TAKDIR KU

TAKDIR KU
105.KEPULANGAN PAK JUMADI


__ADS_3

Sebelum magrib Susi pulang bersama anaknya Sekar.


Begitu masuk Susi sama sekali tidak di tanya atau di ajak bicara oleh suaminya.


Bahkan saat makan malam, Parno yang biasanya makan bersama. Tapi kali ini tidak, dia mengambil nasi untuk mamaknya dan Anah sendiri tanpa minta bantuan Susi.


Setelah selesai makan malam Parno minta izin pada mamaknya. Jika besok akan pergi pagi untuk menjemput masnya.


Demi keponakan yang sangat ia sayangi, meski demikian kasih sayang yang ia berikan belum sepadan. Dengan apa yang sudah di berikan oleh masnya, yang memperlakukan dirinya layaknya anak sendiri.


"Mak besok aku mau ke pegunungan, mau jemput mas Jum."Ujar Parno.


"Iya sudah mungkin dengan begitu, mamak cepat keluar dari sini."Kata Nenek.


"Memang aku jemput mas Jum, untuk Anah dan mamak. Karena di sini terus tidak bakal mamak Anah tenang. Apa lagi aku disini cuma numpang hidup, jadi kalau mamak sama Anah di sini akan jadi beban mereka." Ujar Parno.


"Kamu itu memang cuma makan dan tidur apa. Mereka tidak menghargai mu, apa mereka lupa. Mereka yang mengemis minta kamu menikahi Susi. Seperti gadis tidak laku aja, kamu harus tegas sama Susi. Kalau tidak maka kamu bawa Susi, dan urus sendiri. Cari perempuan yang mau nerima apa adanya."Nenek dengan emosi, suara lantang namun serah


Deg


Susi kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh mertuanya. Ya memang Parno dulu melamar dirinya, tapi sebelumnya pak Iman yang meminta Parno.


Pak imam melakukan itu juga atas permintaan Susi sendiri. Sekarang harus bagaimana jika Parno sudah tidak lagi mau bersamanya.


"Kenapa mas Parno jadi begini, perasaan tadi baik-baik saja. Tapi sejak aku pulang dari rumah mamak, dia sama sekali tidak menyapa ku. Biasanya minta di buatkan teh, ini bikin sendiri. Apa mungkin dia dengan pembicaraan ku ya, waktu di rumah mamak." Susi bermonolog sendiri.


Kembali pada Parno, dia tampak berfikir sejenak.


"Gampang nanti mak, tidak bisa ambil keputusan dengan emosi. Harus dengan kepala dingin, agar tidak salah langkah. Aku cuma lagi kecewa dengan sikap Susi, melihat Anah datang di antar mbak Marni malah dia balik kanan."


"Kan aku malu sama mbak Marni, bagaimana jika dia berpikir yang tidak-tidak. Apa dia tidak berpikir kesitu, di tambah lagi kalau dia tidak suka. Jika mamak dan Anah di sini, atau di urus di sini. Sebenarnya aku bisa saja bawa mamak dan Anah pulang. Tapi aku gak mau nanti tetangga berpikir buruk pada pak Iman."Kata Parno panjang lebar, mengeluarkan unek-unek yang ada pada dirinya.


Deg

__ADS_1


Sungguh kali ini Susi seperti di hantam bongkahan batu besar. Dan tidak menyangka bahwa suaminya masih memikirkan dampak buruk yang akan menimpa pada keluarganya.


Padahal jika itu dirinya yang ada di posisi suaminya. Tanpa pikir panjang langsung pergi membawa keluarganya. Tapi ini suaminya tidak melakukan apa-apa dan menahan amarahnya. Supaya tidak bertengkar dengan dirinya atau keluarganya.


"Semoga mas mu besok bisa pulang, sehingga mamak dan Anah cepat pulang dan sembuh. Disini mamak malah tidak tenang, istri mu memang diam. Tapi dia nya itu, tidak mencerminkan sikap dirinya."Ucap Nenek.


"Sudah malam besok aku harus berangkat pagi mak."Ujar Parno langsung merebahkan diri di sampingnya Anah.


"Lah ngapain kamu tidur di situ bukan di kamar mu sana?"tanya Nenek.


"Aku mau jaga Anah, yang lagi sakit. Aku tidak bisa tidur juga jika di kamar, selain kepikiran Anah juga males lihat muka Susi."Jawab Parno, setelah itu langsung memeluk dan tidur.


...****************...


Sebelum magrib pak Jumadi dan Parno masuk rumah.


Memang di ruang tamu ada pak Iman dan beberapa tetangga. Yang berniat menjenguk Anah dan Nenek.


"Assalamualaikum,"ucap pak Jumadi dan Parno.


"Maaf saya langsung ke dalam, mau ajak Anah dan mamak langsung ke dokter."Ujar pak Jumadi.


"Gak istirahat dulu mas Jum?"tanya pak Iman, basa basi. dalam hati ada rasa yang tidak enak.


"Maaf pak saya takut terlambat menangani Anah dan mamak."Pak Jumadi memberikan alasan yang masuk akal.


"Saya permisi,"langsung masuk ke kamar. langsung mengangkat Anah ke dalam gendongan.


Begitu juga dengan Parno menuntun mamaknya keluar dan langsung naik motor ojek.


"Saya pamit terima kasih pak Iman dan Susi sudah membantu mengurus mamak dan Anah. Saya permisi assalamualaikum,"ucap pak Jumadi, langsung keluar naik motor pulang.


"Sama-sama mas Jum, wa'alaikumsalam."Jawab pak Iman, yang menjawab salam saja.

__ADS_1


Setelah kepergian pak Jumadi dan Parno, para tetangga ambil kesimpulan. Bahwa pak Jumadi memiliki trauma, yang pernah menghadapi anak sakit.


"Mungkin mas Jumadi memiliki trauma terhadap anak yang sedang sakit."Kata tetangga depan rumah parno.


"Iya mungkin, siapa pun akan merasa khawatir pada anaknya yang lagi sakit. Apa lagi mas Jum hampir kehilangan Anah. Anah sembuh itu suatu keajaiban dari Allah yang maha kuasa." Ujar mamaknya Roni.


"Doakan ya Bu ibu, supaya besan dan Anah sembuh." Terkesan bijak dalam bertutur kata pak Iman ini.


Tapi setiap ucapan nya mengandung tipu muslihat. Karena yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan hatinya.


Sungguh tidak menyangka jika tetangga tahu ke benarnya. Pasti tidak akan pernah percaya dengan ucapan pak Iman.


Pak Jumadi dan Parno kini sudah sampai rumah nya. langsung membawa Anah ke kamar nya, dan nenek pun sama di bawa ke kamarnya.


"Par kamu mau nginep apa pulang?"tanya pak Jumadi.


"Aku capek mas, nginep saja."Jawab Parno.


"Ya sudah kita sholat magrib dulu."Ucap pak Jumadi dan langsung keluar dari pintu dapur, menuju kamar mandi.


Parno menyusul ikut ke kamar mandi untuk melakukan hal yang sama.


Setelah sholat magrib pak Jumadi, langsung menyalakan api di tungku. Pak Jumadi mau masak, karena merasa lapar. Dan yakin jika Anah dan mamaknya belum makan dari siang tadi.


"Par ini tolong bikin kopi dan teh nya tiga. Dan jangan lupa ini nasi di lihat-lihat."Ujar pak Jumadi.


"Mas mau ke mana?"tanya Parno.


"Mau ke kebelakang cari pepaya, kita bening saja. Sekalian buat Anah makan itu nanti sisa air buat kopi dan teh. Langsung irisin bawang merah, mas biar langsung kupas."Jawab pak Jumadi.


Langsung metik pepaya muda, dan kemudian di belah jadi dua. Separuh di masak sekarang, dan separuh lagi untuk besok pagi.


Setelah mengupas langsung di cuci dan di potong-potong. Selesai langsung di masukkan ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih dan irisan bawang merah.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2