
"Hah longsor?" Anah menatap mata bapaknya dengan tatapan dalam.
"Makanya nanti kita harus tanam pohon yang bakal besar nanti. Seperti pohon jati atau kayu apa yang lain, kita cari informasi dari yang lain yang dapat menghasilkan tentunya."Jawab pak Jumadi.
"Sudah cukup istirahatnya ini sudah lebih dari sepuluh menit. Nanti tidak sampai-sampai lagi, belum nanti kita harus pasang atap. Sebab kemarin belum selesai, bahan pangan sudah habis, jadi tertunda. Ses sekarang gantian yang biar di bantu Anah dan lek Risman."Perintah pak Jumadi.
Karena semangat Anah tidak sadar dengan maksud orang dewasa itu. Dan karena di bantu Anah Seswanto jadi semangat 45.
Setelah perjalanan lebih dari 20 menit Anah merasa capek dan baru sadar. Kalau dia cuma berdua dengan Seswanto, mendorong gerobak itu.
Anah menoleh ke belakang dan lalu menoleh ke kiri di mana Seswanto berada. Seswanto yang melihat Anah menoleh pun tersenyum manis. Karena selama mendorong gerobak, Anah baru kali ini menoleh. Sehingga membuat dirinya tambah semangat, tak berasa lelah.
Anah yang melihat senyum Seswanto pun ikut tersenyum. Tapi setelah mendengar suara pak Kamidin dan Risman samar-samar.
"Beda ya mas kalau jiwa muda, dengan kita yang sudah tua begini."Ujar pak Risman.
"Kenapa? apa yang membuat beda?" tanya pak Kamidin.
"Lihat dari tadi Seswanto tidak merasakan lelah. Apa lagi ada yang membuatnya semakin semangat. Ya karena di temani bidadari, begitu pun sebaliknya."Jawab pak Risman.
Deg
Anah memikirkan makna dari ucapan pak Risman dan pak Kamidin. Karena baru sadar dari apa yang sudah di lakukan. Melihat ke depan sebentar lagi ada turunan panjang. Anah langsung melepaskan gerobak, dan berdiri menyangga pinggang ke belakang.
"Loh kok berhenti nanti Ses siapa yang bantuin itu turunan lo?"tanya pak Risman sambil tersenyum penuh arti.
"Lek man lah, masak aku terus. Kalau aku gak mikirin gerobak itu isinya bahan pangan dan berat. Dari pada ndorong, ya mending aku naik, duduk dengan manis." Jawab Anah dengan cemberut.
Mereka segera membantu Seswanto menarik gerobak. Supaya gerobak tidak terperosok dan terbalik bersama Seswanto. Memang kalau di jalan yang menurun mereka menarik untuk menahan. Jika menanjak maka mereka mendorong sekuat tenaga.
Sambil nahan pak Risman mengomentari ucapan Anah. Tapi tidak sendiri, bersama dengan Seswanto.
__ADS_1
"La kok enak betul nangkring di atas."Ucap Seswanto, dalam hatinya tidak apa-apa kalau mau.
"Paling muda nangkring, yang tua di suruh mendorong. Belum tau ya rasanya kualat."Ucap pak Risman, dalam hati dasar Anah si bocah tengil. Dulu mau jadi laki-laki kali ya malah perempuan, ya begini.
"Lah aku kan perempuan sendiri, sudah pasti paling cantik. Kalau aku nangkring di atas gerobak, berarti aku putri keraton. Dan prajurit itu tidak haru muda, yang tua pun tidak masalah. Yang putri butuhkan itu prajurit yang mampu menjaga dan melindungi tuan putri. Tidak ada yang kualat tuh, yang ada kalah perang melawan musuhnya lek." Ucap Anah dengan senyum penuh kemenangan.
"Tuan putri apa mau naik gerobak, mana ada? yang ada itu naik kereta kuda tuan putri." Ucap pak Risman.
"Ya harus ada lek, tuan putri naik tandu saja ada masa naik gerobak saja gak ada. Ini juga jaman sudah berganti, jadi dari nak kereta jadi nak gerobak. Beberapa tahun ke depan tuan putri naik mobil. Dan pastinya mobil itu pasti yang akan membuat semua mata memandang jadi ternganga. Matanya tidak berkedip, lalu iler nya meleleh. Asal kan tidak bikin banjir wilayah keraton saja."Ucap Anah sambil menghayal, membayangkan putri membuat semua mata menatap penuh pesona.
"Ses berhenti di sini saja jangan ke bawah. Sudah nahannya terlalu di pinggir kali."Ujar pak Jumadi.
"Berarti kita bawain barangnya dari sini ya lek?"tanya Seswanto.
"Iya di bawa ke seberang dulu, nanti baru di bagi. Anah bawa keranjang bekal itu dulu sama pakaian mu. Nanti balik lagi bawa ini yang kecil-kecil."Perintah pak Jumadi.
"Iya pak." ucap Anah langsung melaksanakan tugas dan balik lagi.
"Mas ini pada cuci muka biar seger, dan harus minum air kali. Kalau pengen betah di sini, dan tidak kaget nanti. Tenang ini air masih jernih dari sumber mata air langsung. Belum ada yang beraktivitas, pagi hari. Karena belum ada penghuninya, kalau sudah iparnya juga butek. Apa lagi kalau hujan, kali ini airnya jadi coklat. Karena di atas kita juga kebun kita sudar tidak ada pepohonan." Mereka percaya saja dengan ucapan pak Jumadi.
"Air ini dingin ya pak seperti minum air es."Ucap Anah setelah cuci muka dan minum.
"Iya, dan bikin seger ya."Timpal pak Risman.
Pak Kamidin, setelah berwudhu, baru minum air itu dengan mengucap, Bismillahirrahmanirrahim.
Ya pak Kamidin memang seorang ustadz, jadi sebagai umat Islam. Akan lebih baik wudhu, dari pada hanya mencuci muka.
Sedangkan pak Jumadi, memerintahkan untuk minum air langsung dari pegunungan itu. Ada maksud lain, supaya semua selamat dari ganggu mahluk penghuni. Ya penghuni wilayah pegunungan, lebih tepatnya kebun pak Jumadi.
Setelah ritual minum air kali itu semua di bagi membawa bahan pangan. Pak Jumadi berada di paling belakang, untuk berjaga. Seswanto memimpin jalannya menuju rumah, yang ada di balik hutan yang kurang lebihnya setengah hektar. Mereka melewati kebun mbah Jambrong, mbah Jambrong adalah seorang dukun.
__ADS_1
Sejak awal di buka kembali mbah Jambrong yang pertama di bukit ini. Dan pohon kopi milik mbah Jambrong sudah tinggi. Siap belajar berbuah, lebih tepatnya buah awal.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tempat tujuan."Anah mengucap syukur.
Anah duduk setelah meletakan barang bawaannya. Langsung sumringah melihat pemandangan yang di depan mata.
Matanya menatap keindahan pemandangan yang tampak hijau dan indah.
~Gambar hanya pemanis~
Kawasan LAMPUNG
KABUPATEN WAY KANAN, Lampung
Bukit Punggur yang memiliki ketinggian 1700 mdpl. Meskipun tidak setinggi gunung-gunung pada umumnya, tapi hamparan keindahannya yang mengelilingi begitu sempurna untuk dinikmati. Dibalik kabut yang begitu pekat tersimpan perbukitan nan hijau yang terlihat begitu asri. Keindahan sunrise dan juga eksotisme sunset juga hadir ketika berada di Bukit Punggur. Nge-camp menjadi pilihan yang tepat jika ingin menikmati keindahan di tempat wisata di Lampung ini. Yang secara administratif masih berada di Kabupaten Way Kanan, tepatnya di dalam wilayah Kecamatan Kasui. Pendatang yang ingin mengadu nasib pun rata-rata menjadi petani kopi.
-
Anah merasa senang apa lagi baru kali ini melihat pemandangan yang luar biasa. Baru juga menikmati pemandangan sudah di suruh masak untuk makan siang.
"Anah sudah melihat pemandangan nya, itu pemandangan tidak akan ke mana-mana. Sekarang masak sambel masih ada buat tambahan, itu petik daun singkong di samping rumah. Jangan lupa ikan asin juga ya, nanti kurang mantap kalau tidak ada ikan asin."Perintah pak Jumadi, yang menghentikan kesenangan Anah.
"Iya pak, ganggu aja aku lagi merasakan kesenangan juga."Gerutu Anah.
"Kesenangan juga butuh ngisi perut Anah. Memang nya dengan memandangi pemandangan terus begitu bisa kenyang?"tanya pak Jumadi.
"Iya ya aku masak......
__ADS_1
*****Bersambung.....