TAKDIR KU

TAKDIR KU
120.TAKDIR KU


__ADS_3

Dua Minggu berlalu nenek pun sudah berada di rumah pak Jumadi. Anah biasa saja sudah tidak tampak murung seperti beberapa minggu lalu.


Nenek menepati kamar yang biasa di tempati Seswanto dan Suyono. Anah tidak pernah main kemana pun, dia menjadi anak rumahan.


Sekarang Anah masih menjadi bahan gosip di seluruh kampung. Hal itu yang membuat Anah tidak pernah keluar dari rumah. Cuma paling dia sekarang sering ke rumah bu Parti.


Anah saat lagi ini lagi makan di rumah di rumah bu Parti. Karena Anah tidak enak hati, kalau terus menoleh.


Saat lagi makan Sarwadi datang ke rumah pakde nya. Dia memang sering ke rumah pak Harto, untuk sekedar singgah saja. Beberapa menit saja baginya sudah cukup, untuk silaturahmi.


Namun kaget ternyata ada Anah, yang sedang makan di rumah pakde nya. Karena dia tidak pernah melihat anak pak Jumadi, yang boleh main ke rumah pak Harto. Karena memang mereka sedang berseteru atau tak saling berteguran satu sama lain.


"Anah lagi di sini to? tadi ibu mu mencari ke mana-mana lo."Kata Sarwadi.


"Oh ya, aku ...." Belum selesai sudah di potong sama bu Parti.


"Anah nanti juga pulang, masa mau ke mana. Ini lagi makan, nanti kalau sudah selesai langsung pulang. Kamu ikut makan sana, tadi bude masak di bantu Anah lo."Kata bu Parti, dan menyuruh Sarwadi ikut makan.


Ya Anah bantu budenya masak, bu Parti senang Anah yang masih remaja ini sudah pintar masak. Dan dia membuktikan omongan saudara yaitu bu Marni, jika Anah pintar masak.


"Mboten(tidak) bude saya masih kenyang."Tolak Sarwadi.


"Bude saya pamit ya, belum cari rumput soalnya."Pamit Sarwadi.


"Oh ya sudah hati-hati yo Lee."Ujar bu Parti.


Sarwadi langsung pulang arah ke kiri, sesuai arah pulang ke rumah. Namun dia putar balik lewat belakang rumah bu Parti. Melalui jalan setapak, dan jalan itu tembus belakang rumah pak Jumadi. Kebetulan bu Sarinem lagi nyapu belakang rumah. Yang memang belum di sapu sore ini oleh Anah.


Bu Sarinem pulang agak siang karena merasa tidak enak badan. Mendapati anak sulung dan bungsunya tidak ada di rumah. Maka ia cari di rumah sebelah kiri rumah. Yang memang sering main sama Anah dan Monik, namun tidak ada.


Saat akan ke rumah Sarwadi lewat belakang rumah dan ketemu lah mereka. Setelah bertanya pada Sarwadi, dan di jawab tidak ada. Akhirnya bu Sarinem cerita pada Sarwadi, mengenai Anah dan Udin.

__ADS_1


"Bibi Anah sama Udin lagi di rumah bude Parti, barusan saya mampir. Ternyata dari siang Anah dan Udin main di sana. Tadi saya sudah bilang kalau bibi lagi mencarinya. Saat Anah akan jawab, langsung di jawab bude."Adu Sarwadi.


"Memang bude jawab apa Anah kan bisa jawab dan langsung pulang?"tanya bu Sarinem.


"Begini bi," Sarwadi menceritakan semua ucapan bu Parti. Hal itu membuat bu Parti langsung naik darah.


"Ya sudah, terima kasih ya sudah kasih tau keberadaan Anah."Ucap bu Sarinem, ia menahan amarahnya di depan Sarwadi.


"Iya bi, ya sudah saya mau cari rumput dulu."Pamitnya Sarwadi.


"Ya Sar hati-hati."Kata bu Parti.


Sarwadi pergi, bu Sarinem masuk. Lalu mem beres kan bekas bekal tadi siang. Setelah cuci piring dan bekas bekalnya, Anah datang bersama Udin.


Udin masuk lebih dulu, mereka masuk lewat pintu belakang. Dan pintu itu yang terhubung dengan kamar mandi.


"Kletuk"


"Sakit bu ke..."Belum ngomong sudah di samber.


"MASIH INGAT PULANG KAMU? APA IBU TIDAK PERNAH NGASIH KAMU MAKAN? SAMPAI KAMU MINTA MAKAN SAMA ORANG KAYA ITU!"Bentak bu Sarinem pada Anah.


"Aku makan karena tidak enak bu sama bude setiap ke sana di suruh makan hizs hizs." Anah menjawab sambil sesenggukan.


Bu Sarinem jadi geretan sama Anah, langsung menarik kuping Anah, lalu di cubitin paha nya sambil ngomel. Melampiaskan amarahnya pada Anah, dengan kemarahan nya ke pada kakak nya itu.


"Lagian kamu ini punya kuping itu di pakai kenapa. Di ajak ke kebun tidak mau tapi ini kaki malah buat kelayapan cari permusuhan." Omel bu Sarinem pada Anah.


"Ampun Bu, aku tidak akan mengulangi lagi. Huhuhuhuhu menangis Anah sejadi-jadinya.


Bertambah lah kebencian itu di hati Anah. Selama ini ibu belum pernah, memarahi Anah seperti itu. Membuat Anah semakin yakin jika dirinya bukan anak kandungnya.

__ADS_1


Anah duduk di dekat pintu menangis sejadi-jadinya, kedengaran sangat memilukan.


Udin hanya mendengar kemarahan dan tangis. Itu masuk ke kamar bersembunyi, dia juga menangis takut di marahin ibunya juga. Karena dia ikut ke rumah budenya, tapi ternyata tidak.


Setelah memarahi Anah bu Sarinem mandi, lalu mengajak Udin mandi. Karena sudah sore, sebentar lagi pak Jumadi dan Monik nenek juga pulang.


Anah mengambil tanggung itu lalu mencuci dan menyimpan di rak piring. Setelah itu dia masuk kamar mengambil pakaian dan mandi.


"Ini memang sudah menjadi TAKDIR KU menjadi anak malang nasibnya. Entah ini nyata atau tidak aku punya orang tua yang tidak pernah menyayangi ku sepenuh hati. Aku tidak akan pernah membenci mereka seumur hidupku jika mereka baik dan sayang. Aku juga tidak tau ini orang tua kandung ku atau angkat ku."Kata Anah dalam hati yang penuh kesedihan.


Malam hari Anah tidak keluar sama sekali dari kamar meratapi nasibnya sendiri. Tidak perduli orang yang berada di ruang tamu pada nonton TV.


"Anah ke mana kok gak keluar kamar dari tadi Jum?"tanya Nenek.


"Di kamar tadi habis di amuk sama ibunya, jadi masih milih di kamar. Nanti kalau sudah adem pikiran nya juga keluar kamar. Kalau lapar juga makan, dia belum makan malam.


Deg


Bu Sarinem menoleh ke pak Jumadi, bingung tau dari mana suaminya. Padahal dia belum cerita pada suaminya, dan tidak lihat suaminya ngobrol sama Anah.


Karena yang pak Jumadi dan Anah tidak pernah ngobrol lagi. Kalau tidak perlu banget, terakhir Anah masih kecil.


"Tadi si Udin yang bilang, mbak Anah nangis di marahin dan di jewer kupingnya."Kata pak Jumadi yang tau tatapan istrinya.


"Lain jangan terlalu, dia kan sudah besar. Jangan kan di pukul atau di jewer, di bentak dan di marahin ajak sudah nangis. Bahkan sakit hati yang berkelanjutan, aku cuma takut itu anak lebih membenci kita. Dan tidak mau mendengar nasehat orang tua lagi."Kata pak Jumadi, yang mengetahui perubahan Anah.


"Ada juga kalau dia membenci kita dia juga yang rugi. Orang tua tidak ada yang ingin anaknya terjerumus. Atau melakukan yang tidak baik, dia menjadi keras kepala begitu karena mas bukan aku."Kata bu Sarinem yang tidak mau di salah kan sendiri.


"Iya aku memang salah, tapi kamu malah lebih parah dari aku. Biar pun aku membuat kesalahan juga tidak pernah memukul dan memakinya."Kata pak Jumadi lebih tidak mau di salahkan.


Akhirnya setelah berdebat, menjadi hening tidak ada yang di bahas. Bu Sarinem juga merenungkan semua yang di lakukan pada Anah tadi sore.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2