
4 hari kemudian Anah pergi ke Jakarta lagi, tapi ia sendirian. Karena pacarnya sudah pulang lebih dulu setelah hari pernikahan Monik. Sebab ia harus bekerja kembali, dan hanya dapat libur 3 hari saja. Sedangkan Anah libur seminggu, dan besok ia harus sudah sampai.
Kini Anah sudah cantik, dengan hijab segi empat warna merah. Baju celana jeans warna biru navy, dan suster merah. Ia keluar dari kamar kemudian berjalan menuju dapur. Di sini dapurnya merangkap ruang makan, sehingga pagi ini kumpul di meja makan.
Monik melirik suaminya yang sedang menatap mbaknya. Yang ia tau dari ibu sebenarnya suaminya suka dengan mbak dari pada dirinya. Namun ia juga tidak mau, kalau dirinya tidak hargai sebagai istri.
"Mbak kenapa harus berangkat ke sana lagi kan beberapa bulan lagi nikah?"tanya Monik.
"Kan aku masih kerja, ya lumayan buat tambahan nanti. Karena setelah menikah aku tidak boleh kerja lagi sama bang Arman."Jawab Anah dengan santai sambil tersenyum manis pada adiknya.
"Teruskan sarapan mu, nanti ketinggalan mobil. Kalau kamu kebanyakan ngoceh, yang hanya menghambat waktu mu."Perintah pak Jumadi, sambil menyindir Monik. Yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Anah. Sebab menantunya terus melirik Anah dari tadi.
Istafa menoleh ke arah mertuanya, dan merasa tidak enak dipandang dengan tatapan menghunus. Pak Jumadi tidak ingin adanya kesalahpahaman di antara kedua anaknya dan menantunya.
Setelah selesai sarapan Anah bersalaman dengan semua orang, termasuk adik iparnya. Tapi Anah berusaha untuk tidak canggung, Dan memanggil adik iparnya dek. Sesuai dengan keinginan orang tuanya, untuk menghargai orang yang lebih tua. Meski pun dia lebih muda, tapi tetap saja di panggil mbak. Untuk itu juga Anah harus menghormati yang lebih tua, namun jadi lebih muda.
"Hati-hatilah di jalan, nanti kalau sudah sampai kabari. Kan kemarin sudah ibu kasih nomor telepon mbah Rima."ujar bu Sarinem.
"Mbak, hati-hati ya di jalan." Ucap Monik.
"Iya Monik." Ucap Anah
"Hati-hati ya mbak,"ucap Istafa yang tinggi badannya hampir sama dengan Anah.
Karena Anah memiliki tinggi badan 153 cm. Sedangkan Monik memiliki tinggi badan 160 cm. Maka Istafa lebih rendah dari Monik 10 cm.
"Iya dek Is." Ucap Anah dengan senyum kikuk.
Anah langsung berangkat di antara bapaknya ke perempatan jalan. Di mana Anah menunggu mobil, menuju terminal bus antar kota.
"Pantes sih di panggil dek, soalnya pendek. Hihihi," Kata Monik dalam hati, sambil cengengesan.
Saat akan masuk mobil, pak Jumadi mengangkat tas nya Anah ke dalam mobil.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, ingat kalau sudah sampai kabari."Ucap pak Jumadi.
"Iya pak, aku berangkat dulu dada." Anah melambaikan tangannya.
Pak Jumadi menatap mobil yang Anah tumpangi sampai tidak terlihat lagi. Baru setelah itu pak Jumadi pulang ke rumah, untuk bersiap ke sawah.
...****************...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hari ini Anah sedang menunggu calon suami dan mertuanya. Karena besok akan di langsung acara alat nikah di rumah Anah.
Arman dan ibunya mengabarkan bahwa mereka berada kemarin sore. Dan mereka datang bertiga saja, karena memang mereka orang yang sederhana. Jadi mereka tidak datang satu keluarga besar. Di karena kan ongkos yang mereka miliki hanya cukup untuk bertiga.
Mobil angkot itu langsung masuk teras rumah sampai depan pintu sampai. tanya lebih tepatnya untuk garansi parkiran motor.
Semua penumpang turun, termasuk sopir angkot tersebut. Yang tidak lain adalah adik pak Jumadi yang dari bayi juga di tinggalkan mamaknya.
"Assalamualaikum," ucap mereka semua.
"Oalah Om yang bawa mereka. Pantas lama, pasti di bawa keliling du buat nganter penumpang lainnya." Kata Anah saat melihat Hendri adik pak Jumadi.
Ya Hendri adalah adik satu ibu lain bapak. Dan cuma Anah yang memanggil Om, yang lain lek. Kalau Anah tidak mau karena lebih enak manggil Om, apa lagi Hendri keturunan Lampung. Lebih tepatnya bermarga Lampung, sedangkan neneknya tidak mau mengurusnya sejak usia 3 hari.
Dan sekarang Hendri memilih bekerja sebagai sopir angkot di sekitar kampung untuk menuju kota. Begitu juga sebaliknya dari kota ke kampung atau pelopor.
"Iya tadi pacar mu ini tak bawa keliling dulu."Jawab Hendri.
"Kak, mau mantu kenapa diam-diam aja?"tanya Handri.
Ya Hendri tidak memanggil mas, dan selalu memanggil kakak dari ia kecil. Dengan Mamak nya pun ia hanya sekedar menghormati perempuan yang sudah melahirkan nya. Dia lebih menyayangi ibu tiri, yang memang menyayangi dirinya melebihi mamak kandangnya.
"Itu semua kemauannya ponakan mu, kakak tidak berniat sedikit pun untuk menyembunyikan Hen."Jawab pak Jumadi.
"Kenapa begitu Mar, kan kamu anak pertama. Seharusnya di pestain yang meriah, paling kaya Monik kemarin mengumpulkan keluarga besar dari bapak dan ibu?"tanya Hendri.
__ADS_1
"Aku kan gak di sini Om, iku dengan abang Arman. Menurut ku tidak perlu, karena aku tidak mau merepotkan semua saudara. Apa lagi jarak pernikahan aku dan Monik cuma beda beberapa bulan. Yang penting sah menurut agama dan hukum." Jawab Anah dengan gamblang.
"Iya Om, lagian saya malu kalau harus ramai seperti kemarin Om."Timpal Arman, yang memang pemalu.
"Oh, tapi kalau harus secara hukum di sini harus bayar mahal. Dan tidak langsung jadi mesti menunggu beberapa hari. Karena mengurus surat nikah itu cukup jauh. Tapi memang kalau kamu mau nikah secara agama dan hukum harus berani mahal."Kata Hendri.
"Memang sampai berapa Om biayanya?"tanya Anah.
"Nanti kamu tanya saja ke penghulu nya, yang tidak lain adalah pegawai KUA langsung. Enam tahun lalu 250 ribu, itu waktu Om nikah. Oh ya kan kemarin Monik juga nikah, bikin surat nikahnya apa gak kak?" tanyanya pada pak Jumadi.
"Monik dan Istafa belum urus surat nikah, lagian penghulu sepupunya sendiri. Tinggal ngomong aja juga di urus nanti, tapi Istafa masih nunggu Anah nikah baru dia ngurus." Jawab pak Jumadi.
"Oh begitu rupanya." Kata Hendri.
Dari dapur bu Sarinem memberi kode pada Anah, untuk mengajak tamunya makan. Anah yang mengerti pun langsung berdiri, untuk mengajak mereka makan siang.
"Nyak, bang Rohman, dan Abang yuk iku ke dapur. Kita makan siang dulu, pasti lapar soalnya ini sudah siang."Ajak Anah.
"Iya Mar, tadi kita makan jam 8 pagi, nunggu mobil yang ke sini lama. Arman bilang jam 10:30 baru jalan ke sini. Ternyata dari turun mobil antar kota masih harus di tempuh 2 jam lagi."Jawab bu Saripah, sambil berjalan menuju dapur.
"Iya nyak, ini makanan kampung nyak. Jadi seadanya tidak bisa seperti di sana, mudah untuk mendapatkan lauk pauk."Ucap Anah.
"Ini juga sudah Alhamdulillah, apalagi semua tinggal petik kayaknya. Seperti nangka muda, sama kelapa yang buat santan nya. paling yang beli ini tempenya, atau ikan asin ini."Ucap bu Saripah.
"Betul itu bu, sayur ini minta sama tetangga juga di kasih. Kalau kelapa punya sendiri di belakang rumah ini."Ucap bu Sarinem.
"Maaf bu, kita sudah ngobrol ngalor ngidul, tapi belum kenalan ya. Nama saya Saripah, dan ini keponakan saya Rohman."Bu Saripah mengenalkan dirinya dan keponakan nya.
"Iya betul itu, sampai lupa. Saya Sarinem, sering di panggil Inem dan ini bapak nya Jumadi, sering di panggil Jum. Ini mamaknya dari bapaknya Anah, mak Ponirah, sering di panggil nek Irah. Nah kalau ini si bontot namanya Udin."Ucap bu Sarinem.
"Assalamualaikum......"
*****Bersambung.......
__ADS_1