TAKDIR KU

TAKDIR KU
118.PUTUS ASA


__ADS_3

Ia hanya berpikir, dengan dia ikut bekerja. Dirinya tidak akan bosan di rumah, dan dia tidak di cap makan gratis oleh orang tuanya.


Anah yang sudah merasa di besar dan di sekolah hingga lulus pun. Cukup tau diri, apa yang harus dilakukan untuk orang yang sudah berjasa untuk nya.


Saat ini yang di pikiran Anah Anah adalah anak angkat. Yang ia tau, anak angkat akan di sayang sepenuh hati. Sebelum kedua orang tuanya memiliki anak sendiri. Setelah memiliki anak sendiri maka kasih sayang itu hilang begitu saja. Dan akan tercurahkan pada anaknya sendiri.


Itulah sebabnya Anah merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya. Sejak Anah memiliki adik laki-laki, yaitu si Udin.


Dulu waktu Anah di tinggal dengan neneknya. Itu juga sebagaian dari jalan untuk mengurangi kasih sayang mereka yang sudah melekat. Setelah Anah tidak keberatan jauh dari mereka maka mereka lebih mudah untuk melupakan Anah.


Dan setelah itu hanya rasa tanggung jawabnya sebagai orang tua yang sudah mengurusnya sejak bayi.


Itulah yang membuat Anah berubah menjadi orang yang sangat mudah marah. Mudah tersinggung dengan omongan orang, dan tidak mudah untuk memaafkan. Tidak mudah melupakan orang yang sudah menyakiti hatinya.


Julukan Unyil saat ia kecil pun hilang, sekarang mau di juluki apa si pemarah pun ia tidak perduli. Baginya dia hidup tidak menyakiti hati orang lain. Yang di sengaja atau di lakukan nya. Dirinya hanya membela diri sendiri, karena tidak mungkin ada yang percaya lagi terhadap dirinya.


...****************...


Dua hari telah berlalu, Anah sudah ikut di ladang memang tampak biasa saja. Namun ternyata hanya nampak luarnya saja. Yang ada Anah hanya mengikuti arus air mengalir. Apa saja yang di lakukan Anah, baginya sudah tidak penting. Rasanya Anah tidak ingin hidup, kalau mati tidak akan ada artinya.


Putus asa? iya Anah sudah putus asa dengan takdir hidupnya.


Malam hari, para bujang yang sering main ke pak Jumadi. Pas melihat Anah yang biasanya banyak omong dan tingkah. Mereka bingung dengan Anah terlihat dingin tanpa ekspresi. Dan seperti orang tidak kenal dengan mereka.


Sarwadi melihat Anah dia tidak heran, karena Anah merasa malu tidak di sekolah kan oleh bapaknya. Sebelum ke rumah pak Jumadi, dia baru pulang dari rumah bapaknya yang baru. Dan mendengar cerita dari adiknya, kalau berita tentang Anah tidak jadi sekolah.


Bahkan beredar berita kalau Anah tidak boleh sekolah sama bapaknya. Karena Anah akan menikah dengan orang yang sudah di jodohkan oleh bapaknya.


Pak Jumadi sendiri yang mendengar berita itu sudah tau siapa yang menyebarkan berita bohong tersebut.

__ADS_1


Yang tadinya respect dengan orang tersebut, sekarang akan menjaga jarak. Bertepatan dengan selesai panen kopi, di kebun pak Yatno.


Ya yang tau perjodohan itu cuma pak Yatno dan dirinya. Sudah pasti salah satu keluarga pak Yatno, yang bicara pada orang lain.


Memang yang cerita Darminah, Darminah cerita dengan temannya. Yang memang tidak pernah suka dengan kesuksesan orang baru. Ya orang itu ada penduduk asli kampung ini, sementara pak Jumadi itu pendatang.


Saat ini mereka ngobrol dengan pak Jumadi, Seswanto duduk di sebelah Anah.


"Lek saya dengar Anah mau nikah apa benar?" tanya Sarwadi.


"Siapa yang bilang? ini juga belum tentu benar. Karena itu pasti orang yang sudah sering bikin keributan."Kata pak Jumadi, sebenarnya dia kecewa dengan pak Yatno.


"Kalau masalah Anah tidak sekolah itu kenapa lek?"Tanyanya lagi.


"Yo kalau itu, memang tak larang. Lagian Anah itu perempuan gak harus sekolah, toh nanti ujung-ujangnya ke dapur. Kamu saja yang laki-laki milih tidak sekolah. Lalu Anah kenapa harus sekolah, kecuali Anah calon mantunya pak camat."Ucap pak Jumadi.


Pikir pak Jumadi biar Anah bisa terima ucapan nya. Dan tidak tersinggung lagi, dengan apa yang di ucapkan. Dan itu juga untuk menjawab pertanyaan Sarwadi. Yang memang sudah siap menikah dengan Anah. Kapan pun di minta menikahi Anah, karena memang sudah ada niat untuk menjodohkan mereka.


Seswanto sendiri yang belum tau kedudukan perkara tersebut hanya diam. Dia hanya ingin nonton dan dekat Anah, sudah tidak ingin ikut campur urusan pak Jumadi.


Beberapa saat kemudian setelah banyak obrolan yang di bahas. Sarwadi pamit ke kamar mandi, sebelum pulang.


"Ses nanti kalau bisa di sini saja tidur, ada yang pak lek bahas sama kamu. Yang lain mau ikut pulang Sarwadi boleh. Nginep di sini juga boleh, tapi kalau bisa jangan nginep semua gak enak sama Sarwadi."Pinta pak Jumadi, pada anak-anak buahnya saat bekerja di tempat pak Yatno.


Ngeh lek,"jawab Seswanto.


Yang lain mikir apa yang akan di bahas dengan Seswanto. Dan apa yang di katakan pak Jumadi ada benarnya. Jika semua nginep tidak enak dengan Sarwadi sebagai anak bos besar.


"Aku ikut nginep saja lek."Jawab Suyono.

__ADS_1


Yang lain tidak ada pilihan apa lagi dua orang tua yang ikut ke rumah pak Jumadi. Yang tidak lain tetangga pak Jumadi dulu. Dan satu lagi bujang Warno, anak tetangga di sana juga.


"Monggo pak lek kita pulang dah malam, mas Ses, mas Yono, Warno."Ajak Sarwadi.


"Ayo,"pada berdiri kecuali Seswanto dan Suyono.


"Aku nginep saja lah sudah lama juga gak nginep di rumah lek Jum."kata Seswanto.


"Aku juga lah."Timpal Suyono.


"Oh ya sudah kalau begitu, saya pulang ya lek." Langsung keluar dan memimpin jalan.


Ada rasa kesal juga Sarwadi, pada Seswanto yang tiba-tiba mau nginep. Karena dia ada rasa cemburu, jika muat ini rumah pak Jumadi. Maka dia milih menginap di rumah pak Jumadi juga.


Setelah kepergian Sarwadi dan yang lainnya. Pak Jumadi segera membahas tentang niatnya, mengajak pindah kerja pada dirinya.


"Begini Ses, lek Jum pengen berhenti kerja sama pak Yatno. Kebetulan musim kopi sudah selesai, maka lek Jum mau pulang kan kebunnya." Kata pak Jumadi.


"Terus apa pak lek ada kerjaan baru. Kalau lek Jum pindah aku ikut sampean ya lek." Kata Seswanto.


"Aku pun sama lek aku ikut sampean juga."Kata Suyono.


"Ya kalau aku sih, terserah kalian. Tapi yang jelas aku tidak maksa kalian harus ikut sama aku. Tapi kalau boleh tau kenapa kalian ingin ikut dengan ku?" tanya pak Jumadi.


"Jujur ya lek, sebenarnya kami ingin ke sini itu mau ke sini bahas ini. Tapi saat kami sudah di luar rumah, Sarwadi mau ikut. Makanya tidak ada yang bahas ini, tidak enak sama Sarwadi."Adu Seswanto.


"Maksudnya kalian mau bahas apa?"tanya pak Jumadi.


"Kami.....

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2