TAKDIR KU

TAKDIR KU
108.CABE RAWIT MERAH INI


__ADS_3

Anah menyanyi sambil duduk di pinggir rawa. Mata menatap 2 laki-laki yang sedang menguras genangan air. Yang seluas 3 meter dan dalam sepinggang orang dewasa.


......................


Pusing aku pusing melihat tingkah lakumu


Bingung aku bingung melihat gaya hidupmu


Sudah punya ini.. sudah punya itu


Sudah punya anu.. masih kurang


Sudah punya Rina.. sudah punya Rita


Sudah punya Rika.. kok masih kurang


Pusing aku pusing melihat tingkah lakumu


Bosan aku bosan melihat cara-caramu


Sudah cantik..


Sudah cantik masih cari lebih cantik


Idih.. amit amit


Sudah seksi..


Sudah seksi masih cari lebih seksi


Aiiih.. minta ampun


Satu.. (masih kurang)


Dua.. (masih kurang)


Tiga.. (masih kurang)


Empat.. (masih kurang)


Aiiih....


~Vetty Vera


......................


Saat asik nyanyi, sambil melihat bapaknya berjuang demi untuk bisa makan enak. Anah dikagetkan oleh sang nenek, yang menyusul ke sawah.


"Apakah ikan itu banyak harus di tawu?"tanya Nenek, membuat Anah langsung kincep dan jingkrat.


"Eh, iya banyak nek," jawab Anah "kok nenek kesini terus padinya gimana, siapa yang jaga?"Anah tanya lagi.


"Nenek penasaran, memang kamu aja yang suka penasaran."Jawab Nenek dengan senyum meledek.


Yah nenek pake meledek Anah lagi.🤭


"Ya iyalah nek, aku itu penasaran untuk belajar. Kalau nenek-nenek penasaran, paling buat modal ngerasani(ngomongin) orang to."Balas Anah.

__ADS_1


"Sok ngerti aja kamu. Bocah cilik, duwe lambe pedese poll. Heran aku bisa ngomong kayak gitu dari siapa coba?"gerutu Nenek.


"Ya dari siapa lagi, kalau bukan nenek sihir bibi merah." Jawab Anah sekenanya.


"Kamu ketemu nenek sihir itu di mana?"tanya nenek.


"Di sini nek," jawab Anah dengan santai dan senyum pada neneknya.


Ya si nenek habis makan sirih jadi bibirnya merah. Tapi tidak sadar jika yang cucunya maksud neneknya.


Pak Jumadi mendengar ucapan anaknya, menoleh sebentar lalu lanjut dengan kerjaan nya.


Sedangkan si nenek celingukan mencari keberadaan nenek sihir yang di maksud Anah.


Iyan berucap pelan "wah nenek sama cucu jadi korban film ini." Sambil menggelengkan kepalanya.


"Mungkin begitu,"sahut pak Jumadi.


Lalu mereka berdua berdiri tegak dan berjalan menuju tempat nenek dan Anah duduk. Mau mengambil rinjing buat ikan, yang tadi untuk wadah bibit padi. Sebelum balik untuk menangkap ikan pak Jumadi dan Iyan minum terlebih dahulu.


"Mak padinya emang sudah di angkat, kok di tinggal?" tanya pak Jumadi.


"Kan tadi mendukung buru-buru tak angkat, begitu selesai malah terang. Ya sudah aku ke sini saja, mau lihat dapat banyak apa gak."Jawab Nenek.


"Ya lumayan ini namanya rejeki, orang yang baru sembuh dari sakit."Ucap pak Jumadi sambil melirik Anah.


Nenek mengerti lirikan mata anaknya tertuju pada cucunya.


"Mungkin dengan begitu, cepat berisi lagi. Baru sakit seminggu saja habis itu badan."Ucap Nenek.


"Ya sudah kalian pulang aja, sebentar lagi aku selesai." Kata pak Jumadi.


"Ya tidak bisa Anah, harus di bagi rata. Orang lek Yan juga capek ikut tawu." Kata pak Jumadi, merasa tidak enak hati dengan Iyan.


"Ih harus bisa kan aku yang nemuin tempat ikannya pak. Lek Yan harus ngalah sama anak kecil."Kata Anah.


"Ya ya lek Yan ngalah sama anak kecil. Untung kamu masih kecil...." Langsung di potong sama Anah


"Kalau masih kecil memang kenapa lek?" tanya dengan gaya tengilnya.


"Kalau kamu sudah gede tak jadiin istri ku ANAH."Jawab Iyan dengan nada tinggi di akhir kalimat menyebutkan namanya Anah.


"Huff selamat selamat,"ucap Anah sambil mengelus dadanya.


"Selamat kenapa?"tanya ketiga orang dewasa itu.


"Ya selamat lah aku masih kecil, jadi tidak jadi istri ke duanya lek Yan."Kata Anah dengan santai namun bermakna.


"Haduh mumet ndasku berhadapan dengan cabe rawit merah ini."Ujar Iyan, langsung melanjutkan pekerjaannya.


Pak Jumadi dan nenek geleng-geleng kepala melihat tingkah polah Anah.


Anah malah cengengesan dan lanjut dengan menyanyikan lagu bojo loro.


......................


Abang biru lampune disko

__ADS_1


Awak kuru Mas, mikir bojo loro


Bojo sing enom njaluk disayang


Sing tuwo 'njur wegah ditinggal


Sirah mumet ora bisa turu


Andum trisno Mas, ugo andum waktu


Mikir butuhe, mikir blanjane


Njur saiki bingung atine


Telung dino mulih rono


Telung dino bali neng kene


Sing sedino kanggu sopo


Sing sedino kanggu wong liyo


......................


Sementara yang di sindir dengan lagu, sedikit kesel. Lalu berkata pada pak Jumadi, tentang Anah.


"Aku di bilang sama Anah itu pasti, beneran lek. Ini anakmu bikin orang geregetan, campur gemes banget. Bener yang dia bilang, masih kecil, kalau gede tak ambil jadi istri ku."Cerocos Iyan.


"Nah, aku sebagai bapaknya juga seneng Anah masih kecil. Jika dia sudah besar, aku pun tidak rela anak ku jadi yang kedua."Skak pak Jumadi.


"Nah itu juga yang menguntungkan buat aku dia masih kecil. Jadi aku tidak patah hati, karena lamaran ku di tolak sampean lek. Hehehe,"Kata Iyan sambil cengengesan.


"Memang kamu punya cita-cita, kalau mau punya istri dua Yan?"tanya pak Jumadi.


Belum sempat jawab, eh malah Anah yang jawab. "Adalah pak, itu tadi lek niat nikah lagi hihihi."Jawab Anah, sambil pamer gigit yang ada gingsulnya.


"Ini bocah ya! nanti ikan nya tak bawa pulang semua kapok kamu. Yang makan enak kan aku jadinya sama bibi dan Aina."Kata Iyan menakut-nakuti Anah, supaya tidak terus bikin jengkel.


"Bawa aja lek, terus masak yang enak ya. Nanti aku ke sana minta matangnya, sekalian deh... Aku bilang ke bibi, kalau lek Yan mau nikah lagi. Dengan aku nanti kalau aku sudah gede."Skak Anah.


"Sabar-sabar,"ucap Iyan sambil mengusap dadanya.


Anah malah cekikikan, tapi pak Jumadi menatap Anah tidak suka.


"Saru, gak sopan." Ucap pak Jumadi, dengan tatapan matanya sedikit tajam.


"Maaf ya lek, kalau sudah tua itu jangan ngajak aku berdebat. Nyadar lek kalau mau debat juga jangan sama perempuan. Perempuan di lawan, dan kalau laki-laki melawan perempuan itu banci lek."Kata Anah dengan menunduk tidak berani menatap ke Iyan atau bapaknya.


"Ya di maafkan, tapi lek Yan bukan banci Anah." geregetan.


Anah sudah tidak menjawab, dia melihat ikan sudah di bawa ke pinggir. Lalu di bagi dua, tapi Iyan tidak mau. Jadi di berikan lagi untuk Anah.


"Tidak lek ini sudah cukup aku cuma bertiga, yang makan cuma berdua. Anak ku masih kecil gak makan ikan. Kalau di rumah sampean pada makan. Kadang juga ada Parno yang datang sama istrinya."Tolak Iyan.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih sudah bantu tawu."Ucap pak Jumadi.


"Sama-sama lek aku pulang duluan ya, assalamualaikum."Ucap Iyan langsung jalan pulang, karena belum jadi ngarit.

__ADS_1


*****Bersambung...


__ADS_2