TAKDIR KU

TAKDIR KU
94.JOHAN YANG SUPER PELIT


__ADS_3

"Ya mas, seadanya saja nanti tidak usah ngoyo mas. Kalau kita yang bawa kita juga yang menanggung mereka mas. Misalnya jika mereka tidak betah, baru seminggu di sini kita juga yang repot. Kalau itu jadi tugas kita, maka sebaiknya sebelum mereka sampai pada bos besar. Kita yang menentukan siapa yang benar-benar niat kerja. Sehingga resiko itu sudah mereka pikirkan sebelum berangkat."Bu Sarinem memikirkan segala resiko yang harus di tanggung nya di kemudian hari.


"Ya ada benarnya juga yang kamu katakan dek. Mas gak kepikiran ke situ ya, main sanggup saja."Kata pak Jumadi menyesal karena langsung sanggup menerima tugas.


"Nah terus nanti mereka gimana jika ada yang tidak betah?"tanya bu Sarinem.


"Sekarang gini dek, saat nanti kamu jari pekerja. Kamu kasih syarat, di sini harus beberapa bulan. Mereka bekerja tidak kerja, makan, kopi, makanan selingan dan rokok, sudah di tanggung. Mereka akan nerima gaji jika sudah mau pulang. Di jamin hasil kerja utuh yang di bawa pulang. Tidak kurang sedikit pun sesuai dengan kesepakatan pas masuk. Jika betah lanjut kerja kembali, jika tidak tidak perlu kembali kerja."Ujar pak Jumadi panjang lebar.


"Nah kalau begitu kita semua yang tentukan semua ya mas. Sebelum mereka sampai pada bos besar, sama saja kita ini mandor mereka. Secara tidak langsung, kenyamanan mereka dalam bekerja juga kita yang tanggung. Bos kan taunya beres dan puas dengan hasil kerja kita semua."Ujar bu Sarinem, sependapat dengan suaminya.


"Hem memang mas gak salah milih kamu jadi istri, kalau di ajak itung-itung cepat tangkap."Ujar pak Jumadi, tersenyum bangga dan tangan sudah mendekap sang istri.


Bu Sarinem mengerutkan keningnya dan menatap wajah suaminya penuh curiga.


"Dek mas kangen nih, boleh ya kan Udin sudah tidur."Ujar pak Jumadi sambil tersenyum menggoda.


"Mas kita ini lagi bahas pekerja kenapa jadi bahas itu."protes bu Sarinem dengan menunduk menghindari tatapan pak Jumadi.


"Kan sudah selesai sekarang bahas pekerjaan kita mumpung Udin lagi bobok yuk."Rayu pak Jumadi sambil memeluk dan mencium pipi istrinya.


Bu Sarinem mau tak mau menuruti permintaan suaminya, karena itu juga bagian dari tugas istri melayani suami.


...****************...


Malam hari Anah dan Monik ngobrol layaknya orang dewasa. Dan tak lupa mereka menikmati rambutan yang di bawa nya dari rumah pak Iman.


"Nek besok kalau rambutan nya habis kita minta aja sama bibi Susi."Ujar Anah.


"Tapi bawa sepeda ya nek, kan lumayan berat hehehe."Timpal Monik, dengan cengengesan.


"Iya, kalian saja jika mau, minta sama bibi Susi ya."Kata Nenek.


"Iya nek"sahut Anah dan Monik.


"Aku juga gak mau lagi minta sama bude Ning. Malas aku sama Johan yang super pelit itu. Orang bapak dan ibunya saja nyuruh aku metik kalau mau. Eh anaknya kalau ngomong gak di saring, kan orang keselek ampasnya."Kata Anah dengan nada kesal.

__ADS_1


Karena Anah masih ingat semua kata-kata Johan. Baginya orang seperti Johan, gak pantes di jadikan teman karena sombong.


"Iya jangan lagi minta pada bude Ning, kalau di kasih ya di terima. Lagian kalau minta itu sewajarnya kalau orang tidak senang mending jangan."Kata Nenek.


"Maksudnya nek?"tanya Anah dan Monik.


"Kita lihat raut mukanya, ketika datang mau meminta itu bagaimana. Yang awalnya tersenyum atau sumringah, pas kita ngomong langsung hilang senyumnya jangan lagi. tandanya dia tidak suka."Jawab Nenek.


"Ya kalau modelnya kayak Johan ya nek, pasti tuh jadi gak berkah. Tapi yang ku lakukan karena kesal banget sama dia. Ada ya orang kaya Johan itu."Kata Anah.


"Ya itu Johan"Ujar Nenek dan Monik.


"Betul juga."Kata Anah sambil cengengesan.


"Ini kalau kemarin ibu dan bapak mu ada di sini. Dengan semua yang di katakan Johan bisa berabe."Kata Nenek.


Ya waktu Anah, Monik dan Warto, pulang nonton TV dari rumah pak Yadi. Mendengar Johan yang di marahin bapak dan ibunya.


Mereka langsung berhenti dan pulang setelah selesai perdebatan itu.


"Ya memang cara orang tua mendidik anak itu berbeda-beda. Apa lagi Johan itu anaknya nakal, terutama sama kamu."Kata Nenek yang tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan pada Anah.


"Apa itu juga yang di lakukan nenek pada ku?"tanya Anah pada Nenek.


Nenek langsung tersendak saat lagi minum. Sungguh ia lupa dengan apa yang di katakan tentang Johan. Itu tidak sebanding dengan apa yang di lakukan pada Anah.


"Heem"hanya itu saja yang di katakan oleh Nenek pada Anah. Untuk menutupi kesalahannya pada Anah, agar Monik juga percaya.


Anah langsung tau jika nenek telah malu akan perkataannya sendiri. Anah bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah belakang.


"Mbak mau kemana?"tanya Monik saat melihat mbaknya berjalan ke belakang.


"Kamar mandi mau ikut gak?"tanya Anah.


"Mau"jawab Monik yang langsung mengikuti Anah ke belakang.

__ADS_1


Setelah selesai dari kamar mandi Anah dan Monik langsung masuk kamar dan tidur supaya tidak kesiangan besok.


...****************...


Siang hari sepulang sekolah anah mencuci pakaian bersama Monik.


Setelah selesai Anah memasak sayur pepaya muda dengan di santan.


Monik yang sudah bisa pun membantu me motong-motong pepaya muda dan menyiapkan bumbu Anah menyiapkan santai dari kelapa yang harus ia parut dahulu.


Setelah selesai Anah dan Monik baru ingin makan, tapi mereka mendengar ada motor berhenti di depan rumah.


Mereka kompak berjalan ke depan, dan berdiri di pintu. Mereka berdua sangat senang ketika melihat ibunya yang sedang mengendong anak laki-laki. Dan mereka yakin jika itu adalah adiknya.


"Assalamualaikum"ucap bu Sarinem.


"Wa'alaikumsalam"jawab Anah dan Monik, dengan begitu gembira menyambut kepulangan ibunya.


"Ayo bu, masuk aku buatkan kopi dulu ya bu."Ujar Anah.


"Iya nduk," lalu menurunkan Udin di ranjang "Monik sama mbak tadi lagi ngapain?" tanya bu Sarinem.


"Tadi aku pulang sekolah mencuci baju bareng mbak, terus masak sayur kates (pepaya) di santen."Jawab Monik.


"Nenek ke mana kok gak ada?"tanyanya lagi.


"Paling ke sawah. Tadi pagi gak ngomong apa-apa, biasanya kita di suruh nyusul tapi tadi nggak."Kata Monik.


Kalau Monik yang di tanya tidak ada yang di tutup-tutupi dia akan jawab apa adanya.


"Memang biasanya kalian ngapain kalau ke sawah?"tanya bu Sarinem yang makin penasaran.


Belum sempat Monik jawab menjawab, Anah sudah datang dengan piring berisi nasi dan sayur. Dan memberikan pada ibunya karena dia yakin ibunya sudah lapar.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2