TAKDIR KU

TAKDIR KU
58.APA DIA PUNYA MATABATIN


__ADS_3

Pak jumadi jalan ke arah sumur, lalu ia menimba air untuk mandi dirinya dan istri. Kini ia sudah selesai mengisi semua bak dan ember penuh.



gambar hanya pemanis


Setelah mandi dan sholat, kini pak Jumadi mengambil nasi dan lauk. Ia makan di dapur duduk di dekat tungku, dengan mata menatap api di dalam tungku itu. Entah apa yang ia pikirkan hanyalah tuhan yang tau.


Setelah makan ia mengambil nasi dan lauk lagi, dia berjalan ke ruang tamu. Sambil menyuap ke mulut sendiri, tapi hanya dua suapan saja. Kini ia duduk di depan istrinya, dan memberikan piringnya ke istrinya.


"Nih dek makan jangan sampai kamu lupa kalau kamu juga harus menjaga kesehatan.


Mas tidak mau kalau kamu ikut sakit, karena itu lebih bahaya jika kamu yang sakit."Tegas dan penuh penekanan setiap kalimat.


Bu Sarinem menerima piring dengan pelan dan susah payah ia menelan makanan. Karena apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Karena jika ia sakit maka akan berpengaruh dengan janin yang sedang dikandungnya.


Pak Jumadi tau kalau istrinya terpaksa makan, namun ia tak perduli. Karena itu yang terbaik untuk istrinya, ia tak mau jika nanti malah bahaya dengan kandungannya.


"Banyak doa saja, jangan terlalu di pikirkan. Yang penting sekarang kita sudah ada di sini kita yang menjaga. Habis makan mandi, sholat, dan langsung istirahat."Titah pak Jumadi.


"Iya mas." Jawab bu Sarinem, dan melanjutkan makannya.


Pak Jumadi naik ke ranjang tempat Anah terbaring. Ia merebahkan tubuhnya disampingnya Anah, dan mencium kening Anah. Lalu memeluk Anah, ikut memejamkan matanya walaupun tidak bisa tidur.


Ia akan membawa ke puskesmas yang ada di kecamatan. Meski di kampung sebelah ada dokter atau bidan. Namun ia ingin tau sakit apa Anah dengan begitu dia biasa me minta obat pada dokter yang di kampung sebelah. karena jika di bawa di rumah sakit, takut biayanya mahal, apa lagi harus di rawat di rumah sakit. Karena rumah sakit juga lebih jauh dan butuh dana besar.

__ADS_1


Sore hari para tetangga datang melihat keadaan Anah yang terbaring lemah. Mereka pun sampai ada yang menangis karena merasa iba pada Anah. Biasanya ia melihat Anah yang ceria dan pecicilan kini terkulai lemah, jangan kan bicara membuka matanya saja tidak.


"Kami turut prihatin mas Jum, biasanya Anah ceria gak mau diam pecicilan, cerewet."Kata pak Kardi, yang lain ikut mengangguk.


"Terima kasih pak, mas, ibu, dan mbak sudah datang menjenguk putri kami. Saya juga baru datang tadi siang, di jemput atau tidak. Memang niat saya dan istri hari ini pulang. Karena sudah beberapa hari terakhir saya dan istri tidak enak makan dan ke pikiran Anah terus. Bahkan saya kaget karena parno datang ke gubuk kami. Pikiran makin tidak karuan saya, sampai sekarang belum tidur. rencananya besok mau saya bawa ke puskesmas yang di kecamatan itu. Mohon doanya semoga lancar di perjalanan tidak kurang suatu apapun."Kata pak Jumadi pada para tetangga sekitar.


"Ya semoga selamat pulang pergi dan anah bisa cepat sembuh."Jawaban kompak dari para tetangga.


"Berhubung sudah mau magrib kami pulang ya mas Jum, mbak Inem."Satu persatu pada salam pada nenek, bu Inem dan pak Jumadi. Tidak ketinggalan mereka ada yang mengusap kepala Anah ada yang mencium kening Anah. Kebanyakan yang mencium kaum ibu, karena mereka sesama perempuan dan lebih berperasaan.


"Ya terima kasih bapak, ibu, mbak, mas sudah menyempatkan waktu."Ucap pak Jumadi.


"Sama sama mas." Kata mereka dan berlalu pergi.


"Masya Allah mas, ini mereka yang taruh sini untuk Anah."Kata bu Sarinem.


"Alhamdulillah itu rejekinya, kamu kumpulin. Di samping nanti, kalau sembuh tanyakan padanya ya. Jangan di pakai berobat, kalau buat berobat nanti masih ada, kalau kurang gampang." Kata pak Jumadi.


"Maksudnya mas?" bingung juga kok suaminya bilang gampang.


"Nanti kita jual ladang yang di belakang rumah mbak yu Marni aja ya."Kata pak Jumadi.


"Ya sudah jika itu yang terbaik, toh kebun itu di urus sama Heri, sekalian saja Heri suruh bayarin dua kali."Kata bu Sarinem.


Nenek yang selama ini hanya taunya yang jauh saja. Ia hanya jadi pendengar saja dari tadi. Bahkan nenek tidak bicara jika tidak di ajak bicara.

__ADS_1


"Sudah itu gampang nanti di pikirkan, sekarang kita sholat magrib, habis itu makan. Karena sebelum isya besan ke sini bawa rombongan. Kamu masak air lagi biar nanti pas tamunya datang, pas air matang. Gula masih apa gak, kalau habis nanti mas yang beli habis makan."Kata pak Jumadi.


Gula pasir masih ada Jum kemarin mamak belanja dobel. Apa besan beneran mau kesini? perasaan tadi Parno gak ngomong apa-apa."Kata Nenek.


"Gak harus ngomong, kayak tadi warga sekitar. Mereka datang juga gak ada yang kabari bahwa mereka mau datang to. Kalau besan pasti datang apa lagi tadi Parno sudah pulang Parno pun nanti ikut. Bahkan dia dan istrinya mau nginep, dah ayo siap sholat nanti gantian sama ibunya Anah."Kata pak Jumadi, sambil menarik tangan mamaknya.


Sedangkan bu Sarinem bingung sendiri, suaminya akhir-akhir ini kalau ngomong selalu pas."Apa dulu bapak yang kasih kan ke suamiku. Karena bapak pernah bilang kalau aku belum cukup umur. Sudah gitu bapak bilang aku perempuan, yang bagus lagi laki-laki. Mas Jum kan kesayangannya bapak biarpun bukan anak kandungnya. kalau bukan dari bapak apa dia punya matabatin atau semacamnya."Berkata dalam hati. Ia masih memikirkan seputar suaminya, tapi semua buyar karena di tepuk dengan suaminya.


"Gak usah mikirin yang tidak penting sana ambil wudhu sholat. Magrib-magrib ngelamun gak baik." Ujar pak Jumadi.


"I iya mas," tersenyum tapi terpaksa juga.


"Gak usah senyum kalau gak ikhlas dek."Tegas pak Jumadi. Membuat bu Sarinem merinding, sambil terus berjalan menuju sumur.


Pak Jumadi sengaja tegas pada istrinya, supaya istrinya tidak terlalu memikirkan hal tadi.


Setelah selesai makan malam, tak lama ada rombongan yang tadi di bicarakan pada pada mamak dan istrinya nya. Ternyata pak Iman bersama keluarga besar dan keluarga Roni yang memang anaknya satu kelas dengan Anah. Di tambah warga sekitarnya yang memang sudah kenal dengan pak Jumadi.


"Assalamualaikum"ucap mereka.


"Wa'alaikumsalam, mari silahkan masuk, maklum tempat nya sempit. Kita lesehan saja di tikar." Ujar pak Jumadi, mereka semua duduk kecuali Parno dan Susi. Sepasang suami istri itu langsung ke dapur untuk membantu bu Sarinem dan nenek.


"Ya gak papa mas Jum, kami malah ngerepotin mas Jum dan keluarga." Ujar pak Iman.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2