TAKDIR KU

TAKDIR KU
53.BU ANAH PANAS


__ADS_3

Nenek ke dalam mengambil sesuatu di kamar. Lalu mengajak Supri segera jalan, karena ingin segera tau keadaan anak dan mantunya.


Begitu sampai rumah pak Iman, keadaan rumah masih ramai dengan para tetangga sekitar. Nenek dan Supri langsung masuk ke kamar Susi. Terlihat Susi dan Parno masih berada di atas ranjang. Namun Susi kini berbaring, Parno mengelus kepala Susi.


"Assalamualaikum,"ucap Nenek.


"Wa'alaikumsalam," jawab yang ada di kamar.


Pak Iman dan istrinya minggir di ganti nenek yang duduk di pinggir ranjang. Di raihlah tangan Susi, di usapnya lembut. Susi mata terpejam dengan air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Di usapnya itu air mata, lalu berkata untuk menguatkan mantunya.


"Sudah nduk ikhlas kan yang sudah tidak ada.


Semoga Allah SWT berikan yang baru lagi disini." Ujar Nenek sambil mengusap perut Susi.


"Kalian juga masih muda, ini sudah menjadi kehendak Allah SWT. Jika ia sudah berkehendak, tak ada yang bisa menghindar darinya."Lanjut Nenek, hal itu membuat Parno melongo.


"T**umben mamakku berkata bijak, kesurupan apa ya. Tapi kalau di pikir ada benarnya juga sih. Kenapa harus calon anak ku yang hilang ya Allah. Apakah ini ada hubungannya dengan pak Iman... atau memang sudah menjadi takdir ku. Mau punya anak tapi gak jadi, nunggu tahun depan." Parno berkata dalam hati.


"Mamak benar dek, kita ikhlas kan saja ya. mau kita meratapi terus tidak akan kembali juga. Mungkin Allah lebih sayang dari kita sehingga Allah ambil lagi. Sekalian ini sebagai ujian untuk kita berdua dek." Parno berkata sambil terus mengusap kepala Susi.


"Sabarlah dan tawakal pada Allah. Kamu sudah sholat belum par mumpung masih ada waktu cepat sholat."Kata Nenek.


"Belum mak, terlalu fokus sama masalah ini tadi. Ya sudah mas sholat subuh dulu ya."Pamit Parno pada Susi dan jawab dengan anggukan.


Melihat Parno sudah keluar dari kamar dan jalan menuju sumur, para tetangga ada saja yang berkata.


"Apa mungkin ini termasuk santet ya?"tanya salah satu A

__ADS_1


"Huss, jaga omongan kalau pak Iman tau, nanti kan tak enak."Kata si B.


"Kita pernah denger kabar dari kampung sebelah, kalau ada pasangan suami istri. Yang ingin punya anak setelah menikah lama, namun tak kunjung punya anak. Terus datang pada dukun, lalu beberapa hari berikutnya di kabarkan hamil, itu pun perutnya sudah terlihat. Beberapa bulan kemudian melahirkan kan. Itu kalau di pikir pakai akal sehat, tidak masuk akal. Setelah kelahiran bayi itu terdengar kabar dari kampung lain ada yang hamil baru berapa bulan juga hilang. Andaikan janin itu lahir, seumuran dengan bayi yang baru lahir itu. Ada juga yang mengalami seperti itu untuk tumbal. Entah lah yang benar yang mana. Tapi tidak dapat kita pungkiri, bahwa di kampung kita juga terjadi hal yang sama."Ujar si C, panjang lebar.


ya benar juga. bisa ada yang dendam mungkin Deng pak iman. dan susi yang kena dampaknya, bisa juga orang jahat terhadap keluarga pak iman. Wallahu alam hanya Allah yang maha mengetahui dari apa yang kita ketahui." jawab yang B lagi.


Kabar ini menjadi geger sekampung, bahkan menjadi topik setiap perkumpulan dari kampung ke kampung beberapa hari ini.


...****************...


Beberapa bulan kemudian, Anah merasakan dingin dan kepala pusing. Itu ia rasakan sudah berada hari namun masih ke sekolah. Ia tak rasakan sakit itu, pikiran Anah selalu ingin ke sekolah. Biar tidak ketinggalan pelajaran, karena Anah tidak mau tinggal kelas. Yang pasti jadi ejekan teman-temannya sekelas.


"Anah, apa kamu sakit?"tanya bu ega, karena melihat Anah beberapa hari ini diam. Anah anak yang aktif dan ceria, sudah pasti tidak mau diam baik di kelas atau di luar kelas.


"Cuma pusing bu gak papa kok."Jawab Anah.


"Bu Anah panas,"lapor Angga.


Bu ega langsung bangun dari duduknya dan memegang kening Anah. Benar saja apa yang di katakan Angga.


"Kalau Anah sakit boleh pulang, nanti ibu kasih nilai bagus buat Anah. Jadi jangan khawatir ya." Bujuk bu Ega, karena Anah ke sekolah supaya dapat nilai bagus dan naik kelas.


"Nggak bu itu bukan nilai Anah." Jawab Anah.


"Karena Anah lagi sakit itu, di izinkan kok untuk tidak sekolah. Jadi pulang pun tetap dapat nilai. Mau di antar siapa Johan atau Angga, apa dua-duanya boleh. Sama kalian tetap dapat nilai, bagus seperti anah."Kata bu Ega, sengaja berkata seperti itu, supaya ada yang mau antar anah pulang. Dan memang akan di berikan pada Angga dan Johan jika Anah mau pulang.


"Nanti saja bu pulangnya."Kekeh Anah tak mau pulang.

__ADS_1


Itu yang membuat para guru senang, dengan semangat Anah. Namun semua orang tau jika Anah, anak yang rajin sekolah meski tak dapat juara.


...****************...


"Pak katanya Inem itu lagi ngisi lagi lo pak."Kata bu Parti.


"Ya biarin bu, dia hamil ada suaminya, lain soal kalau dia hamil dari laki-laki lain."Jawab pak Harto.


Bukan gitu pak maksudnya. Masak dia mau lahiran di tengah kebun begitu."Seperti tidak suka. Biar bagaimanapun adiknya, setidaknya di tempat lebih layak.


"Kan dia yang mau, toh dia aja tidak keberatan. Suaminya ajak blusukan kebun. Apa kamu lupa, Monik pun lahir di tengah hutan. Tidak ada rumah yang dekat, sama saja dengan sekarang. Bedanya di sini kebun bukan hutan. Setelah lahirnya baru pindah ke kampungnya, yang di tempati Anah."Kata pak harto.


"Ia ya pak, kemarin Jumadi tanya dukun bayi yang nolong aku lahiran. Rumahnya di mana? tak bilang saja tidak jauh dari rumah Yatno. Kalau mau tau, tanya Yatno."Cerita terus sama pak Harto.


Kuakui dia itu pekerja keras, pantang mundur. Seperti nya dengan kehamilan Inem yang sekarang, Jumadi benar-benar semangat untuk persiapan yang matang. Mudah mudahan anaknya laki-laki biar tambah semangat dia. Giliran kita perempuan yang bontot, eh tapi jangan bontot deh bapak pengen perempuan satu lagi."Ujarnya


"Lah aku harus lahiran lagi gitu pak, anak dah banyak juga pak."Protes bu Parti.


"Apa salah nya, kita itu banyak bu kebunnya, jangan takut kekurangan."Tak mau kalah.


"Ya kalau ibu keberatan, bapak tinggal nikah lagi. Siapa tau malah dapat yang lebih muda. Kan bapak bisa dapat banyak jatah dan anak yang lebih dari satu."Kata pak Harto, yang memang ingin punya anak perempuan lagi.


Memberikan tawaran pada istrinya, mau punya anak lagi atau ia menikah lagi.


"Ya jangan pak, aku gak mau bapak madu. Iya deh aku mau, demi bapak tidak nikah lagi. Tapi nunggu Rasti besar ya?"tawar bu Parti.


"Nah gitu dong, itu baru istri tercinta."Senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2