
"Dek kenapa manyun udah kaya bebek, yang di kandang dek."Canda Parno.
"Mas sih pulang nya malam," masih aja dengan manyun.
"Tu dah pulang masih manyun, nanti Parno pulang ke rumah masnya lagi." Kata pak Iman yang sudah masuk lalu duduk di kursi tak jauh dari Susi dan Parno.
"Mas aku pengen makan pisang goreng." rengek Susi.
"Wah kok mas bener ya? tadi mas Jum bilang, kamu ngidam pisang goreng. Ini aku di suruh kasih pisang gorengnya sama kamu." Kata Parno, sambil memberikan kantong pada Susi.
"Emang mas Jum tau dari mana aku ngidam mas?" tanya Susi.
"Mas juga gak tau dek." Parno diam tapi pikirannya pada ucapan pak Jum tadi.
...----------------...
Sebelum parno pulang tadi.
Ketika parno akan membuka pintu, pak jumadi menghentikannya.
"Eh parno tunggu sebentar," lalu berjalan menuju dapur, tak lama balik lagi. Dan langsung memasukkan semua pisang yang ada di piring. "Ini nanti kasih Susi, Kalau dia minta pisang goreng. Kalau minta pisang tanduk, hanya kamu yang punya."Sambil tersenyum penuh arti.
Parno langsung pulang, sepanjang jalan ia mikirin apa yang di katakan masnya.
...----------------...
"Mas kok bengong sih,"Susi menggoyangkan lengan parno.
"Oh mas lagi mikirin apa yang di kata mas Jum tadi. Dan parno menceritakan yang di katakan oleh pak Jumadi.
Hal itu membuat pak Iman, tak berani melakukan yang menyinggung pak Jumadi. Dengan ini ia makin kagum dengan pak Jumadi. Dan satu kampung hanya dia yang tau, jika parno tak cerita pada yang lain. Pak Iman meninggalkan ruangan tamu yang menyisakan Parno dan Susi.
"Mas ini pisang enak banget siapa yang buat mas?"tanya Susi.
"Kalau di rumah ada mas Jum, sudah pasti yang masak ya mbak yu Inem dek." Jawab Parno.
"Mas satu lagi jangan di makan ya? aku mau makan nanti pas lapar."Kata Susi.
"Kirain kurang, kalau kurang mas mau kasih pisang tanduk milik mas nih."Kata Parno bercanda, gak nyangka Susi antusias.
"Ya mau mas mana pisang tanduknya, kan mas tidak membawanya selain pisang goreng ini?"tanya Susi dengan muka berbinar.
__ADS_1
"Beneran mau?"Susi mengangguk, Parno meraih tangan Susi, lalu ia masuk ke dalam celananya. "Ini pisang tanduknya, mau?" sambil tersenyum penuh arti.
Susi mengangguk menuduh wajahnya sudah merona. "Mau mas,"kata Susi.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan Parno langsung menuntun Susi ke kamar mereka. Tak lupa membawa pisang goreng yang sisa Susi tadi.
...****************...
"Dek pisang goreng habis tak bawain Parno. Kali aja istrinya ngidam. Kan parno gak usah harus kesini lagi minta pisangnya."Kata pak Jumadi.
"Perasaan kamu gak ngomong gitu deh tadi" Kata bu Sarinem.
"Kita lihat saja besok, apa benar yang aku katakan atau tidak. Kalau benar itu kebetulan aja dek, aku gak mau dia terlalu mikir yang tidak tidak. Kalau pak Iman berani macem macem sama Parno. Aku akan bawa Parno pergi dari sini beserta anak istrinya. Toh pak Iman tak punya hak atas Susi, termasuk Supri. Yang berhak sekarang adikku, bebas aku mau bawa Parno ke mana saja istrinya ikut. Itu kalau pak Iman mau, anak yang paling disayang hilang dari genggaman tangannya."Kata pak Jumadi dengan muka menahan marah.
"Ih mas serem banget sih kalau ngomong. Sudah kaya dukun aja, aku merinding dengernya."Kata bu Sarinem.
"Aku serius dek, kok di bilang dukun. Yang dukun pak Iman tu, di sini dia bantu orang kesambet dan lainnya. Tapi sama Parno dia mengikatnya, sampai Parno tekanan batin. Tadi Parno tidak mau cerita sama mas. Dia berkata seakan tak ada harapan aja. Aku punya cara buat dia bisa terbuka, suatu saat nanti kita akan kehilangan dia. Tapi dia jadi mantu kesayangan pak Iman, begitu pun anaknya. Tapi semua itu tergantung Parno, berpihak pada kita atau mereka."Kata pak Jumadi.
"Tu kan mas, kalau ngomong kayak gitu. Mas bukan dukun kan."Kata bu Sarinem.
"Sudah lah ayo tidur mas ngantuk, kalau adek gak mau tidur. Tak kasih pisang tanduk ni, biar cepat tidur."Kata pak Jumadi.
"Eh aku ngantuk juga mas."Langsung memeluk suaminya dan menutup mata. Ia tak mau melakukan itu, karena yang di katakan pak jumadi benar adanya. Tak bisa menahan suaranya ketika melakukan hubungan suami istri.
Pak!"suara Anah mengagetkan bapak dan ibunya.
"Iya, ada apa?"tanya pak Jumadi.
"Ayo anterin aku mau pipis ke sumur yok."Ajak Anah.
"Ya deh bapak antar."menyingkirkan tangan bu Sarinem, lalu ia turun dari ranjang. Yang di ikuti Anah, dan berjalan menuju sumur.
"Kalau gak ada bapak siapa yang anterin pipis?" tanya pak Jumadi, setengah berbisik.
"Aku pipis sendiri pak? udah lama aku kalau pipis gak di temani nenek."Kata Anah, ia secara tidak langsung mengadu pada bapaknya, itu karena dia lupa.
"Terus kenapa sekarang minta anter?" pak Jumadi memang punya cara agar anaknya mau terbuka.
"Kan ada bapak sama ibu. Kalau aku minta anter nenek nanti nenek marah pak. Nenek kan capek, jadi terganggu tidurnya pak."Kata Anah.
Kini pak Jumadi tau karakter anak sulungnya.
__ADS_1
Bisa menyimpan masalah sebesar ini sendiri. Terlihat ceria, tapi sebenarnya rapuh, tapi ia yakin suatu hari nanti ketika dewasa. Anaknya ini akan menjadi anak yang sabar dan kuat.
"Tunggu sini gantian bapak mau pipis dulu ya."Kata pak Jumadi, Anah hanya mengangguk.
Tak lama mereka selesai, pak Jumadi mengunci pintu belakang. Setelah itu mereka masuk kamar dan naik ranjang.
"Bapak aku mau di koloni sama bapak" rengek Anah, bu sarinem mendengar itu pindah tempat Anah tadi. Kini Anah menempati bekas ibunya, dan di peluk pak Jumadi. Mereka akhirnya tidur pulas, saling berpelukan.
...****************...
Monik duduk di belakang sama ibunya.
Anah di depan, pak Jumadi menggowes sepedanya menuju pasar. Namun berhenti di sekolah di Anah, dan Anah turun. Setelah bersalaman sama ibu bapaknya ia langsung masuk ke area sekolah.
"Anah bapak mu pulang kapan," Johan tanya.
"Kemarin"jawab Anah singkat.
"Terus tadi mau kemana?"tanya Angga
"Mau ke pasar mas,"jawab Anah.
...****************...
Rupanya ia mampir ke rumah pak iman, sebelum ke pasar. untuk memastikan apakah benar yang dikatakan adiknya itu.
"Assalamualaikum," pak Jumadi mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam, loh mas pagi sekali kesini.
Ayo masuk mas Jum." Dengan muka pias.
"Mak, bikin minum ini ada besan."Sedikit berteriak, pada istrinya.
"Lah tidak usah repot-repot pak Iman."Kata pak Jumadi santai, sambil tersenyum menatap pak Iman. Pak Iman yang mendapat tatapan pak Jumadi pun ketar ketir takut salah bicara.
"Gimana kabarnya pak Iman dan keluarga, saya dengar lagi pada bahagia. Hasil panennya juga lumayan, saya tau begitu dari ikut manen di sawah pak Iman."Kata pak Jumadi santai.
"Di minum mas mbak,"kata istri pak Iman.
"I..iya lumayan....."
__ADS_1
*****Bersambung.....