TAKDIR KU

TAKDIR KU
116.PULANG KAN ITU FORMULIR


__ADS_3

β™₯️🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸β™₯️


Siapkan dulu tisue sebelum membaca ya teman-teman. Karena bab ini mengandung bawang merah.😭😭😭😭


Selamat membaca ya,πŸ€—


Semoga terhibur dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian.πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


β™₯️🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸β™₯️


Hari berganti hari bulan berganti bulan kini Anah lulus SD negeri. Dan pihak sekolah sudah bekerja sama dengan sekolah lanjutan. Yaitu tersedia formulir pendaftaran murid baru untuk SMPN dan pondok pesantren.


Tersedia dua pilihan pondok pesantren, Anah memilih tujuan yang dekat dengan kecamatan.


Pada tahun 2000 baru ada dua pondok pesantren. Kalau sekarang kurang lebih ada 5 pondok pesantren.


Dengan suka cita Anah membawa ijazah dan formulir pondok pesantren. Dia senang sudah cerita pada teman-teman kalau dirinya akan lanjut sekolah ke pondok pesantren.


Banyak juga yang tidak lanjut sekolah dan memilih bekerja dari sekarang selagi masih remaja. Supaya nanti kalau sudah cukup umur menikah juga tidak harus minta orang tuanya.


"Preh, kamu mau lanjut kemana nih?" tanya Ani di angguki Anah dan Maryati.


"Gak lah males muter otak terus. Jadi pertani itu tidak perlu sekolah yang penting ada kemauan pasti berhasil."Jawab Prehatin.


"Kamu pemikiran orang tua banget sih, memang kamu siap nikah muda gitu. Sementara saat ini kamu aja belum sunat Preh."Celetuk Anah.


Perkataan Anah membuat tertawa lepas anak-anak sebayanya. Ya memang banyak yang belum sunat baru beberapa anak saja. Dengan alasan belum berani.


"Hahaha,"tertawa semua lalu bubar pulang ke rumah masing-masing.


Sekelas Anah anak laki-laki berjumlah 15 yang beragama Hindu 2 orang. Sisanya muslim, tapi yang sudah di sunat baru dua orang.


Tetapi kebanyakan para kaum adam ini, jika sudah di sunat. Lalu 2-3 tahun kemudian menikah, alasan sudah cukup umur.

__ADS_1


Ya di kampung ini masih banyak yang menikah muda. Ada yang niat menghindari perbuatan dosa. Ada pula yang kebablasan karena pacaran.


Hal ini pula yang sangat di takut pak Jumadi. Maka pak Jumadi pun menentang kemauan Anah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu."Ucap Anah dengan raut wajah gembira karena bahagia lulus dengan nilai lumayan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."Jawab yang di rumah.


"Mbak sampean lulus?"tanya Monik.


"Alhamdulillah lulus dong."Jawab Anah dengan senyum manisnya dan duduk di kursi.


"Coba sini ibu lihat."Sambut bu Sarinem.


Bu Sarinem bangga Anah dapat nilai bagus dengan nilai 27,80.


"Nilai paling tinggi siapa nduk?"tanya bu Sarinem.


"Yang paling rendah siapa?" tanya bu Sarinem dan Monik bersamaan.


"Gak tau aku bu, tapi kalau gak salah 19,90. Oh ya aku sudah ambil formulir pendaftaran pondok sekalian pak." Kata Anah dengan antusiasnya, ingin masuk pondok.


"Mbak yakin mau mondok?"tanya Monik, ada rasa tidak percaya dengan mbak ini. Karena yang ia tahu di pondok banyak yang kabur pulang. Dan minta pindah ke SMPN, karena tidak sanggup dengan peraturan pondok.


"Aku yakin. Kan aku sudah dari dulu pengen ke pondok. Karena belum lulus jadi belum bisa masuk pondok."Jawab Anah.


"Pulang kan itu formulir sebelum di isi, bapak tidak izinkan kamu masuk pondok. Lebih baik kamu tidak usah sekolah tinggi-tinggi." Tiba-tiba pak Jumadi langsung mengeluarkan penolakan.


"Aku gak mau. Kan aku dapat nilai bagus juga pak bukan nilai jelek. Bapak juga sudah berjanji akan menyekolahkan aku sampai lulus SMA atau MAN." Anah tak kalah tinggi bicara dengan bapaknya.


Karena syok dengan penolakan bapaknya, di tambah Anah sudah ngomong ke teman-temannya. Jika di pulangkan pasti akan sangat malu pada guru dan temannya.


"Sekali bapak bilang tidak ya tidak!"bentak pak Jumadi.

__ADS_1


Anah yang mendapat bentakan dari bapaknya. Kaget bahkan sampai jingkrat, baru kali ini Anah di bentak dengan nada tinggi melengking.


Anah yang tadi berdiri saat protes ke bapaknya. Langsung lemas dan luruh lah air matanya mengalir deras di pipinya.


Dia tidak menyangka orang yang selama ini menyayanginya. Telah berubah menjadi orang asing, sakit hati Anah yang bertubi-tubi.


Harapan satu-satunya Anah, bertahan dengan semua kepahitan hidup ia jalani. Bahkan apa yang dia rasakan dua tahun lalu kini benar-benar terjadi.


Sekarang tidak ada lagi yang bisa ia percaya. Semua hanya menjanjikan sesuatu yang semu. Kenapa harus dirinya, yang mengalami ini. Kenapa tidak Monik saja pikir Anah.


"Kenapa? kenapa bapak bohong? kenapa bapak ingkar janji sama aku. Aku harus sekolah pak, apa kata orang kalau aku tidak sekolah."Kata Anah di sela tangisnya yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


"Kamu itu seorang anak pertama, harus menjadi contoh untuk adik-adikmu. Kan kemarin bapak sudah tanya kamu dan Monik. Monik tidak mau sekolah lagi setelah lulus SD. Kenapa kamu masih mau sekolah, kalau kamu sekolah berarti adikmu juga harus sekolah. Lagian kamu ini anak perempuan, sudah pasti ujung-ujungnya masuk dapur. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, kalau nanti kamu nikah tidak akan di tanya ijazah mu itu. Yang di tanya mertua mu, kamu bisa masak apa."Kata pak Jumadi panjang lebar pada Anah dengan tatapan mata yang tajam.


Anah menatap mata bapaknya penuh kebencian. Baginya orang yang selama ini selalu memberikan semangat untuk masa depannya. Saat orang ini juga yang menghancurkan hati dan kepercayaan nya.


"Aku tidak mau aku tetap mau sekolah pak. Lagian tadi nama ku sudah di tulis sama pak Safrudin. Dan aku kalau gak jadi sekolah, pasti di ledek sama teman-teman aku pak, Huhuhuhuhu."Kata Anah dengan tangis pilunya.


"Itu nama kalau masih di pak Safrudin, berarti masih bisa di batalkan. Sudah bapak tidak mau tau itu formulir pendaftaran harus di pulangkan tanpa di isi, paham!"bentaknya lagi.


Ucapan nya pak Jumadi sudah tidak dapat di tawar lagi. Anah menggelengkan kepalanya, dengan menatap bapaknya penuh kekecewaan.


"Ya sudah terserah bapak aku sudah tidak mau lagi ke sekolah. Aku malu, kenapa bapak sekarang sudah berubah apa alasan aku tidak boleh sekolah?"tanya Anah.


"Karena sekolah itu bayarnya mahal belum lagi uang untuk makan mu sehari-hari. Di pesantren yang kamu pilih juga, itu pesantren no 1, uang pendaftaran 2 juta lima ratus. belum SPP, untuk bayar ini dan itu, belum makan dan keperluan lainnya. Dari pada buat kamu masuk pesantren mending buat beli kebun. Dapat nya luas bisa kamu urus dan kamu ambil itu hasilnya. Kamu bisa beli ini dan itu tidak habis kamu kasih ke orang pinter itu. Pinter dengan memang bagus, kita sebagai manusia biasa dan nyari uang banting tulang peras keringat. Cuma mau di kasih kan ke orang, lihat adikmu tidak menuntut. Tapi bisa juga menuntut jika kamu terus sekolah bukan tidak mungkin adik mu tidak sekolah. Lama kelamaan nanti kita ini jadi orang susah lagi. Kan kamu tidak mau makan nasi tiwul terus. Maka pikiran baik-baik, jangan keras kepala. Jangan jadi anak pembangkang." Kata pak Jumadi dengan panjang lebar dan menekankan kalimat terakhir.


Setelah itu di ambilnya formulir dan pergi ke sekolah. meninggalkan Anah yang masih menangis sesenggukan di lantai ruang tamu.


*****Bersambung....


Segini dulu ya teman teman.


Tunggu episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2