
Siang hari Anah bertemu dengan Edi, pemuda asal Lampung Selatan. Yang Anah taksir, tapi Edi tidak menganggap Anah sebagai pasangan. Anah hanya di anggap teman dan saudara sekampung saja. Sehingga Anah menerima pernyataan cinta Hendra.
"Habis beli nasi ya mas?" tanya Anah dengan senyum manisnya.
"Iya, oh ya. Aku boleh tanya gak?"tanya Edi.
Kebetulan mereka ngobrol di pintu pagar samping, dan pintu rumah hanya berjarak 1 meter. Nyonya Kristine sedang berjalan menuju pintu keluar. Namun ia urungkan, karena mendengar Anah sedang ngobrol dengan seseorang. Yang ia pikir itu pacar nya Anah, jadi bisa tau apa yang di rencanakan.
"Memang mau tanya apa mas?"tanya Anah.
"Emang bener kata jadian dengan Hendra?"tanya Edi, yang terus menatap wajah polos Anah.
"Iya mas, kenapa emang?"tanya Anah.
"Kalau bisa jauhi Hendra, dia laki-laki yang tidak baik untuk perempuan seperti mu Mar. Aku tau dia siapa, kerja pun semau dia, tidak bersungguh-sungguh. Aku juga tidak mau kamu itu terluka dan patah hati nantinya."Kata Edi meminta Anah menjauhi hendak.
"Kalau aku tidak mau kenapa?"tanya Anah dengan tatapan sinis, karena ia menerima Hendra juga ingin tau rasanya punya pacar. Kalau pun serius, Anah pun mau jika di ajak nikah dalam waktu dekat. Meski pun usianya belum genap 18 tahun.
"Karena aku tau, dia pacaran sama siapa aja. Dan dia suka minum-minum, aku ngomong begini. Bukan karena ingin merusak hubungan mu dengan pacar mu. Tapi aku sebagai teman dan kakak mu, yang memang kita lahir di tanah kelahiran yang sama. Kamu dan aku sama-sama merantau, jadi bagi ku punya kewajiban untuk mengingatkan."Jawab Edi panjang lebar, menceritakan tentang Hendra yang dia ketahui.
__ADS_1
"Aku orang yang tidak mudah percaya mas, memang tujuan mas baik untuk ku. Terima kasih sudah mengingatkan aku, tapi selama aku tidak melihat sendiri aku tidak akan memutuskan dia. Apa yang akan ku jadikan alasan minta putus dari Hendra. Apa mas cuma menganggap aku teman dan adik saja?"tanya Anah.
"Bukannya kamu tidak suka dengan laki-laki yang sudah dewasa? Aku tidak bisa bersama mu Mar, karena aku sudah punya pacar. Dan aku sudah lamaran sama pacar ku. Aku hanya menganggap teman dan adik karena kamu gadis yang perlu di lindungi. Aku sebagai teman sekampung wajib melindungi mu dari orang yang tidak baik. Karena aku tidak mau kamu terluka dan patah hati. Maka dari itu sebelum kamu berhubungan terlalu jauh. Putus kan dia dan jauhilah Hendra Mar, sebelum kamu menyesal di kemudian hari." Edi langsung meninggalkan Anah yang masih mematung dengan menunduk.
Edi tidak ingin ia di salah kan oleh Hendra, yang saat ini sedang menatapnya dari tempat kerjanya. Dan melihat Anah yang mematung dengan menunduk, dan nafas naik turun terlihat dari gerakan dadanya dan pundak. Segera ia pergi, karena tidak mau Anah semakin menaruh hati padanya.
Anah sadar bahwa dirinya sudah salah menerima ungkapan Hendra. Harus ia jangan mudah menerima cinta orang yang ia baru kenal. Sementara dengan Mulyono pemuda asal Malang yang mengajak nya menikah malah ia tolak.
Mendengar jawaban Edi, tiba-tiba dadanya terasa sakit. Karena ternyata Edi tidak pernah menganggap dirinya sebagai perempuan yang ia cintai. Karena sudah mempunyai calon istri, untuk usia memang Edi sudah dewasa. Kini usianya sudah 27 tahun, dan Edi memang hanya mengganggap Anah sebagai adik.
Anah menangis dengan bersandar dinding, pagar sudah di tutup sebelumnya. Anah dalam dilema, harus lanjut atau putus dengan pacarnya. Tadi pagi di nasehati majikannya, sekarang Edi. Sementara apa yang ia lihat tidak ada celah tentang pacarnya itu.
...****************...
"Nya aku pergi dulu ya." Pamit Anah.
"Iya, hati-hati di jalan."Ucap nyonya Kristine.
"Iye deh. Yang lagi berbunga-bunga nih, secara mau ketemu camer. Emang lu janjian di mana? kenapa bukan die yang kemari buat jemput calon istrinya. Kenapa malah suruh di mana?" tanya Cici Sahita.
__ADS_1
"Karena dia jemput di depan gapura komplek Ci." Jawab Anah, dengan raut wajah bahagia.
"Yah percaya amat ama laki kayak begono. Ya sudah, hati-hati. Awas lu kalo punya nangis mewek gue jewer kuping lu. Karena tidak dengar nasehat orang tua," Kata Cici Sahita, yang paseh sekali dengan bahasa Betawi. Tidak ketara sekali kalau dia ada orang Cina, yang terkenal khas bahasa dalam berbahasa Indonesia.
Anah cuma mengangguk sebagai jawaban untuk Cici Sahita. Yang memang sudah seperti ibunya sendiri, bahkan kalau bicara suka ceplas-ceplos. Tapi Anah tidak pernah marah, jika masih ada nada bercanda nya. Namun tidak dengan ucapan Cici Sahita yang sebulan lalu. Anah juga merasa bahwa yang di sidang dengan ibunya.
Sudah satu jam Anah berada di gapura komplek. Tidak ada tanda-tanda Hendra datang, bahkan Anah sudah sudah pegal berdiri dan duduk. Sudah bosan menunggu, namun tidak ada ke pastian.
Mobil kijang penter milik bos lewat, untuk berangkat ke gereja. Namun mereka tidak mau menegur Anah sama sekali. Tapi Anah melihat bahwa di dalam mobil itu semua sedang menertawakan Anah.
"Lihat itu si Mar, di bilangin orang yang sudah pengalaman tidak percaya. Makan tu bualan si bajingan mata keranjang. Kering-kering dah lu, nyengir aja di situ."Kata Cici Sahita.
"Memang dari jam berapa Ci si mar pergi? tanya Koko Dion, adik iparnya.
"Dari jam 7 tadi."Jawab Cici Sahita.
"Kasihan deh, kenapa tidak pulang aja ya dia masih aja nunggu itu pacar yang tidak jelas."Kata Cici Junita adik bungsu Cici Sahita.
"Gengsi lah, kita lihat aja bagaimana nanti. Aku sih yakin, dia cuma di kadal-kadalin sama bajingan itu." Cici Sahita sangat kesal dengan apa yang di lihat nya.
__ADS_1
"Lu tau gak, minggu lalu habis pinjam uang sama Mar. Alasannya untuk biaya bapaknya masuk rumah sakit. Berapa hari kemudian dia telepon ke rumah, ngasih kabar kalau bapaknya meninggal. Dan butuh uang untuk biaya pemakaman, yang masih kurang 500 ribu. Dia akan ambil habis magrib, dan Anah kasih aja gitu. Si Mar, minta uang sama mami, tak lama itu bajingan datang ambil uang. Coba lu pikir mana ada orang yang keluarga nya meninggal masih keluyuran. Tapi kita sampai apa pun pada Mariana, kaga masuk sama sekali. Dasar anak keras kepala, kalo anak gue udah tak jedotin tu kepalanya ke tembok."Cerita Cici Sahita pada adik dan adik iparnya ada dua baby sitter juga duduk di belakang.
*****Bersambung.....