


Parno yang mendengar kakak iparnya menangis histeris pun serba salah.


Dia sendiri masih sekolah yang kini duduk di bangku SMA. Ia tidak tahu apa yang dilakukan mamaknya. Setelah semua habis di jual oleh mamaknya, kini mamaknya juga tidak ada di rumah. Entah kemana kini mamaknya, hingga saat ini ia masih bingung. Kakak iparnya menangis histeris hingga mengudang tetangga kiri kanan dan depan.


Kini orang sudah kumpul di rumahnya, melihat Parno menangis tak bersuara. Ia malu, marah, dan sedih jadi satu. Mamak dan masnya tidak ada. Kakak iparnya menderita karena ulah mamaknya. Dan di benar benar tidak bisa apa-apa kali ini. Pegang uang saja tidak, untuk makan saja tidak ada. Ia yang tadinya mau berangkat sekolah tidak jadi. Ketika melihat kakaknya iparnya masuk kamar dengan memegang dadanya.


"Par itu mbak yu mu kenapa?..."


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2