TAKDIR KU

TAKDIR KU
150.AKU GAK BETAH PAK


__ADS_3

"Oh berarti nanti kalau nikah pun sampean tidak akan tinggal di sini?" tanya Asri.


"Kalau itu aku belum tau, kan jodoh kita belum tau dapat orang mana."Jawab Anah.


"Kan tergantung mbak mau sama siapa dan orang mana. La tadi mbak tolak, berati mbak tidak suka dengan orang sini."Kata Asri, mengingat kan Anah yang tidak memberikan jawaban pada Septyadi.


"Kamu pikir jodoh itu kita yang menentukan, kadang yang tinggal menikah saja gagal. Apa lagi yang masih pacaran kayak kamu itu." Kata Anah.


"Hehehe kan kalau pacaran cari yang pas mbak, yang sesuai dengan keinginan kita."Kata Asri.


"Mboh lah Sri mumet ndasku, ora pacaran we gawe mumet opo meneh pacaran.( Terserah lah Sri pusing kepala ku, gak pacaran aja pusing apa lagi pacaran)."Ucap Anah sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.


"Mbak Anah mah gitu, Ya wes(sudah) aku mau pulang. Ini sudah malam besok kita main lagi ya."Kata Asri sambil berdiri hendak pulang dari rumah Anah.


"Ya, kalau aku masih di rumah ya." Kata Anah asal.


Karena Anah tadi sore sudah telepon pak Yatno, untuk mengabari bapaknya. Dan kalau Anah pulang bapaknya harus pulang.


Asri sudah keluar dari rumah Anah setelah pamit sama nenek. Kemudian nenek menutup pintu, karena sudah malam. Lalu berbicara pada Anah sebentar sebelum ke kamar.


"Nduk tadi pakde Yatno ngomong apa?" tanya Nenek.


"Katanya sih mau di sampaikan besok pagi, yang kebetulan bapak lagi di desa bukan kawasan."Jawab Anah.

__ADS_1


"Ooo ya sudah, ini sudah malam lebih baik tidur besok kesiangan." Kata Nenek.


"Iya neh, Udin juga sudah tidur kayak nya."kata Anah langsung jalan ke kamar sama Udin.


Di rumah ini malah kamar cuma tiga, jadi kalau tidur ya berbagai. Kalau ada Monik, maka Anah tidur sama Monik. Tidak sama Udin, karena kalau ada orang tuanya Udin ingin tidur sama ibu dan bapaknya.


...****************...


"Tiga hari telah berlalu Anah kini sudah ada kedua orang tuanya. Namun Monik juga tidak mau pulang dan milih di desa tempat nyari rejeki.


"Anah kamu ini sudah mau tujuh belas tahun, sudah waktunya kamu menikah tidak usah nunggu delapan belas tahun. Ada pemuda yang ingin menikah dengan kamu, dan tidak mau nikah kalau bukan sama anak-anak bapak."Kata pak Jumadi.


"Aku gak mau di jodohkan pak, aku sudah punya pacar kok di Jakarta. Aku pulang cuma sebentar dan tidak lagi kerja dengan nyonya Kristine. Aku lagi nunggu kabar dari mbak Lilis."Kata Anah.


"Itu yang kerja sama Koko Tony."Jawab Anah.


"Memang dia pindah ke mana?"tanya bu Sarinem.


"Dia pindah ke sunter Jakarta pusat bu, sudah dua bulan."Jawab Anah.


"Kenapa kamu masih saja mau kesana. Kamu ini semenjak ke Jakarta, jadi sak karep mu Dewe(jadi semau mu sendiri). Bapak beli rumah di sini di tanah kelahiran mu, supaya kamu betah kalau kamu tidak suka di kebun. Di sini banyak toko-toko atau kamu mau jualan di pasar gitu. Tidak perlu ke Jakarta.... terus, kamu kalau di sana itu mental sendiri. Di sini banyak saudara dari bapak dan ibu mu." Kata pak Jumadi panjang lebar.


"Aku gak betah pak." Kata Anah.

__ADS_1


"Apa yang membuat tidak betah ini rumah ini? rumah ini juga sudah sebagai hasil dari jerih payah mu. Bapak dan ibu tidak akan memaksa mu lagi ikut ke kebun."Kata pak Jumadi.


"Eh tapi aku juga tidak akan tinggal di sini pak aku ini kan perempuan. Tidak mungkin aku yang menentukan akan tinggal di mana. Sebagai perempuan, aku akan tinggal dengan suamiku. Kecuali aku anak bontot yang di minta untuk menempati rumah orang tuanya."Kata Anah yang tidak suka dengan aturan orang tuanya.


"Kenapa apa kamu tidak akan tinggal di sini dan akan mendapatkan orang Jakarta begitu? Jangan mimpi terlalu tinggi Anah. Mana mungkin kamu bisa tinggal di sana, apa lagi dengan orang perantauan." Kata bu Sarinem.


Yang sudah kesal dengan Anah, tidak bisa di atur seperti Monik. Yang tidak pernah membantah sama orang tuanya. Anah semenjak kenal Jakarta, tidak bisa di atur lagi selalu saja membantah.


"Ya memang aku akan tinggal di Jakarta, bagaimana pun hidup ku nanti setidaknya aku tidak akan pernah ibu atur lagi. Kenapa harus aku yang kalian jodohkan itu Monik? Bukan kah Monik anak yang selalu membanggakan kedua orang tuanya? Sampai kapan pun jangan harap aku mau kalian jodohkan. Karena aku juga tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau. Maka itu juga yang akan kalian terima, tidak akan pernah aku menuruti permintaan kalian."Lalu Anah beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar rumah dan duduk di teras.


Anah melihat jalanan yang sepi dan ketika ada kendaraan lewat. Maka debu berterbangan kemana-mana bahkan sampai ke teras rumah. Padahal jarak jalanan ke teras kurang baik 7-8 meter. Apa lagi jika jarak jalan dan rumah cuma berjarak 2-3 meter. Seperti rumah yang di seberang jalan sana, Anah menggeleng kan kepala.


"Dengan apa lagi menasehati Anah ya mas, kan aku cuma ingin Anah berhasil dalam mencari penghasilan. Aku cuma tidak ingin Anah jadi orang yang amburadul."Keluh bu Sarinem.


"Sebenarnya kamu yang salah dek, dia sudah besar, kamu perlakuan seperti anak kecil terus. Bahkan kamu tidak percaya dengan dia, jadi dia pun merasa tidak ada hak atas uang nya sendiri. Monik dari kecil kumpul bareng kita, mau apa pun juga bisa. Sedangkan tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Apa lagi bersama kita, rasa tidak punya orang tua itu gak enak dek."Kata pak Jumadi.


"Aku juga tau itu mas aku juga sudah gak punya orang tua."Kata bu Sarinem yang tidak ingin di bandingkan dengan anaknya, yang masih memiliki orang tua yang lengkap.


"Lah adek itu sudah gak punya orang tua juga sudah segede Anah ini 17 tahun. Anah seperti itu juga banyak faktor yang membuat dirinya merasa sendiri. Selagi dia baik-baik saja, biarkan saja. Mulai sekarang jangan lagi di minta ini dan itu, apa lagi mengenai hasil kerja nya."Nasehat pak Jumadi pada istrinya.


"Lah terus anakmu itu mau jadi apa to mas. Lagian ini semua salah mas dan mamak, secara tidak langsung anak itu membenci orang tuanya sendiri. Coba saja mas tidak membuat Anah kecewa, aku gak akan kena imbasnya mas. Sakit hati aku mas, saat Anah bertanya aku ini ibu kandung apa tiri."Bu Sarinem tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Hingga menangis sesenggukan lalu berjalan menuju ke kamar.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2