
"Mak kenapa itu nenek tega ya sama cucunya, padahal Anah anak yang baik dan penurut."Kata Sugi.
"Itu karena si nenek sihir itu tidak setuju, jika lek Jum nikah sama bi Inem. Makanya dia jadikan Anah pelampiasan, sehingga anah yang di siksa. Sungguh malang nasibnya gadis kecil itu, semoga Allah SWT berikan perlindungan pada Anah."Ucapan doa di akhir kalimat itu di amin kan kedua putranya.
"Aamiin"ucap Sugi dan Warto.
"Mak kalau nanti Anah sudah gede aku langsung nikahin aja boleh ya Mak?"Warto bertanya pada mamaknya.
"Emang kenapa harus Anah?"bukannya menjawab pertanyaan anaknya malah balik tanya.
"Karena aku suka dan sayang sama Anah ia mak."Jawab Warto.
Sugi yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. Kadang dia ilfil dengan adiknya itu, tapi dia sendiri suka dengan Anah.
"Mak, waktu mamak hamil Warto itu ngidam apa sih, apa kelamaan di perut. Hingga tua sebelum waktunya, masih remaja kencur pengen nikah buru buru."Kata Sugi, membuat Warto kesal, karena ucapan Sugi. Membuat Anah menjaga jarak dengan nya, karena tidak mau dimarahi.
"Mamak rasa Anah gak akan besar di sini War. Kalau pun dia masih hidup juga, gak mungkin di sini. Anah kalau seperti ini terus belum tentu kuat, kita yang mendengar jeritan anah begitu miris."Kata bu Kokom, tak terasa air matanya menetes di pipinya. Ia bisa merasakan betapa malangnya nasib Anah.
...****************...
Di tempat lain, yaitu tempat tinggal Johan.
Pak rudi yang mendengar jeritan Anah meski tidak kencang dari rumahnya. Namun sudah sebulan ia merasa miris, Johan yang memang suka jahil pada Anah pun sekarang merasa kasihan.
"Pak kenapa lek Jum kemarin tidak ajak Anah aja ya. Kan kasihan Anah, kemarin pulang dia aku ajak main aja gak mau. Terus di ajak petik jambu juga gak mau biasanya Anah paling senang. Aku lihat juga lengannya biru biru, pasti yang beberapa hari lalu dia nangis."Ujar Johan.
"Iya itu juga yang bapak pikir kan. Karena kalau di sini terus lama lama. Bapak takut anah meninggal dengan mengenaskan."Kata pak rudi.
"Hus... bapak kalau ngomong jangan sembarangan, kita doakan saja yang terbaik untuk anak malang itu."Tegur istrinya.
__ADS_1
"Ih serem dong pak." Kata Johan.
...****************...
Satu minggu berlalu, Anah baru pulang sekolah. Sudah janji sama Johan dan Angga mau main taplak di depan rumah.
"An tar kita main yok, di depan rumah mu saja ya."Kata Angga dan di angguki oleh Johan.
"Ya deh tapi kalau tidak di marahin nenek lagi."Jawab Anah.
"Kenapa kamu tidak ikut bapak kamu aja An, dari pada setiap hari di siksa sama nenek mu yang jahat itu."Kata Johan.
"Bagaimana cara untuk ikut, aku juga ikut bapak dan ibu. Kalau aku juga selalu di suruh ngalah kalau lagi nggak punya beras banyak. Ibu juga bilang aku itu mbak, harus ngalah sama adek. Karena adek tidak doyan singkong atau nasi tiwul. Aku kan doyan, jadi aku gak boleh makan nasi. Terus kalau pun aku ikut mereka gimana aku sekolah. Masak aku harus putus sekolah dong Jo, aku nanti jadi tambah bodoh." Kata Anah sambil berjalan pulang.
"Iya juga. Eh An nanti aku kerumah mu oke."Kata Johan. Mereka berpisah karena sudah sampai persimpangan dekat rumah.
Sampai rumah langsung ganti bagu. Sedangkan nenek, lagi bersih kan ayam yang sudah di potong. Mencabut bulu dan membersihkan isi perut nya.
Habis itu dia makan, selesai makan mencuci piring.
Nenek menyerahkan daging ayam pada Anah.
"Nek aku mau main ya di depan rumah sama mas Angga dan Johan." Kata Anah meminta izin pada nenek.
"Gak boleh main, main terus pikiran mu."Omel Nenek
"Kenapa aku tidak boleh main nek?"tanya Anah.
"Tidak ada main-main dan banyak tanya!" bentak nenek,pada cucunya itu.
__ADS_1
"Cepat ini masak daging ayam ini, setelah masak bawa ke sawah. Jangan lupa nasi juga masak. Nenek berangkat duluan."Kata Nenek, setelah panjang lebar memberitahu Anah. Baru ia berangkat ke sawah dan tidak perduli dengan Anah.
Anah hanya mengelus dadanya, sudah biasa di perlakukan seperti itu dengan neneknya.
Ia dengan cepat meracik bumbu, kali ini Anah haru ekstrak cepat. Pasti sebelum jam setengah satu ia harus sudah sampai sawah.
Kini sudah jam setengah sebelas, setelah meracik bumbu.
Anah mengupas kelapa, dari kulit hingga batok kelapa. Setelah itu ia segera parut. bahkan tak jarang tangan Anah ke parut, parutan kelapa. Sedang marut kelapa Angga dan Johan sudah datang. Mereka menuju pintu dapur yang menuju sumur.
"An, lagi masak apa? pakai marut kelapa segala. Jadi gak main?" tanya Angga
"Aku harus segera ke sawah mas, aku gak bisa main, maaf ya."Kata Anah dengan raut wajah sendu.
"Gak papa An, kamu yang sabar ya. Nih tangan mu kena parut kan. Kenapa itu nenek mu jahat banget sih. Apa kamu kemarin tidak ngadu, sama bapak mu?"tanya Angga.
"Gak mas, aku tidak mau bapak jadi berantem sama nenek. Nenek begitu karena benci sama ibuku. Biar aku saja yang merasakan jangan ibu dan bapak. Mas nanti kalau bapak pulang jangan ngadu ke mereka ya. Aku kasihan sama bapak dan ibu, mereka harus cari duit yang banyak buat sekolah aku dan adek. Dan bapak juga lagi cari duit biar bisa punya rumah sendiri di sana. Biar tidak numpang lagi sama bude Parti."Kata Anah panjang lebar. Sambil masak kini tinggal buat santannya. Dan jika sudah selesai langsung ke sawah.
"Ya kamu selesai kan, nanti hati-hati kalau berangkat ke sawah ya."Ujar Angga.
"Semangat An, kamu pasti kuat. Kamu kan anak hebat tahan banting." Celetuk Johan yang dari tadi hanya diam akhirnya bersuara.
"Terima kasih Jo."Ucap Anah, yang mendapat support dari Johan.
Anah mengangkat nasi yang sudah matang, lalu di masukan ke baskom. Sedangkan ayam di masukin rantang tiga susun. Di angkatnya ke teras rumah satu satu. Setelah itu ia menggembok pintu, lalu dia menggulung handuk. Setelah di gulung ia letakkan di kepala dan baskom nasi yang sudah di bungkus pakai kain segiempat. Lalu rantang berada di tangan kiri. Tangan kanan harus memegang baskom, jika tidak akan jatuh.
Ketika di tengah perjalanan Anah sudah merasa lelah dan kepala juga berasa panas. Ia berteduh dulu di pinggir sungai, setelah mendingan ia menyebrang sungai. Dengan membawa satu persatu bawaannya, karena harus ekstra hati-hati.
*****Bersambung....
__ADS_1
Apakah Anah akan kena marah lagi atau tidak?