
"Begini lek, bibi kan pamit ke rumah bi Marni. Kenapa tidak lek Jum jemput aja ke sana." Kata Seswanto.
Pak Jumadi berpikir sejenak, tidak mungkin pak Jumadi yang ke sana. Hal itu akan memperkeruh suasana rumah tangganya. Yang mungkin istrinya butuh kan ketenangan untuk masa depan. Akan meminta bantuan saja pada Seswanto untuk mencari keberadaan istrinya.
"Baiklah aku terima saran mu, tapi aku minta kamu yang pulang. Terus kamu sekarang kan sudah tinggal di sebelah rumah mbak Marni. Akan lebih mudah untuk kamu mencari keberadaan bibi mu. Cari tau tentang bibi mu, lewat Izah atau Imah dan Kanti. Mungkin salah satu dari mereka ada hubungannya dengan bibi mu. Dan bawa kesini, dengan alasan apa pun harus sampai sini. Yang penting benar adanya, jika ada bukti kalau dia yang memberikan jalan."Perintah pak Jumadi.
Pak Jumadi sangat yakin bahwa salah satu keponakan istrinya lah petunjuk jalan nya. Bukan karena apa hanya mereka yang punya pengalaman yang luas. Karena itu juga dirinya yakin jika istri dan anaknya pergi atas rekomendasi dari mereka.
"Lalu kapan saya harus pulang lek? sementara itu kerjaan juga lagi banyak lek. Itu juga kebun saya sudah melambai-lambai minta di urus."Sedikit bergurau, supaya bosnya tidak sepaneng terus.
"Kamu tolong pulang besok ya. Dan jalankan yang saya katakan tadi. Kalau kamu khawatir pekerjaan mu terlantar, cuku sehari kamu harus balik lagi. Supaya kamu tenang lanjut dengan kerjaan mu. Masalah ongkos besok saya kasih. Besok habis subuh kita pulang, ke desa dulu dan lusa kamu balik bawa salah satu dari mereka."Kata pak Jumadi.
"Berati tidak usah masak kan lek? perlu bikin kopi apa tidak lek?" tanyanya Seswanto.
"Itu ada nasi, sama sambal terong kan itu buat kamu sarapan kalau mau kalau gak ya di bawa pulang aja besok. Sekarang kita istirahat Yo, tolong pintunya di kunci."Kata pak Jumadi sambil masuk dan langsung naik ke atas.
Seswanto mengambil gelas kopi pak Jumadi, mencucinya lalu di simpan di rak. Setelah itu mengunci pintu dan naik ke atas untuk istirahat. Karena pagi-pagi sekali ia akan pulang ke desa dan langsung pulang ke kampung halamannya.
...****************...
__ADS_1
Di Jakarta tepatnya di tempat kerja bu Sarinem.
"Bagaimana ya kabar di kampung, bahkan aku tidak bilang kalau mau pergi ke Jakarta. Aku merasa berdosa, kalau aku pergi tanpa pamit sama suami apa bedanya dengan mamak. Bahkan aku juga meninggalkan anak dua, di rumah juga bersama mamak yang jahat sama cucu-cucunya. Ya Allah... lindungilah anak-anak ku, dari kejahatan neneknya sendiri. Aku tidak rela jika anak-anak ku di siksa. Cukup Anah yang menderita karena kebodohannya orang tua ini. Seharusnya waktu itu aku dan mas Jum paksakan Anah untuk ikut. Bukan malah menurutinya, sampai menderita batin. Pantas saja waktu Anah sakit, dan di bawa ke puskesmas. Dokter mengatakan pada mas Jum Anah sakit sudah lama. Namun tidak di rasa, dan mengatakan bahwa anak hidup dalam keadaan tertekan. Bahkan saat itu antara hidup dan mati, pasti itu semua yang membuatnya tidak sadarkan diri."Menangis pilu, mengingat betapa bodoh nya dirinya.
Meski pun perlakuan bu Sarinem itu pada Anah, tidak seperti ia menyayangi Monik. Tapi ibu mana yang rela anak di sakiti oleh orang lain. Walau pun itu bapak kandungnya yang melakukan nya. Anah memiliki cita-cita yang mulia, namun tidak dapat di raihnya. Ketika Anah dalam keterpurukan bu Sarinem berusaha membujuk pak Jumadi. Untuk menyekolahkan anaknya, tapi pak Jumadi kekeh dengan pendiriannya. Anah tidak akan sekolah lagi, cukup sampai SD saja.
"Maafkan aku mas, aku sudah tidak sanggup jika terus menerus di sakiti. Aku berharap kamu mengerti dengan perasaan aku. Aku akan mengalah jika mamak meminta aku untuk pergi dari mu. Maafkan aku juga telah meninggalkan mu dan anak-anak. Untuk sementara saja jika sudah menemukan tempat aku akan membawanya semua. Saat ini hanya Anah yang aku bawa, aku tau bahwa Anah yang bisa membuat mu mengerti. Dengan begitu mas akan bisa merasakan apa yang Anah rasakan. Bagaimana perasaan yang sakit, tapi pura-pura tenang di hadapan semua orang." Bu Sarinem tidak dapat lagi mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya ia menangis dalam diam, karena malam semakin larut. Takut tangis nya akan menggangu majikannya yang sudah pada istirahat.
...****************...
Seswanto kini sampai di rumah jam 2 siang, dengan ojek yang mengantar nya. Begitu sampai tidak langsung masuk ke dalam rumah orang tuanya. Dia menatap rumah Bu Marni, yang nampak sepi.
Ibu Seswanto yang saat itu mendengar ada motor berhenti tepat di depan rumahnya. Lalu yang masih berada di dapur pun langsung ke depan. Saat di ruang tamu, melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.
Ternyata anak keduanya pulang, namun ia heran. Kenapa anaknya menatap ke rumah tetangga nya. Apa yang membuatnya, terus menatap ke arah sana.
"Ses kamu lagi apa to, apa yang membuat mu menatap rumah bi Marni?"tanya bu Maemun.
__ADS_1
"Eh..., Mamak, assalamualaikum,"ucap Seswanto saat di tegur mamaknya.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk. Duduklah biar mamak buatkan teh dulu."Dan akan melangkah menuju ke dapur. Namun di cegah oleh Seswanto, malah menyuruh mamaknya yang duduk.
"Sudah mamak duduk saja sini aku mau tanya-tanya sama mamak." Kata Seswanto dan langsung duduk di sebelah mamaknya.
Bu Maemun menatap wajah anaknya dengan lekat-lekat. Di tatapnya dalam mata anaknya, ada apa dengan nya. Tidak seperti biasanya ketika pulang, dari rantau ia bersikap begitu.
"Ada apa? Dan apa yang membuat mu menatap rumah bi Marni to Ses?"tanyanya.
"Mak itu rumah bi Marni kenapa sepi, bukannya bi Inem lagi di sini?"tanya Seswanto, langsung pada intinya.
"Kemarin memang ada di sini, itu juga seminggu yang lalu. Kalau sekarang sudah ke Jakarta lee. Kenapa kamu kangen dengan gadis imut itu hah?"tanya bu Maemun.
Mengira anaknya kangen dengan Anah, baru juga beberapa hari tidak ketemu. Karena ia tau anaknya ini menaruh hati pada gadis kecil. Yang selalu selalu membuat siapa pun merindukannya.
"Kalau itu jangan di tanya Mak. Tapi ini tugas dari bos sekaligus calon mertua. Berarti mereka berangkat ke Jakarta? itu artinya lek Jum benar. Jika bibi dan Anah tidak ada di kampung ini."Kata Seswanto.
"Apa bi Inem tidak pamit sama lek Jum?" tanya bu Maemun menatap tak percaya dengan apa yang di katakan oleh anaknya.
__ADS_1
"Bibi cuma pamit mau ke sini, katanya mengikuti apa mau Anah yang kangen dengan teman-teman sekolahnya dulu. Ketika di tanya sama lek Jum, mau sampai berapa lama. Bibi bilang mungkin seminggu atau lebih, terserah Anah. Dan ternyata kemarin sebelum pergi, mereka berdua berantem sama nek Irah Mak. Mamak tau sendiri bagaimana nek Irah, pada Anah selama ini. Hal itu tidak dapat di terima oleh bibi, dan memilih untuk pergi."Jawab Seswanto, panjang lebar menjelaskan masalah yang terjadi pada bu Sarinem dan Anah.
*****Bersambung...