TAKDIR KU

TAKDIR KU
148.INGIN MENGAKHIRI HIDUPNYA


__ADS_3

"Namanya baru mengenal cinta Ci, apa yang di katakan orang tidak akan di terima. Apa lagi diri sendiri belum melihat kenyataan langsung."Kata Koko Dion.


"Ya begitulah," Cici Sahita sudah tidak lagi membahas tentang Anah. Karena mereka sudah sampai di tempat tujuan, yaitu gereja untuk melakukan kewajiban nya.


Sementara Anah merasa malu saat menunggu Hendra tak kunjung tiba. Bahkan sudah dua jam menunggu, Anah pergi meninggalkan tempat itu.


Anah berjalan menuju ke tempat kerjanya Hendra, ketemu dengan Dani. Bertanya keberadaan Hendra, Dani mengatakan bahwa Hendra sudah pulang dari jam 5 sore kemarin. Dan menyatakan bahwa Hendra pulang setelah menerima gaji terakhir kalinya.


"Apa dia tidak lagi kerja di sini?"tanya Anah dengan perasaan sedih.


Karena kini dia baru percaya dengan apa yang di katakan oleh Edi. Dan semua nasehat para majikan nya, terutama pada Cici Sahita.


"Tidak dia keluar, katanya akan cari kerja yang dekat rumahnya."Jawab Dani, dengan senyum yang tidak bisa di artikan.


Anah melihat senyum Dani dan yang lain. Kecuali Edi, karena Edi hanya menatapnya dengan tatapan datar. Tanpa kata lagi Anah balik badan dan melangkah pergi. Tapi bukan untuk pulang ke tempat kerja nya melainkan pergi kearah lain.


Edi tidak mendekat sama sekali, dia merasa kecewa dengan sikap Anah. Yang menganggap dirinya telah membohongi dirinya, dengan menjelek-jelekkan Hendra di belakangnya. Padahal dia sayang dengan Anah, tidak ingin hal ini terjadi. Karena tidak ingin Anah sakit hati, putus cinta dan patah hati.


Anah duduk di pinggir jalan kota baru, tepat di bawah pohon besar. Anah merenung di sana, meratapi nasibnya yang selalu menyedihkan. Dari ia masih kecil sampai sekarang, ingin merasakan hidup bahagia. Mendapatkan apa yang ia inginkan, namun semua seakan tak berpihak padanya.


Hingga kepalanya pusing memikirkan semua hal yang telah terjadi. Dalam kepusingan memikirkan nasibnya, hinggap lah pikiran buruk. Terbesit dalam pikiran, andaikan dia m*ti pun tidak akan ada yang perduli. Pikiran buruk beberapa tahun lalu, saat dia di khianati oleh bapaknya. Semakin berputar, menangis pun tidak akan merubah apa pun.


Kini matanya menatap ruas jalan besar bahkan ramai sekali kendaraan roda empat lainnya. Anah beranjak berdiri dari duduknya, lalu melangkah menuju ketengah jalan. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasanya sakit hati bertubi-tubi.

__ADS_1


Yang selalu berujung dengan kekecewaan yang teramat dalam. Mungkin dengan dia menabrak kan diri, pada mobil. Ia tidak akan pernah lagi sakit hati, kecewa dan menderita. Namun saat Anah ingin melangkah, kakinya terasa berat. Bahkan sangat sulit untuk di gerakkan untuk maju. Berulang kali ia mencoba tidak bisa, namun di gerakkan mundur bisa.


Dari itu Anah mundur dan duduk kembali, menangis sejadi-jadinya. Apa yang terjadi pada dirinya saat ini, ia sangat bingung. Bahkan ingin mengakhiri hidupnya saja juga tidak mudah di lakukan.


"Ya Allah kenapa aku begini, lebih baik aku m*ti saja. Aku sudah capek hidup dalam kesedihan, kekecewaan, dan penderitaan yang tiada habisnya."


Bruk


"Aaahk..." Teriak Anah, saat ada ranting pohon jatuh dan mengenai kepalanya.


"Ya Allah sakit kepala huhuhu." Anah menangis kembali sesenggukan, sampai siapa pun lewat melihat dirinya yang menangis. Ada yang iba ada juga yang mengejek, lewat tatapan matanya.


Setelah tenang dengan tangisnya, Anah merenung apa yang terjadi barusan adalah teguran untuk dirinya. Karena sudah protes dengan ketetapan Allah, yaitu takdir setiap manusia. Ya takdirnya setiap manusia itu berbeda-beda.


Saat Anah melakukan aksi b*ruh diri tadi bertepatan dengan adzan Dzuhur. Entah apa yang terjadi pada Anah, apakah ini sebuah teguran dari yang Maha Esa. Bahwa perjalanan hidupnya masih panjang dan akan ada kebahagiaan yang ia harapkan.


Setelah selesai dengan renungan nya, Anah sadar akan keberadaan nya di mana. Melihat sekitar dia berada, tidak tau ada di mana. Bisa di bilang kesasar, karena dia tidak tahu saat ini di mana. Dia hanya mengikuti langkah kaki dengan tatapan kosong, saat ia pergi tadi.


"Ya Allah.... Aku berada di mana ini." Tidak pernah pergi kemana-mana, selain komplek tempat ia tinggal. Anah mengingat-ingat tadi dari arah mana ia jalan. Sepuluh menit kemudian, setelah ia merekam ulang kejadian tadi. Kini dia ingat, dia berjalan dari arah kiri. Jika ingin kembali ke rumah majikannya, Anah harus berjalan arah balik.


Anah menelusuri jalan itu dengan kesadaran nya. Sampai dia melihat pasar baru Jakarta pusat, yang Anah hafal jalan pulang. Karena memang Anah sering ke pasar baru kalau jalan bareng temen nya. Siapa lagi teman Anah, kalau bukan para baby sitter yang kerja dengan Cici Junita.


"Alhamdulillah ketemu deh jalan pulang, setelah berjalan lebih dari setengah jam. Terus aku tadi berada di mana ya? kok gak kenalin sekalian ya, dasar bodoh."Anah bersyukur sekaligus memaki diri sendiri.

__ADS_1


Memilih ke toilet umum dulu buat cuci muka, setelah itu ia baru pulang. Dari pasar baru ke rumah majikannya hanya di tempuh 20 menit.


"Anah kamu kemana saja sampai jam segini baru pulang?"tanya nyonya Kristine.


"Aku jalan-jalan dulu Nya."Jawab Anah dengan wajah datar.


Ya Anah berusaha menutupi semua masalah yang sedang di hadapi. Karena tidak ingin di tertawa kan, maka dari itu ia melupakan semua masalah nya hari ini. Bukan berarti akan hilang dari ingatan nya, sampai seumur hidupnya kejadian ini tidak akan pernah bisa ia lupakan.


"Terus bagaimana dengan calon mertua mu? Apa mereka baik?"tanyanya lagi, matanya melirik Sahita. Agar tidak bersuara sedikit pun, saat di hadapan Anah.


"Saya tidak jadi ke sana, karena saya pergi ke suatu tempat yang tidak pernah saya lupakan. Setelah menunggu Hendra dua jam tidak datang. Saya permisi dulu ya Nya, tanda belum sholat Dzuhur. Mumpung masih ada waktu saya mau kerja kan." Tanpa menunggu jawaban dari nyonya nya langsung naik kelantai dua.


Dan masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Kemudian turun kembali karena kamar mandi hanya ada di lantai bawah. Segera mandi kilat kerena mengejar waktu, yang memang sudah mepet.


Setelah sholat Dzuhur dan Ashar Anah, langsung mencuci pakaian yang sudah antri. Sore ini Anah, mengerjakan semua kerjaan Anah.


Dari jauh ada empat mata yang terus memperhatikan Anah. Siapa lagi kalau bukan Edi dan dan Dani. Dari arah yang berbeda juga ada yang mengamati Anah. Dia heran sejak pagi tidak melihat Anah, begitu melihat Anah lagi mencuci pakaian.


Anah mencuci tidak dengan tangan total, tapi pakai mesin cuci 2 tabung. Maka Anah bisa sambil santai melihat pemandangan dari atas. Tapi itu biasanya, tidak untuk sekarang. Anah sambil menunggu cucian Anah pun mencuci bajunya sendiri. Setelah selesai menyiram tanaman yang di atas kemudian yang di bawah.


Maka hal itu yang membuat orang yang di seberang heran, karena tidak biasanya Anah terlalu fokus dengan pekerjaan.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2