TAKDIR KU

TAKDIR KU
140.FIRASATNYA


__ADS_3

Setelah selesai dengan kerjaan nya pak Jumadi masuk ke dapur. Lalu mengambil gelas, di isi kopi tanpa gula. Dan di tambah kan air panas, dari termos air panas. Lalu diaduk biar kopinya larut dengan rata.


"Lek kenapa kopinya tidak pakai gula? Apa lek Jum tidak kepahitan?"tanya Izah.


"Lagi pengen yang murni Zah. Kalau masalah rasanya pak lek mu ini sudah dari dulu juga merasakan pahit. Jadi sudah biasa jika merasakan pahitnya kopi tanpa gula."Jawab pak Jumadi, sesuai alur cerita hidupnya. Yang sudah dari kecil merasakan pahitnya hidup.


Kalau pahitnya kopi tanpa gula memang sudah biasa di rasakan. Kalau pun ada istrinya di rumah kalau dia sering minta kopi tanpa gula. Apa lagi istrinya sedang tidak ada, hal itu juga untuk mengenang kehidupan nya bersama istrinya. Yang entah di mana sekarang berada, yang belum jelas.


Izah dapat melihat bahwa pak leknya sangat frustasi saat ini. Bahasa nya begitu mengena di hati, yang bersangkutan. Seperti nenek yang saat ini hanya menunduk dan mendengar sindiran anaknya.


CETAAR


Pak Jumadi kaget, karena gelas yang di pegang. Yang hendak di bawa ke ruang tamu bersama Seswanto. Namun gelas itu jatuh dan menjadi 5 bagian. Dan kaki pun terasa panas karena kena percikan air kopi panas.


Di saat akan membawa gelas itu, di waktu yang bersamaan pak Jumadi mendengar teriakkan Anah. Sehingga membuat pak Jumadi yang tersentak itu, menjatuhkan gelas yang ada di tangan nya.


Pak Jumadi yakin kalau Anah sedang tidak baik-baik saja. Selama ini firasatnya selalu benar terhadap anak sulungnya. Memang pak Jumadi dan Anah memiliki kontak batin yang sangat kuat. Hal itu yang membuat pak Jumadi tidak mengizinkan Anah pergi sendiri. Namun saat ini malah pergi jauh darinya bersama istri tercinta nya.


Pak Jumadi mengambil pecahan gelas itu dan berniat membuangnya. Namum tak sengaja malah terkena pecahan gelas kaca itu. Darah sudah mengalir, namu tidak ia rasakan sama sekali. Karena hatinya yang lebih sakit dan perih oleh luka yang tak kasat mata.


Izah dan nenek ikut kaget saat mendengar gelas itu jatuh. Mereka langsung menoleh, melihat gelas kopi itu sudah hancur berantakan. Padahal Izah baru saja memalingkan wajahnya dari pak Jumadi. Beberapa detik kemudian gelas mendarat ke tanah dan membasahi kaki pak Jumadi.


"Ya Allah lek Jum, itu kaki sudah basah dan itu jarinya juga berdarah. Sudah lepaskan biar Izah yang beresin."Kata Izah saat melihat ada darah di jarinya pak Jumadi.


"Gak apa-apa Zah, lanjutkan saja kerjaan mu. Ini cuma tergores sedikit saja, bahkan tidak terasa. Justru yang sakit itu hati ku, terluka dan perih namun tidak terlihat oleh mata manusia."Jawaban sungguh mengena banget di rulung hati siapa pun.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar sudah tau, kalau pak Jumadi orang yang sedang berputus asa. Ya pak Jumadi memang sedang berputus asa. Tidak lagi semangat untuk hidup, merasa sudah cukup ia bersabar namun nasib tak berpihak padanya.


...****************...


Hari ini akan hujan besar, kilat dan petir sudah saling bersahutan. Anah buru buru mengangkat pakaian, supaya tidak kehujanan dan basah lagi. Suasana begitu mencekam, langit sudah gelap menghitam.


Ketika mengambil pakaian kilat dan petir berganti di sore itu. Saat selesai Anah langsung masuk ke dalam rumah. Namun saat sampai di teras petir begitu Basar, seakan itu ada di atas kepalanya.


JLEDEEEER (anggap lah petir)


"BAPAAAAK" Teriak Anah spontan karena refleks, dan hampir saja terjengkang.


Anah sambil berjalan menuju kamarnya, mengusap-usap dadanya. Anah mengatur nafas yang ngos-ngosan akibat kaget setengah mati.


"Alhamdulillah.... Ya Allah, masih dalam lindungan mu." Anah mengucap syukur karena masih selamat.


Di kamar Anah membaca doa apa yang ia bisa. Untuk menghilangkan rasa takut, dan mendapatkan ketenangan. Sambil melipat pakaian Anah tak berhenti bibir berdoa atau berzikir.


Setelah magrib majikannya pulang dengan banyak belanjaan. Anah membantu untuk membawa masuk, dan merapikan pada tempat nya.


"Mar, tadi hujan pakai tidak kehujanan kan?"tanya bu Ida, menatap Anah yang sedang merapikan belanjaan.


"Alhamdulillah tidak bu." Jawab Anah.


"Kamu lagi sakit Mar?" tanyanya bu Ida,. saat melihat wajah pucat Anah.

__ADS_1


"Tidak bu,"jawab Anah sambil tersenyum.


"Kamu tidak sedang berbohong kan. Itu wajah mu pucat, apa kamu pusing? Kalau sakit bilang ya, jangan diam saja."Bu Ida tidak ingin Anah sakit tapi diam saja.


"Saya tidak sakit bu, cuma tadi saat mengangkat pakaian. Saya kaget dengan petir yang sangat besar. Saya sampai mau jatuh terjengkang, di depan pintu belakang. Dan saya di rumah lagi sendiri serasa seram bu, mungkin karena saya yang sedang kaget."Jawab Anah, yang menceritakan tentang kejadian tadi sore.


"Apa setelah di dalam rumah kamu langsung minum air putih?"tanya pak Hilmy yang baru saja duduk di sebelah istrinya. Anah hanya menggeleng kepala sebagai jawaban.


"Lain kali kalau kamu kaget, segera minum air putih kalau bisa yang hangat. Untuk merilekskan tubuh mu, termasuk jantung Mar. Supaya kamu tidak tegang terus dan cepat tenang."Nasehat pak Hilmy.


Yang di sampaikan oleh pak Hilmy adalah penting untuk Anah. Supaya kedepannya Anah tidak seperti itu lagi. Karena sangat tidak baik untuk kesehatan jantung. Dan memang Anah belum tau itu, sehingga pak Hilmy sebagai orang yang bertanggung jawab atas Anah atau pada pekerjanya.


"Iya Anah karena itu juga untuk kesehatan mu. Itu artinya Mariana memiliki trauma, jadi Mariana harus bisa jaga diri. Karena kami tidak selalu ada bersama Mariana, seperti hari ini."Timpal bu Ida.


"Iya pak, bu, terima kasih atas nasehatnya. Insya Allah nanti saya ingat pesan ibu dan bapak."Kata Anah yang menerima nasehat dari majikannya.


"Ya sudah sekarang kamu makan setelah itu istirahat ya. Biar anak-anak sama ibu, kamu harus istirahat."Perintah bu Ida pada Anah.


Khawatir besok Anah malah sakit, karena sekarang Anah tampak tidak baik-baik saja. Mungkin kejadian tadi sore membuat Anah trauma dan baru iya alami hari ini. Sebab dirinya sedang pergi dan tidak melihat kejadian tersebut.


"Iya bu, saya makan dulu. Tapi apa ibu dan bapak sudah makan?"tanya Anah.


"Sudah tadi pas hujan kita berada di dalam restoran. Sekalian beli makanan untuk kamu, sekarang makan ya lalu istirahat."Jawab bu Ida.


"Iya bu," Anah langsung mengambil makanan yang sudah di belikan majikannya. Setelah selesai dengan urusan perut, Anah masuk ke kamar mandi. Menggosok gigi dan ambil wudhu, karena sudah masuk waktu isya. Maka Anah melaksanakan sholat isya lebih dulu, baru istirahat.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2