TAKDIR KU

TAKDIR KU
38.BIJI KOPI


__ADS_3

"Iya mas, tadi aku tanya Anah. Aku lagi mikir, gimana caranya mamak didiknya Anah."Kata bu Sarinem, merasa tidak enak hati. Dengan anak sulungnya, apakah Anah nyaman atau tidak. Kontak batin seorang ibu lebih kuat, dengan anak anaknya.


"Rasanya enak dek coba buka mulut aaa"mengulurkan tangannya untuk menyuapi istrinya, bu Sarinem membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya.


"Benar mas, bahkan masakan ku kalah dari Anah mas."Kata bu Sarinem dengan menusuk. Karena secara tidak langsung, pak Jumadi menyinggung dirinya.


"Anah itu mengikuti gurunya dek. Dari bumbu dan santan kental, mas tetap suka masak mu. Nanti pisahkan di panci lain terus tambahkan air supaya santannya agak encer ya."Perintah pak Jumadi.


"Iya mas, tapi nanti Anah dan mamak tersinggung gimana?"tanya bu Sarinem.


"Nanti mas yang bilang sama mereka, adek kerjakan saja ya."Berkata dengan lembut.


"Lalu pak jumadi berjalan menghampiri kedua putrinya. Di susul oleh bu Sarinem, mereka berempat makan dengan hikmat. Bahkan Monik sampai minta nambah, karena merasakan enaknya masakan mbaknya.


"Ibu aku mau nambah ya,"kata Monik.


"Boleh dek, sini mbak ambilin,"langsung menyambar piring adeknya.


"Adek lapar apa doyan sih?" tanya pak Jumadi.


"Eem.... doyan enak sayur yang mbak masak pak, aku jadi pengen nambah hehehe."Kata Monik.


"Ya sudah makan yang banyak ya biar cepat gede, kalau sudah gede bisa sekolah."Kata pak Jumadi menanggapi Monik, yang memang sudah mulai, banyak tanya tentang banyak hal.


"Nih nasinya di habiskan ya dek!" Ujar Anah. Lalu ia meraih piring sendiri berjalan ke dapur, tak lama balik lagi dengan piring isinya nambah.


"Lah mbak Anah nambah juga,"Kata monik


"Iya dong makan bareng bareng gini bikin tambah enak makan dek."Jawab Anah.


Hal itu mengundang senyum kedua orang tuanya. Mereka senang melihat anak anaknya pada sehat dan doyan makan. Namun mereka bingung kenapa Anah terlihat kurus, apa Anah habis sakit.


"Apa anah habis sakit kok sekarang kurus sayang, cantiknya bapak juga agak hitam?"tanya pak Jumadi.


"Iya ya lah pak aku hitam aku sekarang kan sekolah, terus pulang sekolah ikut ke sawah."Jawab Anah.


"Di sawah ngapain?" tanya lagi msesuai


"Itu nakut nakutin burung yang hinggap di padi pak."Jawab Anah, Namun Anah tidak pernah mengadu pada orang tuanya. Apa yang sudah ia jalani cukup dia yang tau, karena tak mau ada keributan antara nenek dan orang tuanya.

__ADS_1


"Terus sekarang kok kurus, kenapa?"masih penasaran apa yang membuat anaknya kurus.


"Ya aku habis sakit tapi sudah lama sih. Aku ke pak mantri, di gendong sama lek Parno pak."Cerita Anah.


"Jalan kaki apa naik sepeda leknya?"tanyanya lagi.


"Naik sepeda pak, aku sampai tidur di gendong lek Par lo pak."Kata Anah.


"Yah leknya pasti keberatan tu gendong bayi besar."Canda pak Jumadi.


"Ya aku gak tau kan pusing, terus aku merem, habis itu gak tau deh aku."Pengakuan Anah.


Terdengar rombongan pekerja datang, mereka menurunkan pada dari kepala mereka masing-masing. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat, yaitu pemilik sawah. Sedang ngobrol, lalu mereka pun langsung menyapa.


"Wah bosnya dah pulang, kapan pulang lek?"tanya Sugi.


"Ya Sugi, eh apa gak salah ni Sugi ikut ke sawah ku?"tanya pak Jumadi.


"Gak lah lek kebetulan kemarin sawah ku dah rampung, tadi pagi aku lihat Jono dan Yanto kemari. Aku tanya sama mereka berdua, katanya mau angkut padi. Ya sudah nimbrung aku lek, lumayan lah buat tabungan."Jawab Sugi dengan santai.


"Mantap itu, sini pada istirahat dulu, dek tolong buatkan teh sama kopi ya."Pak Jumadi minta buat minuman pada istrinya.


"Bapak aku mau kalung kayak adek" rengek manja Anah pada bapaknya.


"Iya nanti di ambil dulu ya sama ibu, ibu sudah belikan Anah."Ujar pak Jumadi.


"Beneran pak?" dengan muka berbinar.


"Iya cantik bapak kan sudah janji mau beliin buat Anah."Kata pak Jumadi.


Ini di minum ya," menyerahkan kopi dan teh pada mereka dan suaminya.


"Lah mas Parno beda sendiri,"protes Sugi.


"Aku gak ngopi Gi,"jawab Parno.


"Wah itu berarti kamu kurang gentle Par,"Jono meledek Parno.


"Sembarangan kamu kalau ngomong, ngaca dulu sono. Pinjam sama Anah juga boleh tu, biar begini aku sudah mau jadi bapak, la kamu apa?"tanya parno dengan nada mengejek temannya.

__ADS_1


"Hahahaha" mereka berempat tertawa lepas.


"Lo Par istrimu udah isi?"tanya bu Sarinem.


"Bibi gimana sih, istrinya mas Parno pasti sudah isi. Wong tiap mas Parno masuk, ninggalin bibitnya."Kata Sugi asal tapi benar adanya.


"Semprul kamu ya Gi,"kesel dan malu jadi bahan ledekan di depan masnya.


"Hahahaha"tertawa lah semua orang yang di ruang tamu itu, kecuali bocah dua itu.


"Ya sudah kalian sudah sholat belum?"tanya pak Jumadi.


"Belum"kompak mereka berempat menjawab.


Sebelum balik kalian sholat dulu, nanti aku sekalian ikut kalian."Ujar pak Jumadi.


"Lah emang sampean gak capek mas?" tanya parno.


"Dah kalian habis kan dulu minuman kalian aku tak sholat dulu. Oh ya dek kalungnya Anah kasihkan."Kata pak Jumadi sebelum pergi sholat.


"Oh ya, ya mas,"lalu pergi ke kamar untuk mengambil kalung untuk Anah. Tak lama ia kembali dengan kalung di dalam dompet kecil. Lalu memberikan pada Anah, Anah pun senang sekali.


"Anah ni sini ibu pakaikan,"ujar bu Sarinem


"Iya bu" tapi matanya menatap kalung yang di pegang ibunya dan yang milik Monik. "Bu kok gak sama ini, punya aku apa terus kenapa gak sama." itu Anah yang selalu ingin sama dengan adiknya. Layaknya anak kembar mereka tinggi bada mereka selisih sedikit. Banyak orang yang mengira kembar, apa pun yang di pakai sama. Tapi mulai saat ini, mulai di bedakin sama orang tuanya.


"Ya Anah kan sudah besar, sudah sekolah juga, masak masih samaan terus sama dedek. Waktu beli yang punya dedek itu tinggal satu. Gak ada lagi, makanya ibu pilih ini" memang kalung yang punya Monik untuk anak anak tinggal satu. Sementara Monik tidak mau model yang sama seperti milik Anah. Tapi ini bagus lo, banyak orang yang kaya pada pakai. Tapi kalau tidak mau ibu jual aja lagi."Pura pura mau jual untuk membujuk Anah.


"Ya udah gak papa, ayo bu pakaikan,"memang model punya Anah bagus, itu ciri khas daerah tempat tinggal pak Jumadi sekarang.


"Bu kalau punya adek namanya kalau apa?"tanya Anah.


Punya adek model biji cabe, kalau punya Anah biji kopi. Sama dengan daerah desa yang ibu dan bapak kerja. Yaitu daerah kebun kopi, baguskan tu tambah cantik anak ibunya." menghadiahi kecupan di kening Anah.


Mereka bertiga kompak memberi komentar.


Kenapa bertiga karena Sugi pulang dulu mau sholat. Setelah selesai sholat mereka berangkat dan di ikuti pak Jumadi.


***** Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2