
Beberapa minggu kemudian Anah lagi di sawah seorang diri.
Anah bekerja seorang diri terkadang ia merasa takut. Jika ingat sawah itu bersebelahan dengan tanah wakaf pemakaman umum.
Dari pulang sekolah Anah hanya makan tanpa beberes rumah. Karena ingat bahwa kerjaan nya di sawah harus selesai dalam dua hari lagi. Yaitu hari ini dan besok, dan hari ini Anah sangat semangat.
Setiap orang yang melintas di sawah sudah pasti akan menyapa.
"Anah kamu di sini sendirian?"tanya Sopian.
"Iya lah mas, mas Sop mau ngarit rumput ya?"tanya Anah.
"Iya." jawabnya ketus "Anah, kamu itu kalau manggil itu yang lengkap gitu. Kalau gak ya panggil nama yang belakang aja Ian gitu."Protes Sopian.
"Lah emang aku tadi aku panggil sampean apa?"tanya Anah dengan wajah polos.
Anah saat ini duduk di pinggir sawah yang buat orang pada lewat. Tepat duduk di sebelah Sopian yang sedang duduk menatap Anah.
Sopian seorang bujang, tanggung yang kini usianya 17 tahun. Di juga suka jika melihat Anah dan perilaku Anah, baginya sangat menggemaskan.
"Masak kamu panggil aku sayur sih An."Kata Sopian pura pura manyun, padahal dia senang bisa ngobrol bareng Anah.
"Sayur kapan? kan tadi aku panggil mas Sop, bukan sayur?"tanya Anah yang bingung dengan apa yang di katakan.
"Nah Sop itu kan sayur An."Jawab Sopian dengan tangan yang sudah mencubit gemas kedua pipi Anah.
"Oh iya, tapi ya gak papa lah kalau Ian banyak samaan mas. Ada lek Iyan, pakde yan, terus sekarang mas Ian gitu?" tanya Anah lagi dengan sedikit senyum.
"Nah gitu kan dengarnya manis ada senyumnya." Kata Sopian, sambil mengusap kepala Anah.
"Hehehe tapi aku suka nya panggil mas Sop."Kata Anah.
"Emang kamu mau cium mas, kalau panggil nya begitu?"tanya Sopian dengan senyum menggoda.
"Ye siapa juga yang mau cium mas Sop."jawab Anah kesal dengan menatap wajah Sopian yang tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Iya kamu kan mas mau lihat kamu itu tersenyum manis dengan Panggi mas Ian. Eh malah kamu maunya mas Sop, kan jadi monyong-monyong seperti mau cium. Nih mau cium yang mana pipi kanan atau kiri, dengan senang hati mas terima."Ujar Sopian dengan menyodorkan pipinya, dan dengan senyum sumringah.
" Hiii mas kalau mau minta cium tuh sama pacarnya saja jangan sama aku. Aku itu masih kecil belum gede, dah sono ngarit rumput."Kata Anah kesal dengan Sopian pun langsung jalan ke tengah sawah.
"Hahahaha An, kok ke sana sih? kamu aja ya jadi pacar mas terus nanti kita nikah kalau kamu sudah lulus SD." Ujar Sopian, dengan nada serius.
"Gak MAU!!!, aku mau sekolah. Gak mau kaya mbak Mei, lulus SD dan baru kelas 2 SMP nikah. Kalau mas mau nikah tu cari yang udah gede, kayak mas udah lulus SMP." Tolak anak dengan penuh penekanan setiap kalimat terutama kalimat gak mau.
"Ya sudah kalau begitu mas pergi dulu cari rumput, kamu hati-hati ya."Ujarnya pada Anah, dengan raut wajah datar dan kecewa. Berlalu pergi meninggalkan Anah di sawah itu.
Anah menoleh sejenak lalu lanjut dengan kerjaan nya, yang mencabut rumput liar di tengah sawah.
Ya di desa tempat Anah tinggal, masih remaja bau kencur enak ngomong baru balek. Jika sudah ada yang melamar, atau pacar langsung di nikah kan. Kalau para orang tua tidak ingin terjadi hal yang buruk.
Bahkan jika usia perempuan lebih dari 20 tahun di anggap perawan tua.
Seperti yang terjadi pada Izah kakaknya Angga. Yang memang usianya sudah 20 tahun lebih. Bahkan sering menolak bujang, yang di sekitar kampung. Kini sudah di cap perawan tua yang suka pilih-pilih dan mandang status sosial nya.
Karena dari lulus SD Izah sudah ikut Kanti ke Jakarta. Maka dari itu pengalaman mengenal pemuda pun luas. Sehingga ketika berjumpa dengan pemuda kampung nya menjaga jarak. Apa lagi kalau yang hanya sekedar ngajak pacar, tentu ia akan menolak.
Di sawah Anah di sapa oleh pak Sakiyat, pemilik sawah yang dulu.
"Anah kamu sendiri? Nenek mu kemana?"tanya pak Sakiyat.
"Di sawah yang jauh pakde, sama lagi matun."Jawab Anah.
"Oh begitu, ya sudah hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore."Pak Sakiyat mengingatkan Anah.
"Ngeh pakde"jawab Anah.
Pak Sakiyat mengingatkan Anah namun tidak mengatakan hal yang menakutkan. Karena ia tidak ingin juga jika Anah merasa takut.
Bukan apa-apa ini sudah sore bahkan sudah ashar, pak Sakiyat sedang mencari rumput sama dengan Sopian.
Saat ini jam menunjukkan pukul 4 sore, suasana mulai sepi dan para petani sudah mulai pada pulang.
__ADS_1
Akan tetapi Anah malah asik dengan pekerjaannya, sampai jam setengah 5 sore. Pak Sakiyat pun pulang dan mengajak Anah pulang, cuaca juga mendung. Bertanda akan turun hujan nanti namun masih lama.
"Anah ini sudah sore, itu juga mendung ayo pulang nanti kehujanan lo."Ajak pak Sakiyat, menoleh pada Anah.
"Ngeh pakde ini rapih kan sepojok, selesai pulang."Kata Anah.
"Ya sudah pakde duluan ya."Ujar pak Sakiyat langsung jalan pulang meninggalkan Anah.
"Ngeh"sahut Anah dan melanjutkan pekerjaannya.
Begitu selesai Anah langsung naik ke pikiran, Lala nyemplung ke sungai untuk cuci tangan kaki dan muka. Biar seger dan bersih maksudnya.
Setelah selesai ia mau mengambil botol minum nya, yang berada di sebelah sawah. Tepat di bawah pohon besar, tempat dia Dudu bersama Sopian tadi.
Baru saja berjalan kearah pohon besar itu, dan Anah mendengar panggilan neneknya.
Di bawah pohon itu, pakai pakaian hijau, baju kebaya hijau kain batik hijau pakai kerudung dan topi petani.
"Anah ayo pulang sudah sore"Ajaknya dan langsung berjalan ke arah utara.
"Iya ini lagi jalan pulang" sahut Anah.
Sementara arah pulang Anah kearah selatan lalu ke timur. Namun Anah belum sadar akan hal aneh itu.
Saat di pinggir sungai batas sawah nya dengan sawah orang lain. Anah mau jatuh karena terpeleset, hampir saja nyungsep.
Begitu sampai seberang sungai yang lebarnya hanya satu meter itu. Dia melihat neneknya cepat sekali jalan nya. Dan Anah terpeleset lagi, lalu Anah memperhatikan jalan sambil bertanya dengan teriak karena dia ketinggalan jauh dari neneknya.
"Nenek kan kita mau pulang, kok ke sini?"Pikiran sudah menyadari arah jalan pulang nya bukan sana.
Saat sudah pas jalan yang enak Anah menatap ke depan. Sungguh terkejut Anah neneknya sudah tidak ada menatap sekitar Anah langsung merinding.
"Astaghfirullah, laillahailallah" Langsung Anah balik kanan, menyeberangi sungai dengan hati-hati.
Sudah sampai seberang langsung lari, dan hujan mengiringinya jalan pulang. Sepanjang jalan Anah membaca surat-surat pendek yang sudah dia bisa. Yaitu 3surat terakhir dalam Alquran, sampai di rumah mbah Rom dia baru jalan dan tenang walau pun masih ngos-ngosan.
__ADS_1
*****Bersambung.....