
Anah yang lagi asik menyanyikan lagu dangdut pun, langsung berbalik badan ketika ada yang melempari dengan mangga ******(muda). Dia berhenti menyanyi dan mengedarkan pandangan. Di balik pohon kelapa ada orang yang sedang sembunyi. Ia tahu dari bayangan pohon kelapa yang terlihat aneh.
"Yeee kalau mau main petak umpet itu yang benar dong. Dan ajak ajak, mana seru ngumpet sendiri. Terus siapa yang cari?"tanya Anah.
"Hehehe kok tau sih, aku di sini?"tanya Warto.
"Itu..."Anah menunjukkan bayangan pohon kelapa itu, dengan memonyongkan bibirnya.
"Hehehehe"Warto cengengesan sambil garuk-garuk kepala, padahal tidak gatal.
"Mau rujak gak, kalau mau nanti aku naik buat petik?"tanya Warto.
"Siapa yang bikin sambel lek?"Anah balik tanya.
"Ya kamu lah cantik, kan kamu sudah pintar masak pasti bisa bikin sambel."kata Warto, sengaja memujinya biar Anah mau bikin.
"Tapi aku gak tahu lek, bikin sambel rujak apa aja."Kata Anah.
Ya memang dia belum tau, cuma bisa bisa maka rujak kalau lagi musim mangga. Anah yang dari kecil sudah doyan pedes, mau aja di ajak ngerujak.
"Ya cuma cabe, bawang putih, gula merah, garam, kalau ada tambah kacang tanah goreng. Pasti tambah mantap tu sambel rujak nya.
"Ah aku males, mbah Kokom aja yah yang bikin. Aku mau sapu ini nanti nenek pulang belum selesai aku pasti di marah lek" kata Anah.
__ADS_1
"Hem gak asik ini," berpikir sejenak "ya wes tak bantuin nanti kita rujakan ya An." Warto mengalah ia paham dengan keadaan Anah.
Akhirnya ia membantu Anah sampai selesai samping kanan rumah. Setelah selesai mereka membersihkan diri masing-masing di sumur yang di rumah Anah. Warto menimba air buat Anah dan dirinya. Anah lebih dulu mandi Warto nunggu giliran. Setelah selesai mandi Anah buat sambel, selesai ia langsung di bawa ke ke halaman rumah Warto. Yang rumahnya hanya terhalang jalan, sedangkan Warto masih nangkring di atas pohon mangga.
"An, di bawa kesini, di bawah pohon mangga enak adem."Teriak Warto.
"Ya lek ini lagi mau kesitu."Sahut Anah.
"Eh Anah jadi rujakan sama lek Warto, Mbah kira lek Warto bohong. Mbah boleh nyicip nggak?"tanya bu Kokom.
"Boleh lah Mbah, kata bibi Minah gak enak kalau rujakan nya cuma berdua. Enak tu rame-rame apa lagi sambelnya pedese poll."Kata Anah, saat ingat apa yang di katakan Minah padanya.
"Lah kamu bikin pedes An, jangan pedes pedes. Nanti kamu kepedesan An"ujar Warto yang sudah berdiri di samping Anah, lalu duduk lesehan di dekat mamaknya dan Anah tentunya.
Bu Kokom yang tadi bawa baskom berisi air. untuk mencuci mangga, lalu di potong.
"Lo mbah kok nggak di kupas to."Protes Anah yang melihat bu Kokom motong mangga muda itu.
"Biar gak terlalu asem An, apa kamu mau yang di kupas, biar aku kupasin ya."Tawar Warto.
"Ya lek aku mau yang kupas. Aku takut kena tangan pisau nya hehehe."Jawab Anah sambil tertawa senang. Pikir Anah, dia gak harus makan mangga yang tidak di kupas.
Sugi memperhatikan tingkah adiknya yang lagi pubertas itu. Iya tau kalau Warto, menyukai Anah, ia pun suka pada Anah juga.
__ADS_1
Akan tetapi baginya Anah masih terlalu kecil, sedangkan ia usianya 22 tahun.
Mereka makan rujak bersama, Anah terlihat nyengir ke aseman. Yang lain melihat Anah pada tertawa. Anah manyun, karena kesal dirinya di tertawakan, namun mulutnya tak berhenti ngunyah.
Sugi juga ikut makan yang di kupas itu memang lebih asem, dari pada yang ada kulitnya. Karena yang ada kulitnya, bervariasi rasanya, asem sepet, di tambah sambel lebih enak. Warto mengambil yang berkulit, lalu di colekan ke sambel.
"Ni coba aaa,"ucap Warto, memberikan mangga itu di depan mulut Anah. Anah menerima suapan dari warto.
"Iya, lek enak yang tidak di kupas."Kata Anah, sambil mengunyah mangga yang di suapkan Warto.
"Mau lagi ni aaa,"Warto senang melakukan itu, ia menyuapi anah dengan senang hati. Bibirnya terangkat hingga bentuk senyuman manis khasnya.
Sugi sedikit iri di usianya ini, belum pernah melakukan itu pada perempuan. lah adiknya yang baru 14 tahun sudah melakukan hal itu.
"Masih kecil juga dah pacaran aja. Pakai mesra mesraan lagi,"Sugi berbisik sambil menoyor kepala adiknya.
"Yee siapa yang pacaran, aku cuma suka suapin anah."Elaknya Warto, membalas bisikan masnya itu.
"Nah ngaku kan suka, hayo."Kata Sugi, dengan nada menggoda.
"Emang kenapa kalau aku suka anah, mamak dan bapak bolehin weee."Jawab Warto, sambil menjulurkan lidahnya.
"Lek bisik bisik apa sih..."
__ADS_1
*****Bersambung...