
Anah yang kini tidak lagi di sanjung dan di puji orang-orang terdekat atau tetangga terdekat. Anah merasa tidak ada artinya lagi dia berbaik hati.
Maka dia bertekad, untuk menjadi orang yang sanggup menghadapi apa pun.
Jika orang baik padanya, maka dia pun akan lebih baik lagi. Tapi jika orang tersebut tidak baik, bahkan jahat. Jika dia bisa melawan maka akan di lawan. Jika tidak mampu, maka orang tersebut akan dia jauhi sejauh-jauhnya.
"Aku yakin, aku bisa menghadapi mereka. Walau pun tidak ada lagi orang yang sayang dengan ku. Mungkin itu hanya di sekitar saja, kehidupan masih panjang. Sekarang tekatku sudah bulat, setelah kenaikan kelas aku akan pindah ke rumah bapak dan ibu. Selama ini aku seperti hidup tak punya orang tua saja. Serasa hidup ku numpang pada orang lain, bahkan penuh kebencian. Bahkan sekarang aku makin jauh dari ibu dan bapak. Dulu bapak sangat sayang sama aku, sekarang bapak biasa saja. Apa begini ya sebagai anak pertama harus mengalah dari makanan sampai sayang orang tua. Kenapa harus aku ya Allah, apa tidak bisa aku perbaiki lagi. Aku seperti orang yang sudah melakukan kesalahan-kesalahan besar sehingga aku tidak lagi di sayang. Semua orang jahat, apa masih ada besok di sekolah yang akan menghina aku?"Anah bermonolog sendiri dalam diam di kamar.
Sampai malam Anah belum bisa memejamkan matanya. hingga jam setengah dua dini hari, Anah baru terlelap.
Pagi hari Anah kesiangan jam 6 kurang 10 menit. Anah di bangunkan oleh neneknya dengan di siram air.
Anah langsung bangun dan duduk di tengah kasur. Dari muka sampai badan, ada rasa kaget, kesal, dingin pula.
"Bangun! sudah siang masih mau tidur terus! gadis itu jangan jam segini belum bangun!"Bentak Nenek, yang tidak suka Anah bangun siang.
"Nenek kan bisa tidak usah siram begitu." Bantah Anah, yang merasa tidak j dengan perlakuan neneknya.
"Kalau tidak di siram apa mau nenek pukul paka kayu sebesar lengan nenek hah!" bentak Nenek pada Anah.
"Kan nenek bisa bangun dengan cara lain, selain mukul atau siram. "Yang langsung turun dari ranjang dan menu ke kamar mandi.
setelah mandi dan berganti baju seragam sekolah. Anah ke dapur untuk menghangatkan makanan yang masih ada. Sisa masak makan malam, jadi biar Anah ke siangan tidak harus masak baru. Sehingga Anah lebih cepat dan untuk berangkat ke sekolah.
Sambil menunggu nasi hangat Anah menyapu di dalam rumah. Karena kesiangan Anah tidak harus menyapu halaman rumah. Meski banyak sampah, karena lagi musim kemarau.
Saat musim kemarau begini banyak daun-daun yang berguguran. Terutama daun jengkol, yang mudah berguguran sebelum berbunga. Karena pasti akan berganti daun yang muda.
Nenek tidak protes saat pergi ke sekolah, tapi rumah masih belum rapi.
__ADS_1
Siang hari Anah sepulang sekolah, Anah makan lebih dahulu. Setelah itu dia mengerjakan PR nya yang ada mata pelajaran IPA dan Matematika.
Setelah itu Anah keluar rumah untuk main dan petik jambu, di depan rumah. Dengan cekatan Anah sudah berada di atas pohon jambu.
Angga dan Nana datang, memanggil Anah. namun agak lama dia menyahut.
Sebab mulut Anah sedang mengunyah jambu di atas pohon.
"Anah, oh Anah main yoook." Kata Angga dan Nana.
Karena tidak ada jawaban, Nana mengulangi panggilan.
"ANAH OH ANAH MAIN YOOOK." Teriak Nana dengan suara sekali lagi.
"Hoooi kalian manggil aku, apa manggil jin lampu ajaibnya milik Aladin, hah." Teriak Anah dari atas pohon.
"Emang salah."Kata Anah masih saja makan di atas sana.
"Iya harus panggil kamu itu, uuk aa uuk aa, main yuk."Kata Angga sambil garuk-garuk kepala dan badannya.
"Mas Angga jahat banget sih, masak aku di panggil monyet." Kata Anah.
"Aku gak nyebut ya, tapi persis sih. Sama yang makan buah langsung di pohon hehehe."Kata Angga, sambil cengengesan.
"kurang asem,"kata Anah tapi masih metik jambu yang agak jauh.
"Dek Anah bagi aku ya, aku pengen." Pinta Nana pada Anah, saat Anah pegang jambu biji dua buah.
Tanpa bicara Anah langsung menjatuhkan ke arah Anah.
__ADS_1
" Buat aku gak ada apa An?"tanya Angga, dia juga mau.
"Ada nih,"kata Anah langsung melempar jambu yang masih kecil. Dan baru lepas kelopak bunganya.
"Ya elah pelit amat sama aku, sama Nana aja ngasih yang matang."Protes Angga.
"Gak sadar udah ngatain, bukan minta maaf. Malah nambah kesalahan, jangan harap aku mau kasih. Lagian mas Angga itu laki-laki, emang gak bisa metik sendiri." Ketus Anah, lanjut makan di pohon.
"Baiklah dasar adik ku yang satu ini pelit."Kata Angga melihat ke atas, melihat sesuatu yang tak sedang di pandang.
"Turun kamu, biar aku yang naik ke atas." Kata Angga dengan nada bicara yang marah.
"Iya ya aku turun, tapi muka biasa aja udah kayak barongan aja." Kata Anah, melihat Angga dengan tampang marah.
Saat Anah sudah di bawah Angga langsung menoyor kepala Anah sambil ngomel.
"Kamu itu sudah kelas 4, umur sudah sepuluh lebih bukan lagi segede Nana. Jangan ceroboh dan bodoh, kalau mau naik pohon pakai celana jangan rok. Kalau pakai rok dobelin celana daleman. Jangan cuma celana segitiga, apa kamu mau di perk*sa sama orang jahat. Itu yang di katakan mamak ku, kalau ngomelin mbak ku." Kata Angga panjang lebar mengomeli Anah, dan menyampaikan nasehat mamaknya untuk mbaknya.
"Iya tar aku pakai celana pendek, terima kasih sudah ingetin aku."Anah langsung masuk ke dalam rumah cari celah buat dobelan.
Beberapa saat kemudian Anah keluar tapi Anah hanya diam saja di teras. Melihat Angga yang lagi berjalan ke arahnya, dan memberikan dua jambu.
"Nih buat kamu, maaf kalau kata-kata ku menyinggung perasaan kamu. Aku cuma tidak mau ada yang jahatin kamu. Bagaimana dengan nasibmu nanti, kamu sering nonton TV kan. Kan kamu tau apa yang akan terjadi pada orang yang sudah di perk*sa. Ada yang gila, ada yang hamil. Aku yang kalau orang segede kamu ini jadi gila. Kan nanti kamu jadi gak ingat saudara, orang tua, dan teman-teman."Kata Angga pada Anah, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada sepupunya.
"Iya mas aku gak papa kok, aku senang masih ada yang perduli dengan aku. Cuma mas Angga yang sayang sama aku. Mas itu teman terdekat dan saudara aku yang terbaik. Maaf ya kalau aku suka ngerepotin mas Angga."Luruhlah air matanya Anah, saat Angga memeluk Anah.
Angga membiarkan Anah menangis dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Anah dengan lembut, suara tangisnya tidak kencang. Hanya suara sesenggukan yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
*****Bersambung.....
__ADS_1