
Malam hari setelah acara selamatan selesai, semua di beres kan kemudian ada yang langsung pulang. Sementara Anah yang memang masih di rumah Tami. Sedang di goda sama Ujang dan adiknya yaitu Ade dan Usman.
"Mariana," panggil Ujang.
"Ya,"jawab panggilan Ujang.
"Sudah makan belum? maka bareng akang Ujang mau gak?"tanya Ujang dengan nada lembut.
"Aku sudah makan tadi sore."Jawab Anah
"Ini kan cuacanya dingin pasti lapar lagi. Makan yu gak usah malu-malu, mau akang ambilkan? tenang tidak akan di marahin sama mbak Tami kok."Ujang merayu Anah yang masih polos itu.
"Aku masih kenyang, nanti kalau lapar aku bilang dan makan sama bude Hesti aja."Jawaban polos Anah.
Ujang yang mendapat penolakan terus menerus, di tertawa kan adik-adiknya dan tetangga yang masih ada di rumah Tami. Tidak kehilangan akal untuk mendapatkan celah dari gadis kecil ini.
Ujang yang sudah berusia 25 tahun, sudah sangat ingin menikah. Ade sudah berusia 22 tahun dan Usman berusia 19 tahun. Dan bujang yang ada di ruang tamu itu adalah Bahrudin, namun di panggil Billy.
Dia adalah orang lampung asli, memiliki perawakan tubuh besar, gagah dan tampan. Billy kalau ke kebun selalu lewat rumah Anah.
"Mariana...,"panggil Ujang lagi.
Di pucuk yang panggil Anah hanya Ranto yang memanggil begitu. Yang lain manggil Mariana, atau Mar saja.
"Ya apa," jawab Ana.
"Akang cium pipimu ya, boleh?"tanya Ujang.
"Enak saja, nanti tak bilang ke bapak ku."Jawab Anah.
__ADS_1
"Yeees, asik atu di bilang ke bapaknya. Dengan bilang ke bapak mu, artinya kita bisa cepat kepenghuluan untuk ijab qobul."Ujar Ujang dengan tertawa penuh kemenangan bersama dengan yang lainnya.
Anah yang mendengar ucapan Ujang langsung sadar bahwa dirinya kena jebakan Ujang. Mendengar tawa lepas mereka Anah langsung cemberut.
Anah menyesal kenapa tadi tidak ikut saja untuk pulang. Bareng sama bude Hesti sama dengan Anah di sodorkan ke para laki-laki dewasa ini.
Sayang sekali Anah tidak berani untuk pulang lebih dulu, selain gelap Anah takut tiba-tiba ada segerombolan babi hutan. Atau ketemu gorila atau beruang yang bapaknya cerita kan pada nya.
Anah sudah tidak lagi perduli dan tidak nyaut sama sekali. Ketika di tanya ini dan itu oleh para pemuda yang berada di rumah Tami. Dengan diamnya Anah, dapat di pastikan Anah itu marah.
Bu Hesti melihat Anah ngantuk dan lelah pun mengajak pulang. Saat Anah dan bu Hesti pulang Ade ikut pulang. Sekalian mengawal dua wanita itu di jalan. Selama di perjalanan kurang lebih 300 meter itu Anah tidak bersuara sedikit pun. Hanya bu Hesti, Ujang dan Ade saja.
"Mar, jangan lupa berdoa sebelum tidur dan mimpikan akang Ujang ya. Selamat malam Mariana,"ucap Ujang pada Anah dengan senyum manisnya.
"........''
"Ya sudah kalian masuk lah bude masuk sepertinya Anah sudah ngantuk berat." Ucap bu Hesti.
Ya Anah memang sudah mengantuk berat. Matanya sudah tinggal 5 wat, sehingga tidak perduli dengan ucapan orang.
"Bude aku langsung tidur ya."Langsung merebahkan badannya, menutup dirinya dengan selimut. Jam menunjukkan pukul 10:30 malam, jadi wajar Anah ngantuk berat.
Anah memang biasa tidur jam 9 malam, sebab itu aturan pak Jumadi. Jam tidur harus jam 9-9:30 malam saja.
...****************...
Hari berganti hari, bulan pun telah berganti. Hari ini Anah dan bu Sarinem pergi ke kampung yang dulu Anah masih kecil. Iya menemui Izah, mereka ingin pergi menghindari Nenek. Yang sudah memarahi Anah di depan bu Sarinem.
Hal itu membuat bu Sarinem marah, bahkan yang selama ini ngomong masih dengan sopan dan santun. Namun tidak hari ini Anah menerima pukulan ranting dan jeweran makian dari neneknya.
__ADS_1
"Mas besok aku sama Anah pengen ke rumah mbak Marni ya." Pamit bu Sarinem pada suaminya, pak Jumadi.
"Kenapa mendadak, apa cuma berdua. Si Udin tidak di ajak?"tanya pak Jumadi pada istrinya.
"Kan Udin sekolah mas, kalau dia bolos kasihan. Watak Udin keras tak jauh beda dengan Anah. Aku ngantuk Anah karena dia kangen teman-temannya. Lagian itu anak juga kasihan kurang perhatian, dari kecil bahkan merasa tidak di perlukan dengan adil. Apa salahnya kalau kita perhatikan sekarang, sebelum Anah tambah membenci kita."Jawab bu Sarinem.
Sengaja memperhatikan Anah biar Anah tidak lagi merasa dirinya sendiri. Menganggap dirinya sebagai orang yang tidak di anggap anak orang orang tuanya.
"Ya sudah, tapi berapa hari?" tanya pak Jumadi dia merasa tidak nyaman dengan pamitnya istrinya. Terasa jauh dan susah di jangkau oleh nya. Memang pak Jumadi sudah jarang memperhatikan keluarganya dengan mata batinnya.
"Kurang tau mas lihat saja nanti aku pulang kapan semua itu tergantung Anah."Jawab bu Sarinem.
Ya sudah sudah siap-siap apa belum? Siap sana."Kata pak Jumadi.
"Aku sudah siap dari tadi sore. Untuk mas pulang tadi jadi aku bisa pamit dulu." Kata bu Sarinem.
Hal itu membuat pak Jumadi ragu memberikan izin. Tapi tidak ada pilihan lain selain mengizinkan supaya Anah juga merasa tidak di kekang lagi. Pak Jumadi hanya memperhatikan wajah istrinya yang menyimpan banyak luka di hatinya. Jika tinggal bersama ibunya selalu begitu, istrinya akan tertekan.
Pak Jumadi merogoh saku celananya yang di gantung di kamar. Mengambil lima ratus ribu, entah mengapa hati tidak tenang. Dengan perasaan aneh ia juga ingin memberi uang segitu. Sebab ia pikir Anah sekarang sudah bayar ongkos kalau naik kendaraan. Karena usianya yang saat ini 13 belas tahun lebih. dan badannya juga sudah besar bahkan sama dengan ibunya. Kemana-mana kalau berdua dengan ibunya di bilang adik dan kakak.
"Ini untuk ongkos dan selama adek dan Anah di rumah mbak Marni ya. Mas tau adek punya uang, itu buat tambahan nanti kalau kurang ya. Besok pakai uang dari mas, untuk ongkos dan makan. Jangan membebani mbak Marni, dia memang tidak akan kekurangan. Tapi dia janda, harusnya kita yang ngasih bukan mbak Marni."Kata pak Jumadi sekaligus menasehati istrinya.
"Iya mas, terima kasih ya. Mas memang paling ngerti kalau urusan begitu. Ya sudah tidur yuk."Ajak bu Sarinem setelah menyimpan uang pemberian suaminya.
"Ayo tapi mas minta jatah ya, kangen sih sebulan ada di kawasan. Besok mas ikut ke pasar kita belanja dulu buat ke kawasan habis itu berangkat langsung. Toh adek gak di rumah ini, sekarang masih bisa kan?"tanya pak Jumadi, dan di jawab dengan anggukan oleh bu Sarinem.
Maka malam ini pelayanan untuk suaminya dulu sebelum pergi. Dan bu Sarinem belum tahu apakah 3bulan mendatang ia bisa pulang apa tidak.
*****Bersambung.....
__ADS_1