TAKDIR KU

TAKDIR KU
83.BUAH KESEMEK ADA BEDAKNYA


__ADS_3

"Sabar kalau kamu pengen di sayang nenek, kamu sakit aja lagi."kata Warto dengan senyum meledek.


"Eeenak aja aku disuruh sakit lagi, aku cuma berharap adek ku tidak seperti aku. Gak enak tau kalau di gebukin, di jambak cukup aku yang sakit." Lalu Anah pergi main sepeda lagi.


...****************...


Beberapa bulan kemudian Anah dan Monik di ajak nyari kayu bakar di ladang. Bahkan dia harus ikut membawa kayu yang sudah dipotong satu meteran.


Karena cari kayu bakar tidak hanya di ladang milik sendiri bahkan di hutan. Namun lebih dekat dari pada ke ladang milik sendiri.


"Hari kita cari kayu di mana Nek?"tanya Anah.


"Di alas(hutan) dekat sawah bude Sulis."Jawab Nenek.


"Hah? di hutan Nek, tapi tidak ada babi kan?"tanya Monik, dengan raut wajah takut.


"Ya tidak ada babi adanya di pegunungan saja."Jawab Nenek.


"Emang kamu pernah lihat babi?"tanya Anah pada Monik.


"Soalnya di kebun yang di garap bapak banyak babi apa lagi di hutan."Jawab Monik.


"Ih serem banget ya."


"Nek kenapa harus cari kayu banyak dan jauh-jauh sih?"tanya Anah.


"Ya buat masak, mumpung tidak hujan, takut besok hujan. Gini saja susah cari kayu bakar, kita harus dapat banyak."Ujar Nenek.


"Kayu sudah banyak juga di samping kandang ayam tu satu truk juga ada itu. Kalau kemauan Nenek tidak di turuti sudah ngamuk tu."Anah berkata dalam hati.


Anah mengikuti nenek untuk menyeberangi sungai, karena hutan yang di maksud nenek.


Kamu kumpulin kayu di sebrang sungai biar nanti kita ikat di sana."Perintah Nenek.


"Ya Nek." Jawab singkat dari dua bocah itu.


"Mata berkeliling melihat apa yang ada takut juga jika ada ular. Menemukan aneka buah-buahan dari ya bisa di makan sampai yang tidak.


"Nenek apa ini buah duku?"tanya Anah.


"Itu bukan duku tapi enak di makan asam asam segar, Nenek lupa nama buahnya (author yang lupa bukan Nenek, soalnya beda daerah beda nama)."kata Nenek.

__ADS_1


Buah mirip duku



"Kalau ini kaya mangga buah apa nek enak gak?"tanya lagi.


"Oh itu buah kemang masam manis, yang itu buah Buni rasanya asem-asem manis. dan yang itu Kesemek manis enak."Ucap Nenek.


Buah Kemang



Buah Buni



Buah Kesemek



"Nek kenapa buah Buni seperti buah kopi ya?"tanya Monik, padahal dari tadi diam saja.


"Menang buah kopi sama merah kuning hijau dek?"tanya Anah.


"Nek kenapa kalau buah Kesemek ada bedaknya, apa itu juga bedak di ambil dari buah Kesemek?"tanya Anah.


"Itu sudah ciri khas dari buah Kesemek sendiri. Kalau bedah Nenek tidak tau di buat dari apa. Karena memang Nenek belum pernah melihat cara membuat bedak." Kata Nenek panjang lebar.


"Oh, Nek boleh di petik tidak buah-buah nya?"tanya Anah, sangat penasaran dengan rasa buah-buahan yang ada dihadapan nya itu.


"Iya nanti kita petik kamu boleh buah yang seperti duku itu. Kalau yang lain nanti Nenek cari kayu yang panjang untuk petik."Kata Nenek langsung berjalan mencari kayu yang panjang.


Anah dan Monik senang bisa metik buah itu dengan mudah karena pohon tidak tinggi. Berbeda dengan buah Kemang dan Kesemek yang besar dan tinggi sampai dengan pohon mangga. Kalau buah Buni pohonnya kecil tapi tinggi namun masih bisa di raih dengan yang Nenek.


Anah dan Monik duduk menikmati buah yang baru di petik.


"Em mbak enak ya."Kata Monik.


"Iya asem seger, walau tidak manis."Timpal Anah.


Saat asik menikmati buah di pinggir sungai, karena buah yang mereka makan di cuci dulu sebelum di makan. Mereka di kaget kan oleh ocehan nenek, untuk segera membawa kayu ke seberang sungai.

__ADS_1


"Malah makan, bawa itu kayu ke seberang sungai. Tadi Nenek kan bilang nanti petik, berarti kalian selesai kan dulu tugasmu. Cepat kalau sudah selesai baru petik."Omel Nenek.


"Iya Nek kami bawa kayu ke seberang." Kata Anah langsung berdiri menarik tangan Monik dan meninggalkan buah yang tadi di makan.


Dari seberang sungai, bu Sulis mendengar ada yang ribut. Segera melihat ke seberang dan berdiri di dekat tumpukan kayu. Ternyata Anah dan adiknya sedang membawa kayu bakar.


"Eh Anah lagi cari kayu sama siapa?" Pura-pura tidak tau.


"Sama Nenek bude."Jawab Anah.


"Ya sudah kalian hati-hati ya."Kata bu Sulis.


"Ya bude saya ambil kayu lagi."pamit Anah, takut di marahin nenek lagi.


"Udah seperti orang hajatan saja cari kayu terus untuk apa coba. Semoga tidak terjadi apa-apa pada dua bocah itu."Ngoceh sendiri bu Sulis, melihat Anah dan Monik dapat tugas neneknya.


Setelah selesai membawa kayu ke seberang mereka mengumpulkan buah yang sudah di petik nenek dan terakhir buah Kesemek yang mau di petik.


"Minta buahnya ya? iya petik aja." Nenek minta izin dan jawab sendiri.


Hal itu membuat Anah bertanya pada neneknya, jiwanya penasaran dan ingin tau.


"Nek, kenapa Nenek minta izin tapi Nenek juga yang jawab?"tanya Anah.


"Iya itu karena pohon nya tidak jawab."Jawab Nenek santai.


"Lah, kan memang pohon tidak bisa bicara, terus jawabnya bagaimana coba? itu pohon tidak punya mulut Nek."Kata Anah.


"Makanya Nenek yang jawab."Ujar Nenek.


"Emang ini hutan ada yang punya Nek?"tanya Anah.


"Nenek tidak tau, makanya Nenek minta dan jawab sendiri. Supaya nanti pohon bersaksi bahwa kita tidak mencuri. Karena sudah minta izin sama pohon langsung."Jawab Nenek menjelaskan pada Anah.


"Lah, memang nya pohon mau bersaksi pada siapa Nek?"tanya Anah.


"Ya sama Allah lah, nanti apa saja yang kita makan pun sama Allah di tanya dari mana? terus halal atau haram, beli apa nyuri, di kasih atau minta. Sudah nanti kamu kalau sudah besar juga ngerti apa yang nenek bicara kan. Sekarang jangan tanya terus cepat ambil itu buah kumpulan kan habis ini kita angkut itu kayu. Nenek sudah pusing menjawab pertanyaan kamu itu, serasa lagi di sidang polisi saja." Jawab Nenek, sekaligus kesal dengan Anah yang banyak nanya.


"Iya Nek," Anah mengambil buah yang sudah di petik neneknya.


"Waduh buah yang ku makan sama Monik tadi tidak izinkan. Berarti haram, kan sama saja aku mencuri, ya Allah ampunilah aku."Anah langsung lari menuju buah yang tadi di makan bersama adiknya.

__ADS_1


"Pohon aku minta buahnya ya, iya ambil aja. Oh ya buah yang tadi ku sudah makan tanpa izin ikhlas kan ya. Terima kasih ya."celoteh Anah, di bawah pohon dan juga metik lagi.


*****Bersambung....


__ADS_2