
"Bukan.., dia anak tiri saya. Saya dan istri tidak punya anak, tapi saya menyayangi Susi dan Supri melebihi anak kandung saya."Penjelasan pak Iman.
bismillahirrahmanirrahim saya mau jadi suami Susi. Yang penting Susi mau terima saya apa adanya."Kata Parno.
"Baiklah hari Rabu depan kalian nikah. Setelah pernikahan Wiji baru kalian, biar bagaimanapun Wiji masih ponakan saya. Apa mas Jum setuju?"tanya pak Iman, minta pendapat pak Jumadi.
"Kalau ikut saja pak, gimana baiknya. Bukannya niat baik itu lebih cepat lebih baik."Kata pak Jumadi, sambil melirik Parno. Parno nya dah deg degan, jantungnya tak karuan.
"Ya sudah berarti udah selesai urusan kita mas Jum. Kami pamit ya, sudah malam juga. Besok kesana sore atau habis magrib juga tidak apa-apa nak Parno. Insya Allah besok kumpul semua bahkan yang dari Palembang keluarga besar datang. Untuk menghindari acara Wiji. Maka dari itu saya menikah mereka juga berdekatan. Supaya yang dari Palembang tidak bolak balik."Kata pak Iman
"Ngeh pak insya Allah,"balas Parno.
"Saya pamit mas Jum."Pamit pak Iman, Meraka keluar dari rumah pak Jumadi, setelah saling bersalaman.
"Weeeiii calon pengantin. Gak nyangka mau ngapel malah di lamar. Lek Jum bakal tenar ini kalau ada bujang dilamar di kampung ini. Kan biasanya anak gadis yang di lamar."Celoteh Yanto.
__ADS_1
"Kan cuma kalian yang tau, kalau sekampung tau, sudah pasti mulut kalian penyebabnya.
Kalau bisa jangan ada yang tau, besok kalian ikut ngelamar Susi ya biar semua orang taunya Parno yang lamar Susi. Besok kalian kesini habis magrib, kita nanti bawa hantaran sedikit buat pantas pantas. Jangan tangan kosong kesana."Kata pak Jumadi.
"Besok kan Kamis kita ke pasar mas, beli keperluan buat bikin kue. Bikin bikin wajik, lemper, tolong besok kamu petik daun pisang buat bikin lemper. Sama kelapa kira kira berapa ya mak? kita bikin lemper 3kg ketannya. Sama buat wajik, 3kg juga. Nanti di pasar beli jajan yang kiloan, buah jeruk juga, biar ada buahnya. Gimana mak apa ada yang kurang menurut mamak." Bu inem bicara sama adik iparnya dan mertuanya.
"Baik mbak yu nanti aku petikin."jawab Parno.
"Petik sepuluh kelapanya, lebih ya buat masak nanti kan gak papa. Tapi ada apa nggak itu kelapa. Kalau ke pasar kamu ajalah Nem, mamak nanti urus kelapa buat bikin wajik. biar di bantu Parno, pecah kelapa nanti."Kata nenek, ia tak ada rasa benci kali ini karena dia gak keluar duit buat anaknya. Semuanya sudah di tanggung Jumadi dan istrinya tak keberatan akan itu. Jadi nenek gak akan bikin masalah sama mantunya itu.
Waktu sudah lepas magrib, semua bawaan yang akan di bawa ke rumah Susi. Kini yang ikut mengantar Parno, ada Sugi Jono Yanto pak Rudi bu Kokom, pak Jarno (bapaknya Warto) dan keluarga pak Jumadi sendiri.
Bismillahirrahmanirrahim yok jalan."Ucap pak Jumadi
Sesampainya di rumah Susi, pak Jarno sebagai wakil keluarga pak Jumadi. mengutarakan maksud kedatangan keluarga pak Jumadi, untuk melamar Susi untuk Parno. Setelah acara selesai, Parno minta izin untuk bicara sama Susi sebelum mereka pamit pulang.
__ADS_1
"Dek Susi kamu minta mas kawin apa. Tapi maaf aku gak bisa kasih yan mahal-mahal dek."Kata Parno
"Aku sih terserah mas Parno, apapun atau berapa pun yang mas kasih aku terima." Jawab Susi, sambil tersenyum manis.
Parno baru memperhatikan Susi "ternyata Susi cantik, manis lagi" kata hati Parno. Yang terus menatap wajah cantiknya Susi.
"Eeemm, ayo pulang Par. Cukup ngobrolnya jangan lama lama. Tar aja kalau sudah sah," Kata pak Jumadi, membuat Parno menunduk karena malu.
"Iya mas, dek Susi aku pulang ya."Kata Parno pamit pada Susi.
"Iya mas,"kata Susi sikat dengan tersenyum.
Keluarga pak Jumadi jalan pulang setelah berpamitan pada keluarga pak Iman. Setelah sampai pertigaan, teman Parno langsung pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan pak Rudi, setelah sampai depan rumah. Pak Jarno sekeluarga pun langsung pamit. Pak Jumadi dan yang lain langsung melaksanakan sholat isya dan istirahat.
*****Bersambung...
__ADS_1